
Kini aku sudah berada di pelaminan. Namun mataku masih menatap ke arah panggung hiburan. Jelas wajahku berubah pasi dan tak ada senyuman. Hal itu membuat Zeyden dan kedua kakakku khawatir. Air mataku hendak meleleh lagi namun Zeyden menggenggam jemariku. Itu membuat aku kuat.
Kak Bryan berdiri disampingku saat foto keluarga akan diambil. Dia membuat senyuman di wajahku dengan tangannya.
"Senyum dong, ini hari bahagia lo. Ini foto keluarga, lo harus tersenyum." bisiknya dan aku mencoba tersenyum demi kakakku.
Selesai berfoto aku kembali lagi murung. Mataku masih tak lepas dari sosok itu. Air mataku ingin meleleh kembali, ketika sebuah lagu dinyanyikan oleh penyanyi dipanggung hiburan. Itu lagu dari grup band wali judulnya aku sakit.
Aku menarik dan menggenggam tangan Zeyden yang sedang bersalaman dengan tamu. Zeyden menoleh dengan bingung seraya berkata "Kenapa sayang?".
Aku diam saat ditanya, membuat semua tamu yang berada di atas pelaminan ikutan bingung. Anyelir, Zoan dan kedua kakakku berlari ke arahku. Aku juga melihat sosok yang tak lepas dari mataku berlari dari pojok panggung.
"Berhenti.." teriakku membuat semua orang kaget dan bingung.
Teriakkanku membuat langkah sosok itu berhenti, begitu juga dengan kedua sahabat dan kakakku. Zeyden langsung memelukku, disanalah aku menangis. Zeyden langsung membawaku duduk dan memberikan minum.
"Tenangkan dirimu sayang." pintanya padaku sambil mengelus punggung dan mencium keningku. Aku mengangguk dan Zeyden pun menghapus air mataku.
"Cukup menangisi dia. Aku nggak sanggup lihat kamu seperti ini sayang." batin Zeyden.
Anyelir langsung menghampiriku dan langsung memelukku. Kedua kakakku dan Zoan sudah di depanku kini, mereka juga mengelus kepala dan pundakku.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang?" ujar kedua kakakku serentak, aku diam saja.
"Are you okey, Ka?" ujar sahabat laki-lakiku dan aku mengangguk.
Bum..
Seperti dihantam batu ratusan kilo saat aku berdiri dari bangku dan ku lihat sosok itu sudah di depan pelaminan. Air mataku mengalir tanpa henti dan jari telunjukku mengarah ke arah lelaki itu. Semua mata mengikuti arah jariku. Dengan cekatnya Kak Bryan lompat dari pelaminan dan melemparkan bogeman.
Aku histeris sejadi-jadinya walau sudah dalam pelukan Zeyden. Karena aku bersikap demikian, aku dibawa pergi dari atas pelaminan oleh Zeyden. Kak Bryan dan Gibran pun di bawa pergi. Kami semua masuk dalam satu ruangan.
Kak Bryan masih emosi, dia masih memukuli Gibran tanpa henti. Belum lagi Kak Aryan ikut memukulinya dan Zeyden sibuk menenangkanku.
Zeyden bangkit dari duduknya dan melerai mereka bertiga. Awalnya mereka sulit dilerai. Dengan sekuat tenang Zeyden berhasil.
"Cukup Kak Ryan. Mau kalian bikin matikah orang ini? Tidakkah kalian lihat adik kalian yang ketakutan, dia sangat ketakutan melihat kebringasan kalian ini." ujarnya sambil menunjuk ke arahku yang bersandar di bahu Anyelir.
"Kenapa lelaki ini bisa ada disini?" Teriak Kak Bryan.
"Dia WO kami Kak." sahut Zeyden pelan.
"Apa? Gila lo ya! Apa lo nggak tahu kisah lelaki ini?" ujar Kak Aryan geram.
__ADS_1
"Awalnya aku nggak tahu kak, sampai akhirnya Priya menceritakan semuanya setelah Anyelir meminta menghandle acara kami." jelas Zeyden dengan jujur.
"Gila. Dan lo brengsek, ngapain lo disini? Ngapain lo deketin Ade gue lagi! Lo kan udah tau dia sudah menikah." Ujar Kak Aryan setengah berteriak.
"Awalnya gue nggak tau klien gue mereka. Tapi saat tahu itu Priyanka, my princess, gue jadi makin semangat buat bisa deket sama dia lagi. Siapa tahu masih bisa merebutnya dan mengembalikan keadaan seperti dulu. Gue nyesel banget Ryan.." ujarnya dengan perlahan dan menahan sakit di bibirnya yang masih mengeluarkan darah.
"Ijinkan gue meminta maaf sama my princess ya!" serunya tanpa rasa malu.
Saat dia melangkahkan kakinya mendekatiku. Bahunya ditahan oleh Zeyden dan tangannya dintarik oleh Kak Bryan. Dia menoleh dan memasang wajah melas. Tapi tak digubris oleh kedua lelaki itu.
"Cukup ya, Bran. Belakangan ini gue sering lihat istri gue, nangis nggak jelas karena lo. Sekarang selesai sudah. Nggak bisa gue liat air matanya jatuh lagi." tegas Zeyden dan membuat aku menatap dia dengan kagum.
"Biarkan gue bicara sama Priyanka. Gue mohon." ujarnya dengan lirih dan menahan sakit di bibirnya serta menatap ke arah orang-orang yang menghalanginya.
"Nggak, Bran. Kalo lo mendekat dia akan kembali menangis. Liat lo dari jauh aja dia nangis, gimana dari dekat." ujar Zeyden penuh kekhawatiran.
"Gue emang nggak bisa mastiin hal itu, tapi ijinkan gue berusaha untuk bicara padanya." pintanya dengan melas.
"Kak, biarkan Priya dan Gibran bicara berdua ya. Biarkan mereka menyelesaikan urusan yang belum kelar. Lo juga harus ke pelaminan duluan, kasihan para tamu. Gue dan Anyelir akan menemani Priya." ujar Zoan dengan kebijaksanaannya dan itu disetujui oleh para lelaki itu.
Kedua kakak, sahabat dan Zeyden meninggalkanku berdua diruangan itu. Sahabatku menunggu di luar ruangan. Aku yang masih menitikkan air mata, menunduk dan enggan menatap Gibran yang semakin mendekat.
__ADS_1