
Semua sudah berkumpul di ruang keluarga, begitupun dengan aku yang sudah lebih baik. Kami tertawa bersama sambil menikmati kebersamaan yang seakan tiada habisnya. Tiba-tiba Zayyan berlari ke arahku sambil memeluk serta menciumi wajahku tanpa henti, hal yang membuat aku aneh.
"Sayang, kenapa kayak gini? kamu baik-baik aja kan?" ujarku dengan wajah khawatir dan berusaha mendorong badan putraku agar aku bisa menatapnya.
"Ma, jika Zayyan tinggalin Mama dan Papa. Mama akan sedih tidak?" tanyanya membuat aku membulatkan mata.
"Kakak kenapa bicara seperti itu?" tanya Zeyden yang mulai menghampiri duduk kami.
"Aku mau seperti Papa. Tapi..," ujarnya terputua.
"Tapi apa sayang?" tanyaku dan Zeyden serempak.
"Tapi Zayyan akan jauh dari kalian. Zayyan boleh ikut tinggal sama Daddy Ar?" ucapnya dengan mata berbinar-binar.
"Huh! Sayang, tetap disini saja ya. Sekolah disini. Nanti kalo Kakak sudah besar seperti Papa, baru susul Daddy, okey sayang." tutur Zeyden dengan membuang nafas berat.
"Tapi Pa. Kakak mau sekarang." gerutu Zayyan ke Papanya.
__ADS_1
"Kakak, dengerin Daddy Bi ya. Yang dibilang sama Papa kamu bener sayang. Emangnya Kakak tega ninggalin Mama yang baru sembuh dari sakit. Hem?" ujar Kak Bryan menasihati putraku.
"Kesayangannya Daddy Ar, dengerin Daddy ya. Daddy seneng banget kalo Kakak mau ikut sama Daddy dan Mommy tapi yang dikatakan Daddy Bi juga Papa benar sayang. Ikut Daddynya kalo sudah besar saja ya. Sekarang Kakak jagain Mama dulu disini. Daddy janji sering-sering telepon Kakak. Gimana?" nasihat Kak Aryan dengan penuh kelembutan.
"Angan pegih ya akak ayan. Gia sayang akak." celetuk Anggia sambil memeluk kakaknya.
"Daddy sama Papa janji ya sama Kakak. Jika kakak besar nanti, kakak boleh susul Daddy," ujar Zayyan dengan penuh semangat.
"Janji." seru ketiga lelakiku secara serempak.
Zayyan kembali bermain dengan adik-adiknya di ruang bermain. Aku menatap tajam ke arah Kak Aryan seakan minta penjelasan. Kak Aryan yang merasa sedang di tatap memilih menundukkan pandangannya serta mengalihkan obrolannya menjadi masalah kerjaan.
"Bi, are you okey?" tanya Ayah dan Bunda kompak.
"I'm okey. Tapi pangeran mahkota yang terancam nyawanya." ujarnya sambil kembali tertawa. Anyelir langsung menutup mulut Kak Bi.
"Sorry!" lirih Kak Aryan dengan nada sangat pelan.
__ADS_1
"Apa?" teriakku seakan tak mendengar.
"Sorry my princess." ucapnya dengan suara lantang.
"Kita pergi yuk, biarkan kakak adik ini menyelesaikan urusannya." ucap Ayah mengajak semua pergi dan meninggalkan aku bersama kakak tertuaku.
"Aku hanya tidak ingin jauh dari Zayyan. Hanya itu alasanku De. Benar-benar hanya itu." ujarnya sambil bersimpuh di depanku dan aku masih menatapnya tajam.
"Tega ya kakak berpikir seperti itu. Mau memisahkan aku sama anak aku sendiri." ucapku sangat tegas.
"Bukan gitu maksud ka.." ucapnya terpotong.
"Tau ah, ade kesel sama kakak. Kalo ade nggak sakit pasti Zayyan sudah kakak bawakan?" ucapku sedikit menyelidik.
"Ya, nggak juga de. Kan berkas-berkasnya belom kelar masih proses!" ujarnya dengan penuh kejujuran.
"Jadi berkas-berkas lagi diproses tanpa bilang sama aku atau Zeyden?" sahutku setengah berteriak membuat Zeyden menghampiriku karena mendengar namanya dipanggil.
__ADS_1
"Ada apa sayang?" tanya Zeyden dengan wajah khawatir.