Relung Langit

Relung Langit
S2 Part 25


__ADS_3

Hai kesayanganku.. maaf ya beberapa hari nggak up.


Nah, selamat membaca


                                                                    ***


Tinggal di rumah mertua membuat Gara nyaman tidak nyaman. Terbiasa dengan kasih sayang dan perhatian berlimpah juga selalu mengutamakan sarapan juga makan malam bersama. Itu membuat rasa kekeluargaan selalu melekat dalam hidup lelaki tampan tersebut. Hanya saat mereka dalam perjalanan keluarlah perpisahan itu terjadi. Namun, hal itu tetap di rasakan oleh anak-anak keluarga Zeyden, di mana mereka berada akan selalu menanyakan sudah makan atau belum. Hal sepele tetap saja menjadi kebiasaan dalam keluarganya.


Di sini tak ada hal itu. Sarapan ataupun makan malam kadang bersama kadang tidak. Kedua orang tua Chiara selalu lebih dulu memakan makanannya tanpa menunggu anak dan menantunya. Gara juga jarang sekali  berdiskusi dengan ayah mertuanya. Selain perbedaan pekerjaan juga rasa sungkan kepada sang menantu itu yang membuatnya enggan berdiskusi. Perhatian ibu mertuanya juga terkadang hanya ketika Gara membawakan sesuatu untuknya jika tidak jangan harap Gara mendapatkan hal itu.


Di rumahnya kini ia mendekati sang mama untuk bercerita keluh kesahnya. Selama ini selalu ia tahan tak ingin membuat istrinya tidak enak. Senyuman yang selalu ia berikan terkadang adalah senyuman palsu. Berbeda dengan senyuman ketika bersama keluarganya sendiri. Priyanka yang sedang berada di dapur mendadak di tarik


tangannya oleh Gara dan membawa sang mama ke ruang kerja sang papa.


“Kenapa sayang? Sampai narik tangan mama gini,” ujar Priyanka yang langsung duduk di bangku kebesaran Zeyden saat Gara menutup pintu dan tak lupa menguncinya.


“Hm, Ma. Salah nggak kalau aku mau curhat sama mama?” tanya Gara sambil menghampiri sang mama dan Priyanka menggelengkan kepalanya.


“Boleh Gara meluapkan isi hati Gara selama ini kan, Ma? Masih bolehkan Gara curhat sama Mama walau Gara sudah menjadi seorang suami?” pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan Gara membuat Priyanka mengernyitkan dahinya. Gara bersimpuh di kaki sang mama dan menaruh kepalanya di paha ratu hatinya itu.


“Ada apa? Kenapa kesayangan Mama sampai menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu?” sambil mengelus kepala sang putra dan ia merasakan ada yang jatuh ke rok yang ia kenakan. Kedua tangan Priyanka dengan cepat langsung menangkup wajah Gara dan mengusap air mata kesayangannya itu.


“Apa aku sudah tidak boleh menangis lagi karena sudah menjadi seorang suami?” hanya anggukan yang diberikan oleh Priyanka dan langsung menyamakan duduknya dengan sang anak serta memeluknya.


“Segitu beratkan beban yang kamu rasakan sayang? Tak pernah mama melihat kamu menangis lagi. Kenapa kamu


menangis sampai seperti ini?” batin Priyanka yang terenyuh dengan sikap sang anak.


Gara pun menceritakan perasaannya yang mulai tak nyaman tinggal di rumah sang mertua. Sikap kedua mertuanya yang mulai membuatnya merasakan hal itu. Sang mama hanya tersenyum mendengar penuturan putra kesayangannya itu. Ia ingin keluar dari rumah itu dan pindah ke apartemen miliknya namun Chiara masih tidak mau


pindah. Lelaki itupun tak ingin membuat hati isterinya bersedih dengan kepergian mereka yang tinggal di apartemen Gara.


Belaian yang diberikan di kepala putranya mampu membuatnya sedikit lebih tenang. Terlebih lagi ia telah mengeluarkan keluh kesahnya. Sesak di dada yang selama ini ia rasakan pergi entah kemana.


“Sudah tenang sayang?” tanya Priyanka dengan tatapan teduh dan diangguki oleh sang putra.


“Dengarkan mama. Kamu bicarakan baik-baik sama Chiara, kalau kamu setuju nanti biar mama bantu menjelaskan sama dia. Bahwa isteri itu harus ikut apa kata suaminya. Bagaimana keputusanmu sayang?” tutur Priyanka yang tetap meminta pendapat sang putra.


“Mama saja yang bicara ya!” ujar Gara sambil memegang tangan sang mama dan dianggukinya.


                                                                               ***


Di ruang keluarga semua berkumpul diiringi canda tawa begitu juga dengan Gara yang sudah kembali ceria. Chiara dan Aleta yang menemani trio kurcaci pun tertawa mendengarkan celotehan dari Rakha juga Rohan yang menceritakan kejadian lucu. Priyanka yang menaruh kepalanya di pundak Zeyden menatap Gara dengan senyuman bahagia.

__ADS_1


“Kamu ceria lagi sayang. Mama senang lihatnya.” Batin Priyanka.


“Chiara, temenin mama yuk.”  Ajak Priyanka sambil menganggukkan kepalanya dan disambut baik dengan sang menantu sedangkan Aleta hanya tersenyum melihat ipar juga mertuanya berlalu.


Aleta tak pernah curiga sedikit pun kepada sikap Priyanka, karena ia tak pernah dibedakan oleh sang mertua. Ia sudah paham jika ada yang ingin dibicarakan berdua oleh sang mama mertuanya itu. Sama ketika sang mertua ingin berbicara berdua dengan salah satu anaknya. Jadi sedikit pun tak menaruh curiga.


Priyanka sengaja membawa Chiara ke kamar tamu terdekat dengan ruang keluarga. Keduanya duduk di ranjang yang tak terlalu besar itu. Chiara menatap heran akan sikap sang mertua akhirnya angkat bicara.


“Ada yang bisa Chiara bantu ma?” tanya Chiara perlahan.


“Sayang, sebelumnya mama minta maaf jika mama ikut campur dalam rumah tangga kamu. Sayang Gara sudah cerita semuanya, mama tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja tugas dan kewajiban isteri adalah mengikuti perkataan suaminya. Ketika seorang gadis menikah maka tanggung jawab kedua orang tuanya telah berpindah ke


suaminya, begitu juga dengan surganya. Dulu ketika masih menjadi anak surganya ada di orang tua, tapi ketika menjadi seorang isteri surganya ada di suami. Ridho orang tua adalah ridhonya Allah ketika ia masih menjadi anak gadis, tetapi ketika menjadi seorang isteri ridhonya berada pada sang suami. Mama mengatakan ini hanya ingin kamu mendapatkan pahalanya bukan sebaliknya. Sampai sini kamu paham, Nak?” jelas Priyanka panjang lebar dan membuat Chiara menitikkan air matanya.


“Chiara telah berdosa ya, Ma. Apakah suami Chiara mau memaafkan kesalahan Chia?” isakan tangis sang menantu dan langsung dipeluk oleh mama mertuanya itu.


“Mama tahu anak mama, Nak. Dia akan memaafkanmu, belajar menjadi isteri yang baik ya sayang. Jalani rumah tangga kalian berdua di rumah kalian ya. Kamu tidak mau tinggal di sini, begitu juga dengan Gara. Jadi keputusan terbaik adalah tinggal berdua di rumah kalian. Susah senang hadapi bersama ya, saling terbuka,” lanjut Priyanka sambil mengelus kepala sang menantu guna menenangkannya dan wanita muda itu menganggukinya.


Priyanka pun menghapus air mata menantunya dan menyuruhnya ke kamar mandi untuk membersihkan jejak air matanya. Usai menghapus air matanya, Chiara dan Priyanka kembali bergabung dengan keluarganya yang lain. Semua menatap kehadiran kedua wanita cantik itu dengan senyuman manis. Priyanka hanya mengangguki kepala


memberikan informasi bahwa semua telah selesai. Gara yang mengerti maksud sang mama langsung menepuk sofa kosong disebelahnya. Chiara pun menghampiri sang suami dan langsung memeluknya erat.


                                                                                ***


Di dalam kamar Gara dan Chiara duduk di tepi ranjang sambil menggenggam jemari satu sama lain. Tangan Chiara sedikit gemetar membuat Gara menatap sang isteri. Ia mendapati air mata sang isteri yang telah mengalir bak anak sungai. Segera ia merangkul tubuh sang isteri dan mengecup kepalanya.


“Untuk apa, sayang?” sahutnya sambil mengecup kening Chiara yang semakin menjadi tangisannya.


“Kenapa kamu terlalu baik sama aku? Kenapa kamu pendam sendiri semuanya? Kenapa tidak kamu tegur aku?” rentetan pertanyaan keluar dari wanita cantik itu.


“Karena... Aku sangat mencintaimu dan juga aku tak ingin kamu terluka karena aku.” Sahut Gara dengan lembut dan menghapus air mata sang isteri.


“Aku sudah memaafkan kamu, jadi sudah ya nangisnya. Cantiknya ikutan lunturkan,” ledek Gara dan membuat sang isteri sedikit kesal hingga memukul pelan dada suaminya.


“Mana ada kecantikan akan luntur karena nangis. Memangnya mascara yang luntur terkena air!” gerutunya membuat Gara tertawa mendengarnya.


Kini keduanya pun sudah berbaikan dengan mudahnya. Pada dasarnya rasa cinta yang kuat membantu seseorang dengan mudah memaafkan kesalahan orang yang kita cintai. Ya, walau terkadang hal itu dianggap sebagai budak cinta. Sama seperti para manusia yang bertakwa, akan selalu mengikuti perintah sang penciptanya.


                                                                                     ***


Di kamar Zayyan. Aleta sedang muntah-muntah di kamar mandi membuat lelaki tampan itu kalang kabut. Terlebih sang isteri mengunci pintunya. Zayyan terus menggedor-gedor pintu kamar mandi. Ia sangat panik mendengar sang isteri terus muntah. Setelah lima belas menit di dalam kamar mandi akhirnya Aleta keluar dengan wajah yang sangat pucat. Zayyan langsung memapah sang isteri ke kasur dan membantunya berbaring.


“Sayang, kamu baik-baik aja?” tanya Zayyan yang ia sangat tahu bahwa sang isteri tidak dalam keadaan baik. “Tunggu di sini aku ambil air hangat dan segera memeriksamu ya,” lanjut Zayyan dengan penuh rasa khawatir dan hanya diangguki oleh Aleta.

__ADS_1


Zayyan melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengambil air hangat. Di dapur ia mendapati sang mama yang sedang membuatkan susu hangat untuk sang papa. Zayyan memeluk dan mencium pipi mamanya.


“Kenapa, Nak?” tanya Priyanka melihat putra sulungnya yang mendadak manja.


“Aku mau ambil air hangat untuk Aleta, Ma. Ia muntah-muntah dari tadi, sampai wajahnya pucat.” Zayyan menjelaskan kepada sang mama dengan wajah penuh kekhawatiran.


“Hm, ya sudah bawakan air hangat lalu periksa dia. Mama ke kamar dulu mengantar susu untuk papa dan akan melihat menantu mama itu.” Ujar Priyanka mengelus pipi Zayyan dan meninggalkannya sendirian di sana.


Zayyan sudah berada di kamarnya dengan segelas air hangat. Ia membantu Aleta untuk meminum air hangat dan segera memeriksa sang isteri. Dia kaget saat memeriksa sang isteri, tetapi masih ia sembunyikan karena takut apa yang ia ketahui tak sesuai dengan kenyataannya. Dia memberitahukan sang isteri bahwa ia hanya


kelelahan.


Tak berapa lama Priyanka mengetuk pintu dan segera masuk usai mendapat ijin dari si pemilik kamar.  Saat melihat sang mertua masuk ke dalam kamarnya, Aleta langsung merentangkan tangannya sebagai bentuk ia ingin dipeluk. Priyanka mempercepat langkahnya dan memeluk menantunya itu.


“Ma, mama tidur sama Leta ya malam ini?” pinta sang menantu dengan wajah memelas dan Priyanka hanya menatap sang putra untuk mendapatkan persetujuannya. Zayyan pun mengangguk menyetujui permintaan sang isteri.


“Baiklah, tapi mama ijin sama papa dulu ya, sayang!” penuh kelemah lembutan Priyanka menjelaskan pada sang menantu.


“Biar Mas Zayyan saja yang meminta ijin sekalian dia tidur di sana!” ujar Aleta tanpa menatap sang suami.


“Sayang, masa aku tidur sama papa sih?” Zayyan tak terima bila ia kembali tidur bersama dengan papanya. Sudah puluhan tahun itu terjadi, dan kini dia bukan anak-anak yang harus tidur dengan orang tuanya.


“Kamu mau tidur bertiga gitu di sini? Memangnya tidak sayang sama isteri dan mamamu jika kami kesempitan?” Aleta dengan kesal menjawab perkataan sang suami.


“Ya sudah, kamu temani papa sana. Sekalian bilang mama tidur sama Leta ya!” Priyanka menengahi perselisihan kecil itu.


Zayyan dengan malas melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya sendiri. Wajah tampannya kini terlihat muram, pertama kalinya ia diusir dari kamarnya sendiri. Zayyan mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya dan mulai memasukinya saat ia diijinkan. Zeyden kaget mendapati sang putra sulung yang masuk bukan isterinya


Zeyden bingung mendapati wajah sang putra yang muram. Dia segera menepuk kasur di sebelahnya dan si sulung segera menghampirinya. Siapa bilang seorang anak laki-laki tidak bisa manja-manjaan dengan papanya. Buktinya kali ini ia manja dengan Zeyden dengan memeluknya mencari ketenangan.


“Kenapa?” Zeyden dengan santainya menanyakan keadaan sang putra.


“Diusir sama isteri. Dia lebih memilih mama dari aku,” sontak perkataan sang putra membuat Zeyden tertawa. Putranya cemburu dengan mamanya sendiri. “Jadi malam ini aku akan tidur sama papa.” Jelasnya dan Zeyden hanya menganggukinya.


“Kenapa bisa diusir?” tanya Zeyden penasaran.


“Aku memeriksa Aleta, dan aku juga curiga dia sedang hamil pa. Besok pagi aku akan mengajaknya ke rumah sakit.” Jujur Zayyan dan mendapati sang papa menganggukkan kepalanya.


“Yuk, kita tidur besok kamu harus ke rumah sakit bukan!” Zayyan hanya menuruti sang papa.


Kini suasana rumah Zeyden kembali tenang dan sunyi. Karena semua penghuni rumah itu telah berkelana ke alam mimpinya masing-masing. Hanya sinar rembulan yang bersinar terang.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya. 

__ADS_1


Untuk like, komen, share dan vote.


Dukungan kalian ****membuat aku senang dan semangat.


__ADS_2