Relung Langit

Relung Langit
Part 23


__ADS_3

"Apa anda baik-baik saja Nyonya Zeyden?" ujarnya membuat hatiku semakin teriris mendengar kata-katanya.


"Sayang, kamu kenapa? Kalau sakit kita pulang aja ya." ujar suamiku dengan mengelus punggungku.


"Aku baik-baik aja Kak." ujarku dengan suara parau.


"Lanjutkan saja perbincangan kalian. Biarkan aku seperti ini dulu sebentar aja." ujarku kembali dengan suara sangat pelan.


"Aku khawatir sayang." ujarnya dengan nada penuh kekhawatiran.


Aku mencoba menguatkan diri dan menghapus air mataku. Aku berusaha tersenyum kepadanya. Wajahku seakan berkata aku baik-baik saja, tapi tidak dengan hatiku.


"Maafkan saya Mas Gibran, atas perilaku saya barusan. Kenalkan saya Priyanka Putria." ujarku sambil mengulurkan tangan.


"Tidak apa-apa nyonya. Senang bertemu dan berkenalan dengan anda." ujarnya membalas jabatan tangabku.


Jantungku berdetak sangat cepat. Jabatan tangan yang terasa seperti orang asing. Senyuman kamuflase yang terpancar dari kami berdua. Seakan aku sedang diuji dengan orang-orang yang spesial.


"Jangan panggil saya nyonya. Panggil Priya saja, lebih enak didengar." ujarku sambil melepas jabatan tangan itu dan dia menganggukkan kepala.


Gibran dan Zeyden membahas konsep acara untuk resepsi kami. Aku hanya diam menyimak dan menatap keduanya. Pemandangan yang indah, sayangnya hanya aku yang bisa melihatnya. Gibran yang menggebu-gebu memilihkan konsep terbaik untuk kami.

__ADS_1


Tak terasa waktu sudah senja. Perbincangan pun usai. Selesai berbincang tentang konsep acara, suamiku meminta ijin untuk ke kamar kecil sebentar. Aku dan Gibran hanya mengganggukkan kepala. Saat Zeyden pergi kesunyian terasa di meja kami, sampai akhirnya ia bersuara.


"Apa kabar kamu? Makin cantik saja." ujarnya membuat aku menunduk lebih dalam.


"Baik." jawabku singkat dan dia memegang jemariku.


"Maafin aku ya. Sudah terlambat ternyata." ujarnya membuat aku menatap ke arahnya dan aku menganggukkan kepala.


"Aku minta nomer kamu ya. Plis" ujarnya sambil menyerahkan ponselnya.


Deg.


Kuseka air mataku saat Zeyden kembali bergabung. Zeyden tersenyum dan aku membalasnya, kemudian mengajakku pulang. Aku tahu banyak tanya dalam hati suamiku. Tapi aku masih enggan bercerita, kini aku melihat tatapannya sedikit khawatir. Aku diam selama bersamanya.


Penasaran, itu satu kata yang aku yakini sedang dirasakan oleh suamiku. Tapi apa daya, aku belum mampu menceritakan segalanya. Tentang apa yang baru saja aku alami.


***


"Anyelir.." ujarku ragu.


"Ada apa? cerita aja!" sahutnya di telepon.

__ADS_1


"Kita ketemuan di tempat biasa berdua saja ya. Setengah jam dari sekarang kita bertemu." ujarku sebelum mematikan telepon.


Aku bersiap-siap akan bertemu dengan sahabatku. Limabelas menit kemudian aku telah siap, segera aku meminta ijin kepada suamiku. Dia mengijinkan, walau awalnya mau ikut tapi kukatakan ini urusan wanita. Akhirnya ia mengerti dan membiarkan aku pergi sendiri.


Aku menggunakan ojek online untuk sampai di tujuan tepat waktu. Wanita berbaju biru laut tengah duduk di dekat kaca menungguku. Saat aku masuk ke restoran itu, ia melambaikan tangannya. Wajahnya terpancar rasa penasaran.


"Dia kembali." ujarku membuat sahabatku bingung.


"Dia?" sahutnya dengan bingung.


"Iya dia, kembali lagi dalam hidup." ujarku dengan sedikit takut.


"Siapa?" ujarnya kemudian menyeruput minuman yang tadi ia pesan sebelum kedatanganku.


Aku potong obrolanku sesaat, untuk memesan makanan dan minuman. Sahabatku masih penasaran dan memberi isyarat agar aku segera melanjutkan obrolan kami. Setelah pelayan pergi kami melanjutkannya, walau aku sempat diam beberapa menit.


"Siapa?" tanyanya kembali.


"Gibran!" seruku sedikit khawatir dan dia menyemburkan minumannya ke arahku.


"Gila lo ya, maen sembur-sembur aja. Lo kira gue kemasukan." ujarku kesal karena wajahku basah.

__ADS_1


__ADS_2