Relung Langit

Relung Langit
S2 Part 16


__ADS_3

Permisi kali ini si jomblo Rakha dan Gara mau minta ijin ambil bagian nie. Mereka juga minta ambil bagian cerita kehidupan mereka. Bolehkan??


Kali ini Abang Gara dulu yang ambil bagiannya ya.


.


.


Sehari setelah semua keluarga Zeyden kembali ke Jakarta. Kini mereka semua sudah mulai beraktifitas seperti biasanya. Zayyan ke rumah sakit dan Rakha ke restonya. Sedangkan Gara akan melakukan perjalanan bisnis ke Bandung selama tiga hari.


Gara menggantikan sang daddy juga mamanya di perusahaan Opanya walau hanya sebagai Wakil Direktur. Karena tetap Zayyan yang memiliki kuasa penuh disana tetapi tidk ingin menduduki jabatannya saat ini. Jadi semua kerjaan di perusahaan di ambil alih oleh sang adik.


Anggara pergi bersama Adrian sekretaris dirinya juga Zayyan selama di perusahaan. Mereka menaiki mobil pribadi Gara dengan Adrian yang menyetir.


"Bos, loe yakin nih mau approve itu proposal dari Budiman Corp?" Ujar Adrian sedikit ragu akan keputusan sang atasan.


"Sejujurnya masih binggung gue, Yan. Bokap sih nggak setuju, tapi proposal yang diajukan sepertinya menguntungkan." sahutnya dengan sedikit cemas.


"Loe harus hati-hati nanti ya bos. Ambil keputusan sesuai hati ya. Oh iya tadi malam udah gue share kelebihan dan kekurangan Budiman Corp berikut sama siasat yang biasa mereka pakai." Adrian memberikan info semuanya kepada Gara. Karena kemarin sesampainya di Jakarta, dia langsung dihubungi oleh Zayyan dan diminta untuk menjaga adiknya itu.


**Rakha : Kak, meeting di resto aja ya, udah disiapin.


Gara : Hufh, baiklah. Thanks ya Kha.


Rakha : Siip, hati-hati ya. Tetap waspada**.


"Aish, nggak loe nggak Rakha semua mewanti-wanti gue. Segitu bahayanyakah mereka?" Gara sedikit geram karena terus diperingati.


Adrian hanya tersenyum dibalik kemudi sambil bergumam "Untung belom semua keluarga loe bos. Beuh kalo semuanya loe gimana ya?"


Adrian langsung membawa Gara ke resto sang adik sesuai perintah bosnya itu. Setelah keluar pintu tol pasteur pastinya. Gara yang masih membaca proposal dari Budiman Corp mulai memijit keningnya yang mulai pusing. Tak lama mobil itu sampai di parkiran resto khusus owner. Semua pelayan tetap ramah walau hanya beberapa orang yang mengetahui siapa dirinya itu.

__ADS_1


Adrian dan Gara langsung menuju lantai 3 dimana itu ruangan sang adik. Ia ibgin istirahat sebentar sebelum setengah jam lagi akan menemui utusan dari Budimn Corp itu. Saat Gara memegang handle pintu ruangan Rakha. Seorang karyawan resto itu mencegahnya dan memarahinya. Gara yng kesal hanya mampu membuang nafas kasar. Adrian langsung meminta sang karyawan memanggil manajer resto sekarang.


"Maaf, anda dilarang masuk ruangan ini. Ini ruangan bos kami!" seru karyawan lelaki itu sambil menahan tangan Gara.


"Maaf Mas, tolong panggilkan manajer resto ini ya!" pinta Adrian sebelum Gara menjawab apapun perkataan sang karyawan itu.


"Manajer kami sedang cuti, Pak!" sahutnya dan kata-kata itu membuat Gara memerah.


"Siapa yang bertanggung jawab selama dia cuti? Tolong panggilkan sekarang." pinta Adrian masih tetap dengan nada dantai walau terkesan dingin.


"Kalian itu siapa sih Pak? Dari tadi ngomong ngaco gitu. Udah mau main masuk ke ruangan bos kami, nyuruh-nyuruh lagi." gerutunya dengan ekspresi wajah kesal dari sang karyawan.


"Anda karyawan baru ya?" tanya Gara dengan nada dingin.


"I-iya baru dua bulan, Pak," dia sedikit gugup menjawab pertanyaan Gara.


Tanpa babibu lagi Gara langsung mengambil ponselnya dan segera menghubungi adiknya. Gara malas menjawab semua ucapan karyawan adiknya itu. Setelah tiga kali memanggil sng adik melalui sambungan telepon. Akhirnya Gara berhasil mendengar suara sang adik.


"Lama!" kata pertama yang terlontar dari bibir lelaki tampan itu dengan aura dingin.


"Yeni cuti? Kenapa nggak bilang?" tanya Gara dengan wajah datar.


"Aish, iya. Lupa bilang Rakha sama kakak. Maaf ya!" sahut sang adik tanpa dosa.


"Sekarang aku mau istirahat di ruangan lo, dan dicegah sama karyawan baru kamu nih." Adu Gara pada sang adik.


"Aish, bisa banget pura-pura nelepon si bos. Kayak kenal aja." ledek sang karyawan tanpa pikir panjang.


"Dengerkan dia ngomong apa?" Gara kesal langsung menyalakan loudspeaker ponselnya.


"Yudi. Dia Abang gue. Dia juga pemilik resto itu pangeran kedua di keluarga Thamrin Pradipta. Cari mati loe. Layanin dia dengan baik." Teriak Rakha di seberang telepon itu membuat wajah sang karyawan pucat pasi. Adrian hanya tersenyum melihat tingkah orang-orang itu.

__ADS_1


"Lagian si bos apa susahnya sih cuma bilang dia kakak pemilik resto ini. Dan ini juga si pegawai nggak pernah nonton televisi apa, kan si bos sering banget di sana. Ampun deh lucu kalian itu." gumam Adrian dalam hatinya.


 


***


 


"Maaf telah membuat anda menunggu lama Pak Anggara," ujar seorang wanita cantik dengan pakaian sangat ngetat di tubuhnya. Adrian cuma tersenyum melihat wajah masa bodo dari sang bos.


"Lain kali hargailah waktu Nona.." potong Anggara yang memang tidak tahu nama lawan bicaranya itu.


"Nona April, Tuan." sambung Adrian cepat.


"Whatever." celetuk Gara dan membuat wajah wanita itu memerah.


"Silahkan duduk dan segera presentasikan proposal yang kalian kirim beserta plus minusnya." Gara langsung to the point membuat sang wanita kaget.


Dia memang tidak bisa mengulik tentang sosok lelaki di depannya. Karena Gara selalu menutupi jati dirinya yang asli dari publik. Inilah jati dirinya ketika dia bertemu dengan calon rekan bisnis yang licik.


Wanita itu mempresentasikan proposalnya dengan gugup. Tatapan Garalah yang membuat April gugup. Berbagai pertanyaan pun diajukan oleh Gara usai presentasi April selesai dibawakan. Banyak gugupnya saat ia menjawab pertanyaan lelaki itu.


Saat Yudi membawakan makanan, mereka langsung memakannya. Menjeda perbincangan itu sesaat untuk mengisi perut yang sudah berteriak. April membuka suaranya namun seketika Gara melotot saat wanita itu akan berbicara. Gara malas mendengar basa basi dari orang di seberangnya.


 


\*


 


Jangan lupa vote ya. Ah, like komen and share juga.

__ADS_1


Thor kok dikit sih??


Maaf ya kesayangan aku. Aku baru mampu segitu, semoga bisa banyak ya besok-besok.


__ADS_2