Relung Langit

Relung Langit
Part 95


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu sejak kejadian di mal dan kepergian bulan maduku. Kini aku telah kembali ke tanah air tercinta. Selama disana aku menikmati bulan madu kami dan tak lupa jalan-jalannya juga. Kami berdua tiba dibandara Soekarno Hatta dijemput Kak Aryan. Tanpa kami ketahui Zahra pun ikut menjemput dengan menggunakan taksinya.


Kak Aryan membawa putraku tersayang dan Zahra tak lama muncul dihadapan kami. Keduanya nampak canggung, membuat kami berdua bingung. Tanpa pikir panjang aku mengajak mereka berdua untuk pergi menuju mobil.


"Kita makan dulu ya, laper banget nih!" seru Zeyden sambil memegangi perutnya.


"Baiklah." sahut Kak Aryan dengan cepat.


"Harus minta maaf segera sama Zahra, nggak enak diam-diaman begini." batin Kak Aryan.


Tak berapa lama mereka memasuki sebuah rumah makan sederhana. Karena aku sedang ingin menikmatinya, maklum selama disana Zeyden tak membiarkanku memakan makanan Indonesia. Kami berempat, ups berlima dengan Zayyan memasuki rumah makan itu. Kami duduk di paling pojok dan tak berapa lama semua makanan memenuhi meja.


"Ra, maafin Kak Aryan ya. Kemarin itu udah lancang ngomong gitu." ucap Kak Aryan membuatku dan Zeyden saling lempar pandangan saat sedang mengambil lauk.

__ADS_1


"Baiklah, jangan diulang sampai kakak ijin dulu ke aku dan aku menyetujuinya." ucap Zahra dengan wajah dinginnya dan diangguki oleh Kak Aryan.


"Ada apa sih sebenarnya? Ceritain dong." ucap Zeyden sedikit kepo.


Zahra dan Kak Aryan hanya saling lempar tatapan. Akhirnya Kak Aryan buka suara dan menceritakan semuanya. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Terkadang Zahra menimpalinya dan obrolan itu menjadi seru sendiri buat mereka berdua.


Zeyden hanya melihat tingkah mereka berdua melebihi sikap dirinya dengan Zahra. Zeyden merasa sedih, seakan dirinya akan tergantikan oleh Kak Aryan. Setelah makan dan mengobrol kami memilih pulang. Zahra menginap dirumah kami malam ini.


Sesampainya dirumah aku dan Zeyden juga Zayyan memilih masuk ke kamar. Zahra ke kamar tamu dan Kak Aryan pulang ke rumah Ayah. Di kamarku Zeyden menampilkan wajah sangat murung membuatku sedikit cemas. Aku menghampirinya yang sedang duduk di sofa dekat jendela kamar sambil memangku Zayyan. Aku memegang keningnya dan tidak ada tanda-tanda dia demam.


"Aku akan kehilangan adikku." ucap Zeyden dengan wajah berubah sedih hendak menangis.


"Hai, kok gitu sih ngomongnya?" ucapku tak suka dengan kata-kata Zeyden.

__ADS_1


"Kak Aryan akan mengambil adikku!" serunya dengan tatapan sendunya.


"Maksud kamu, Kak Aryan menyukai Zahra?" tanyaku penasaran.


"Bukan. Kak Aryan kan menggantikan posisiku sebagai kakaknya Zahra. Itu terlihat jelas dengan percakapan mereka tadi." jelas Zeyden makin sedih.


"Kamu cemburu sama Kak Aryan sayang?" ucapku dan diangguki olehnya namun aku hanya membalasnya tertawa geli.


"Jahat kamu sayang. Aku sedih malah diketawain." ucap Zeyden makin sebal padaku .


"Kamu tahu kenapa aku tertawa?" tanyaku sambil menangkup wajahnya dan menghentikan tawaku.


"Itu karena hanya pikiranmu saja. Kak Aryan tahu batasannya sayang. Jadi tenanglah dia tidak akan merebut Zahra dari tanganmu." sahutku dengan kejelasan yang benar.

__ADS_1


"Zahra bukanlah wanita yang dia inginkan selain sebagai keluarga kita. Aku tahu kedua kakakku dengan baik, terlebih Kak Aryan. Kamu tahu klo kakak sulungku itu sedang mengejar seseorang?" jelasku pada suamiku tersayang.


__ADS_2