Relung Langit

Relung Langit
S2 Part 18


__ADS_3

Lagi-lagi penyelewengan keuangan kembali terjadi membuat Gara kali ini turun tangan. Dia pun membuat keputusan untuk membuat keluh kesah pegawai dadakan. Seluruh staf Hrd pun dibuat kelimpungan. Tak kalah terkejutnya dengan pegawai yang menjalankan shift berikutnya pun harus masuk saat itu juga. Banyak pegawai yang menggerutu kesal dengan bagian keuangan di sana. Ya, karena mereka semua orang jadi ribet oleh keputusan dadakan Gara.


Hampir empat jam Gara dan Adrian di rumah sakit. Hanya untuk meneliti semuanya hingga beres. Gara memang lebih tepat waktu dari saudara-saudaranya yang lain. Dia mau hari itu juga semua kelar. Orang yang berbuat curang pun langsung dalam hitungan detik di sidang. Ketegasan Gara kadang lebih sadis dari keluarga Thamrin Pradipta yang lain.


Dia akan meledak-ledak jika berurusan dengan keluarga juga karyawannya. Seperti saat ini sudah ada empat orang yang dicurigai melakukan penggelapan uang. Keempat orang itu hanya tertunduk ketakutan melihat aura seram dari Gara.


"Kalian pilih mengembalikan uang itu saat ini juga atau penjara disertai nama baik kalian hancur?" ucap Gara dengan nada dinginnya membuat keempatnya diam tak bersuara. Sampai emosinya memuncak ia menggebrak meja membuat mereka kaget. Begitu pun Adrian yang mengelus dadanya karena kaget dengan sikap tiba-tiba bosnya itu.


"Adrian laporkan masalah ini kepada pihak berwajib dan juga hubungi pengacara kita segara. Saya mau semua beres hari ini." Tegas Gara masih dengan sikap dinginnya.


"Baik Tuan." sahut Adrian yang langsung menelepon pengacara juga kepolisian setempat.


Ketiga dari empat orang itu mengakui bahwa mereka hanya dipaksa untuk memanipulasi data keuangan itu dan invoicenya. Sontak hal itu semakin membuat Gara kesal hingga satu orang itulah yang menjadi tersangka saat itu. Adrian memaksa orang tersebut untuk menjawab jujur semua pertanyaan yang diajukan olehnya.


Tepat pukul 12.30 WIB sidak di rumah sakit selesai. Tersangka pun sudah dibawa pihak berwajib dan seluruh aset miliknya menjadi jaminan untuk menebus kesalahan orang itu. Usai dari rumah sakit kedua lelaki tampan itu langsung menuju restoran milik Rakha.


Hanya setengah jam perjalanan ke sana. Awalnya Gara hanya menumpang istirahat di ruangan sang adik untuk sholat, makan juga rebahan. Hm, hanya basa basi sebenarnya. Satu jam Gara berkutik di depan laptop kerja milik sang adik untuk membaca laporan keuangan yang memang sudah dipasang alat peretas oleh Rakha sendiri. Sehingga dia bisa melihat kecurangan dalam mengolah data di restonya.


Usai Gara mengeprin semua laporan asli yang ada di tangannya segera ia mengembalikan laptop tersebut ke dalam brankas. Adrian yang di minta oleh Gara memanggil manajer resto menghadapnya dengan membawa semua bukti invoice juga laporan keuangan. Kaget jelas karena biasanya hanya Rakha sendiri yang akan menanyakan laporan itu.


Beruntung tak ada kesalahan yang dibuat dalam laporan keuangan. Hanya saja sng manajer mengaku jika banyak komplen terhadap pelayanan dari pelanggan. Sang manajer menjelaskan bahwa ada beberapa pegawainya yang kadang melakukan kesalahan berulang kali. Namun itu sudah diatasi oleh sang manajer.


Gara pun segera meminta manajer itu ditemani Adrian memanggil pegawi tersebut. Sang manajer awalnya ragu namun mau tidak mau harus melakukannya. Sepeninggalan kedua orang itu Gara langsung menelepon sang adik.

__ADS_1


"Laporan keuangan aman. Tapi ada keluhan nih. Belom tahu apa sih. Telepon jangan dimatiin biar kmu denger sendiri ya." ucap Gara dengan lembut sambil memijat keningnya.


"Kak, pusing banget ya? Emang seberapa berat tadi maslah di rumah sakit?" tanya Rakha yang melihat sang kakak memijat keningnya.


"Sama kayak waktu itu manipulasi data dan penyelewengan uang." jawab Gara enteng seakan tanpa beban walau dia hanya berusaha menahan emosinya lagi.


"Jangan marah-marah mulu napa. Kayaknya sebelum ke rumah sakit ada masalah ya? Sampe pusing gitu?" tegur Rakha yang memang mengetahui sang kakak akan jadi emosian ketika mood di pagi harinya sudah jelek. Gara hanya mengangguki kepalanya dan tak berapa lama suara pintu di ketuk. Rakha langsung sunyi senyap.


Kini lima orang itu sudah berada di hadapan Gara. Di sana Gara melihat Yudi, sontak dia langsung membulatkan matanya. Gara langsung memutar kamera ponsel ke arah karyawan Rakha. Agar sang adik dapat melihat langsung orang-orang itu. Gara hanya melihat adiknya ternganga. Jelas itu membuat Gara tahu bahwa sang adik shock melihat orang yang ada di dalam ruangan itu.


"Tolong kalian jelaskan, kenapa pelanggan komplen akan pelayanan kalian?" tanya Gara dengan nada santai karena tak ingin sang adik takut melihat dirinya marah. Jaga image itulah yang dia lakukan. Bagaimana tidak jaim, keluarganya hanya tahu Gara dingin bukan pemarah.


Ketiganya pun menjelaskan bahwa kesalahan bukan pada mereka tetapi pada koki. Mereka sudah mencatat pesanan sesuai dengan permintaan mereka. Akhirnya penjelasan dari pelayan itu pun menjadi pelajaran buat Rakha mencari jalan keluarnya. Manajer dan karyawan itu meninggalkan ruangan Rakha.


"Berarti seperti di resto-resto cepat saji itu dong ya? Tapi gimana kalo kita buatnya di tiap meja? Jadi usai mereka memesan akan keluar struk di meja itu, jika mereka melakukan pembayaran cepat maka akan sampai cepat pula menu yang dipesan tersebut. Gimana menurut kamu, Dek?" Gara pun mengemukakan pendapatnya.


"Kita lanjut bahas di rumah ya kak. Rakha mau lanjut meeting sama supplier baru. Bye kakakku tersayang. Tetap hati-hati ya." Sahut Rakha dan langsung mematikan teleponnya secara sepihak.


Gara menghembuskan nafasnya yang berat. Adrian langsung duduk di sofa merebahkan badannya. Tak kalah lelah dia pun dengan Gara karena pekerjaannya yang multi kali ini. Tapi dia tidak menyangka bosnya dengan saudara-saudaranya sangat akur. Tidak seperti kebanyakan orang di luaran yang jarang akurnya.


\*\*\*


Pukul 16.00 WIB kedua lelaki itu segera meluncur ke butik milik Gia. Selama perjalanan dia masih terus berkomunikasi dengan kembarannya. Bagi Gara ini adalah hal terberat dalam hidupnya. Dunia yang sama sekali tidak pernah dia kenal. Sepanjang percakapannya di telepon Gia hanya menjelaskan sama sang kakak mengenai sekilas dunia fashion agar mudah dipahami olehnya. Gara yang cerdas dalam sekejap paham maksud sang adik.

__ADS_1


Permintaan Gia pun tak kalah dengan kakak juga adiknya yaitu laporan keuangan dan penilaian karyawan. Gara yang sama sekali tidak pernah memasuki butik sang adik mungkin akan mengalami hal yang sama di resto milik Rakha. Tapi dia malah ingin menilai sendiri sikap karyawan sang adik dengan cara yang sama di resto tadi.


Satu jam setengah kedua lelaki itu memasuki pintu masuk butik. Beberapa pekerja melayani dengan baik Gara dan Adrian. Tapi ada juga pelayan yang kurang baik sikapnya. Bermain handphone di jam kerja. Bahkan ada yang bergosip saat ada pelanggan yang meminta bantuan tidak langsung ditanggapi.


Saat Gara dan Adrian sedang asyik memilih baju-baju khusus lelaki tiba-tiba ada yang menepuk pundak Gara. Adrian yang menoleh membuat dia kaget dengan apa yang dilihatnya.


.


.


Hayo siapa yang nepuk pundak Gara? Sampe Adrian kaget! hehehe.


.


.


Jangan lupa like, komen, share dan vote ya kesayangan aku.


.


.


Sayang kalian selalu. Kalian bisa follow ig aq juga loh di @dhebay26.

__ADS_1


__ADS_2