
"Dia masih ada di Indonesia, hanya saja dia benci gue." ujarnya sedikit ragu.
"Kenapa? Bukannya dia cinta mati sama lo Kak?" tanya Zeyden makin penasaran sama kisah cinta kakak iparnya.
"Iya, semuanya gitu aja terjadi." ucapnya membuat Zeyden menerka-nerka.
"Kak, lebih baik lo ceritain ke gue. Biar semua unek-unek lo keluar. Daripada lo tahan gini." ujarnya sambil menepuk bahu kakak iparnya.
Flash Back On
Hari itu hujan turun dengan derasnya. Seorang wanita tengah duduk di bangku restoran dekat jendela. Ia terlihat sedang menanti seseorang dengan wajah agak ditekuk. Dua gelas kosong dan satu gelas setengah berisi capucino menemani dirinya. Tak berapa lama akhirnya sosok lelaki menghampirinya sambil menepuk bahu sang wanita.
"Maaf telat ya sayang" ujarnya sambil mengecup puncak kepala sang wanita.
"Hm. Mau pesan apa kamu?" tanya sang wanita dengan wajah datar.
"Ekspresso aja." sahut lelaki yang tengah melepas kacamatanya.
"Nggak makan?" tanya sang wanita lagi.
"Kamu mau makan? Pesan saja, aku ikut sama kamu." ujarnya dengan senyuman super manisnya.
Kemudian sang wanita memanggil sang pelayan dan memesan pesanan untuk mereka berdua. Wajah wanita itu kembali ditekuk saat melihat sang kekasih sudh berkutik dengan handphonenya.
__ADS_1
"Lebih seru dengan ponselnya ya, daripada tunangannya." ujarnya sedikit menyindir dan membuat sang lelaki mematikan ponselnya.
"Nggak gitu Nai. Ada kerjaan yang harus aku urus segera." jelasnya sambil memegang tangan wanita itu dan sang wanita tersipu dengan perlakuan sang lelaki.
"Bi, jangan tinggalin aku ya. Oh iya jika aku pergi ninggalin kamu. Apa yang akan kamu lakukan?" tanyanya dengan wajah serius.
"Aku akan kejar kamu untuk tahu alasan kamu ninggalin aku. Kalo alasan kamu karena lelaki lain dan lebih dari aku, maka aku akan menjauh dari kamu. Tapi jika alasan kamu karena cemburu akan aku kejar." sahutnya dengan keyakinan.
Plak..
"Auw.." teriak Bryan saat sebuah tamparan mendarat di pipinya.
"Apa-apaan lo nampar tunangan gue gitu aja?" marah Naina sambil berdiri.
"Jangan-jangan ini Kaila. Waduh mampus gue ini mah. Mana lagi nih si Aryan kutu kupret, nggak kelihatan lagi." batin Bryan sambil menengok kanan kiri.
"Disini nggak ada kamera kok Ar. Jadi ini bukan acara televisi yang alay itu." ujar sang wanita yang menampar Bryan.
"Siapa sih lo?" tanya Naina dengan wajah tak sukanya.
"Gue Kaila. Tunangan Aryan Pradipta Putra." ucapnya sangat lantang.
"Dia Bryan, bukan Aryan." tegas Naina sambil mengampit tangan Bryan.
__ADS_1
"Lo dan gue udah dikadalin sama nih cowok brengsek." ujarnya dengan amarah yang menggebu-gebu.
Bryan hanya diam melihat kedua wanita itu berantem. Saat dia menoleh ke kanan dia mendapati lelaki yang sama persis dengannya keluar dari arah toilet. Dengan sangat cepat dia kabur menghampiri sang lelaki. Kedua wanita itu berteriak memanggil nama orang yang dia kenal.
"Stop Ar." ujar Bryan kesal dan lelaki yang dipanggil itu berhenti kemudin menoleh.
"Jahat lo. Gue lagi ngedate sama Naina, eh si Kaila dateng dan nampar gue." Ucapan Bryan membuat Aryan membelalakkan matanya.
"Serius lo Bi. Mana dia?" tanya Aryan dengan wajah cemas dan mengikuti arah jari Bryan.
"Hayo Bi. Masa lo malah diem aja disana." ujar Aryan sambil menarik tangan Bryan yang masih mematung.
"Lo yakin kita mau keluar berdua?" tanya Bryan membuat langkah Aryan terhenti.
"Terus kita harus gimana?" tanya Aryan balik.
"Kalo lo udah yakin hayo kita keluar barengan, tapi kalo nggak jangan Ar." ucap Bryan membuat Aryan berpikir keras.
"Hayo maju." ujar Aryan dengan pasrah.
Bryan pun mengikuti langkah sang kakak. Sesampai di depan kedua wanita itu. Mereka berdua hanya saling lempar pandangan satu sama lain. Secara fisik Aryan dan Bryan sangat-sangat serupa tak ada celah membedakan keduanya. Hal itu juga dirasakan oleh pasangan mereka masing-masing.
Kedua wanita itu hanya diam dan duduk seketika karena shock dengan apa yang dilihatnya. Si adik kakak kembar itu pun duduk dihadapan pasangannya masing-masing. Sedangkan para wanita masih menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1