
"Ma, boleh nggak kalo Ara, Rangga dan Banyu pergi ke minimarket sama Kak Zay?" ucap Amara membuat Priyanka menoleh ke arah Zayyan.
"Hm, kamu janji apa sama mereka?" tanya Zeyden dengan tatapan sedikit menyelidik.
"Kami mau beli makan, Opa. Yanda sudah janji tadi di depan Bunda. Ya kan, Bun?" ujar Banyu dan diangguki sama Aleta.
"Boleh, tapi jangan beli es krim ya. Satu lagi beliin Oma dan Opa jajanan juga ya," sahut Priyanka dengan senyuman dan anak-anak itu menghampirinya untuk memeluk.
"Hayu, cepatan. Nanti Oma ke buru nggak bolehin lagi." ujar Zayyan sambil menarik ketika anak-anak dan Priyanka memukul lengan tangan Zayyan lembut.
Mereka pergi bersama Aleta juga. Kini hanya Priyanka dan Zeyden di ruangan itu. Mereka berdua berbincang-bincang dengan serunya sampai Gara juga Rakha masuk menghampiri keduanya. Mereka ikut tersenyum, ketika melihat orang tuanya sangat bahagia.
__ADS_1
"Ish, ish ada apa ini mamaku sangat bahagia!" seru Gara sambil mengecup tangan kedua tangan orang tuanya disusul oleh Rakha.
"Itu, kakak dan mamamu sudah damai." ledek Zeyden dan dicubit oleh Priyanka perutnya.
Kedua putranya melongo mendengar ucapan sang papa. Tak menyangka akhirnya orang yang mereka sayangi bisa berdamai. Gara juga Rakha langsung memeluk mamanya. Tak lupa mereka juga mencium pipi mamanya.
"Ma, ketika kami menikah. Kami harap mama jangan bersikap seperti kakak ya! Kami janji nggak akan biarkan isteri-isteri kami merasa kalo kami lebih mencintai mama dan papa tapi mereka juga." ujar Gara dan diangguki oleh Rakha, sedangkan Priyanka juga Zeyden saling memeluk.
Tak lupa ia menciumi wajah tampan sang kakak. Amara kadang suka sekali menciumi pipi Rakha sampai puas. Gara hanya diam melihat tingkah adik kecilnya. Tak lupa Gara dan Rakha menyapa kakak sulung juga kakak iparnya.
Mereka membahas dari A sampai Z. Ya, hanya Gia yang tidak ada ditengah-tengah mereka. Karena harus ke Bandung menemani Rohan. Tawa canda sesekali terlihat di antara mereka. Kelucuan akan tingkah anak-anak membuat mereka tertawa lepas.
__ADS_1
Zayyan menceritakan semua pengalamannya hidup berdua di apartemen kepada keluarganya. Membuat kedua adiknya iri, tapi tidak dengan sang isteri yang wajahnya sudah seperti udang rebus. Zeyden dan Priyanka hanya tersenyum mendengar serta melihat interaksi anak serta menantunya. Sesekali Aleta mencubit lengan Zayyan karena menceritakan kehidupan mereka secara detail. Sedangkan Priyanka hanya sering berseru "tidak perlu malu sayang, kamu putri kami juga kok." Hal itu membuat Aleta makin sayang pada kedua mertuanya.
***
Maaf ya kesayanganku, kali ini dikit dulu partnya. Semoga esok atau lusa bisa kembali panjang. Karena masih mempersiapkan untuk hari raya.
Author mau mengucapkan Taqabbalallahu minna waminkum. Shiyamana wa Shiyamakum.
Taqabbal ya kariim. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir batin. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H.
Maafin Author ya kalo banyak salah dalam penulisan dan kekhilafan dalam membalas komen-komen kalian. Maaf juga kadang suka buat emosi kalian campur aduk melalui tulisan ini.
__ADS_1
Jangan lupa share, komen, like dan vote ya novel ini juga novel-novel author yang lainnya. I love you so much guys. Salam penuh cinta dari Keluarga Besar Pradipta Thamrin untuk para pecinta setia ceritanya.