
Sang surya sudah kembali menyinari bumi dengan kehangatannya yang tiada tara. Hembusan angin memberikan kesejukan untuk setiap insan mengawali harinya. Hiruk pikuk keramaian ibukota sudah seperti sedia kala. Anak-anak sekolah mulai memasuki mobil jemputan dan para karyawan tengah sibuk dengan kegiatannya
masing-masing.
“Ma, baju sekolah Ara dimana?” tanya Amara mengahmpiri Priyanka yang sedang
menyiapkan sarapan di meja makan,
“Ma, lihat tas kerja Gara nggak?” tanya Anggara yang masih sibuk dengan memasang
dasi.
“Ma, kemeja hitam Rakha dimana? Kok nggak ada di lemari ya?” tanya Rakha yang
berdiri di dekat meja makan.
“Mama!!” teriak ketiganya kesal tak ada tanggapan dari sang mama.
“Kalian itu ya, bisa sabar sebentar? Lihat nggak mama lagi apa?” Priyanka yang seketika
mematikan kompor dan melangkah ke kamar anak-anaknya.
Mulai dari kamar Anggara ia mengambil tas kerjanya di dalam lemari, Anggara hanya tersenyum saat sang mama memberikan apa yang dimintanya. Kemudian mencarikan apa yang di minta sama Rakha, kemeja yang diminta sudah disiapkan Priyanka di atas Kasur, hanya saja tertutup oleh handuk yang habis digunakannya. Sama
dengan sang kakak, Rakha hanya tersenyum dan menggaruk tengkuk leher yang tidak gatal.
Terakhir urusan si bungsu, baju sekolahnya ternyata di pakai oleh Rangga. Karena sang keponakan lupa membawa seragam sekolahnya. Wajah Amara di tekuk dan mau tidak mau dia mengalah dengan mengenakan seragam baru. Aleta, Zayyan dan Banyu baru saja bergabung dengan yang lain di meja makan. Priyanka yang turut menyusul bersama dengan Amara juga Rangga.
Usai sarapan anak-anak diantar Zayyan ke sekolah. Kini hanya ada Aleta juga Priyanka yang sedang merapikan rumah. Tak berapa lama Aleta pamit untuk ke pasar membeli beberapa keperluan dapur. Priyanka yang semula merasakan badannya tak enak langsung pergi ke rumah sakit terdekat. Ia pergi bukan ke rumah sakit milik
keluarganya, ia takut hasil pemeriksaannya akan di ketahui oleh orang terkasihnya.
__ADS_1
“Bi, saya keluar dulu ya. Kalo Aleta datang menanyakan saya, bilang saja lagi keluar sebentar ada perlu.” Pamitnya pada assisten rumah tangga yang bekerja pulang pergi. Sang assisten hanya menganggukkan kepalanya.
Priyanka keluar dengan menggunakan mobil sport kesayangannya, ya dia mengemudi sendiri. Perasaan Priyanka tak menentu kala pusing dan sesak juga nyeri pada bagian kepalanya. Hanya butuh limabelas menit untuk dia sampai ke rumah sakit terdekat. Saat dia mendaftarkan diri di bagian administrasi ada sosok lelakitampan yang berdiri di belakang Priyanka. Kemana pun wanita cantik itu pergi dia mengikutinya.
Sampai saat nama wanita itu di panggil sang lelaki hanya menatap dari jauh. Hanya dua puluh menit Priyanka di ruang pemeriksaan. Seketika sang lelaki langsung masuk ke ruangan itu. Wajahnya sangat cemas dan menghampiri dokter yang ada disana.
“Dokter Zayyan, ada yang bisa saya bantu?” tanya sang dokter wanita dengan wajah kaget melihat dokter idola di ibukota ini.
“Saya mau menanyakan hasil pemeriksaan wanita yang baru saja keluar dari ruangan ini!” ucapnya tanpa basa-basi.
“Maaf ya, Dok. Anda tahu bahwa data pasien adalah raha..” ujarnya terpotong oleh perkataan Zayyan.
“Dia mama saya. Saya hanya ingin tahu laporan kesehatannya saja. Tidak lebih!” tegas Zayyan dengan wajah merah menahan emosinya.
“Sus,tolong berikan salinan hasil pemeriksaan Nyonya Pradipta kepada Dokter Zayyan.” Pinta sang dokter cantik kepada perawat yang membantunya.
“Terima kasih, Dok. Maaf jika saya melanggar kode etik kita. Tapi sungguh saya sanggat khawatir kepada mama saya. Kenapa beliau sampai melakukan pemeriksaan di rumah sakit lain.” Jujur Zayyan dengan wajah cemas.
Sang dokter cantik itu hanya mengangguki kepala. Seakan tahu apa yang dirasakan oleh Zayyan. Tak berapa lama perawat tadi memberikan salinan hasil pemeriksaan Priyanka pada Zayyan. Usai menerimanya Zayyan langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Mungkin di jaman era digital ini sudah jarang anak yang peduli pada kedua orang tuanya. Tetapi bagi anak-anak keluarga Zeyden, menghormati orang tua sangatlah penting karena tanpa orang tua anak tak kan ada. Itu kenapa Zeyden atau Priyanka selalu mengajarkan kebersamaan dan saling mengasihi satu sama lain.
Zayyan sesekali melirik ke map bening yang ada di bangku sebelahnya. Sama sekali belum dia buka karena cemas dengan apa yang akan terjadi jika dia membacanya. Bingung itu yang dirasakannya, sampai ia menekan nomor telepon yang sangat ia harapkan bisa berbagi mengenai hal ini.
“Halo, Pa! Papa dimana?” ucapnya dengan to the point.
“Halo, Zay. Di rumah sakit, kenapa?” sahut Zeyden sangat santai.
“Zayyan otewe ke sana ya, Pa. Sebentar lagi Zayyan juga hubungi Gara, Gia dan Rakha untuk ke rumah sakit. Ada yang harus kita bahas penting, Pa!” ujarnya dengan nada kekhawatiran yang sangat tinggi.
“Baiklah, nanti kita langsung bertemu di ruangan papa ya! Kamu hati-hati di jalan ya, Nak” sahut sang Papa dengan lembut.
__ADS_1
“Baik, Pa. See you. I love you, Pa!” ucap Zayyan sebelum menutup teleponnya.
Zayyan menepikan mobilnya sesaat untuk mengirim pesan kepada adik-adiknya. Tangannya sedikit gemetar untuk memulainya. Ia tahu dengan apa yang akan dikatakannya nanti akan membuat adik-adiknya panik. Dia seketika membuat grup baru di Whatsapp yang hanya berisi dia dan adik-adiknya.
Grup TP
Zayyan : Kakak tunggu kalian semua di ruang kerja Papa sekarang. Jangan ada alasan, ini penting berhubungan dengan Mama.
Anggia : Mama kenapa, Kak?
Anggara : Aku otw
Rakha : Rakha meluncur sekarang.
Zayyan : Nanti penjelasannya ya cantik. Kita ketemu di sana dan kalian hati-hati di jalan.
Tak ada lagi notif pesan masuk,Zayyan kembali melanjutkan perjalanannya yang memakan waktu setengah jam. Dia sangat pelan mengemudi kali ini karena pikirannya yang tidak tenang dengan dokumen kesehatan mamanya. Wajahnya sudah tak karuan walau masih tetap tampan.
Setengah jam berlalu. Saat berjalan di koridor rumah sakit air mata Zayyan mengalir tanpa permisi. Ia hanya membayangkan jika apa yang di takutinya akan terjadi. Memandangi setiap ruangan demi ruangan dan pikirannya melayang entah kemana. Langkahnya pun kini tiba di lift, tanpa sadar ia memasuki lift untuk umum. Sesampai di depan ruangan sang papa, ia malah semakin deras air matanya dan sesegukan.
“Zay, kenapa?” tanya sang papa yang cemas saat mendengar suara dari luar ruangannya.
Zayyan dibawa masuk oleh Zeyden dan duduk di sofa. Anggia yang sudah tiba lebih dahulu langsung mengambilkan air minum untuk sang kakak. Usai meminum air yang diberikan oleh adiknya, Zayyan menyerahkan map yang dibawanya. Mata Zeyden terbelalak saat melihat nama pasien yang tertera di sana.
“Apa maksud kamu ini Zay? Kenapa nama mamamu ada di data pasien rumah sakit xx?” tanya Zeyden dengan nada sedikit meninggi.
“Pa, tenang dulu. Kak Zayyan juga shock, makanya dia menangis seperti itu!” ucap Gia menenangkan sang papa.
“Pa, Zayyan belum sanggup jika harus jauh dari mama! Zay, nggak mau lihat mama sakit atau sedih.” Tutur Zayyan dengan uraian air mata.
“Mama?!” teriak Rakha dan Gara bersamaan saat baru membuka pintu, sedangkan ketiga orang di dalam ruangan langsung menoleh dengan wajah terkejut.
__ADS_1
“Kenapa dengan mama?” cerocos Rakha yang menghampiri sang kakak dengan wajah panik luar biasa, kedekatannya itu membuatnya kadang suka posesif.
“Mama, nggak apa-apa, Kha. Santai.” Tutur Gia berusaha membuat sang adik tenang.