Relung Langit

Relung Langit
Part 72


__ADS_3

"Ampun punya Ade gini banget ya. Mau nyomblangin malah setengah-setengah. Nggak tahu apa kalo gue sama nih cewek kagak pernah deket. Eh, malah diauruh pedekate sendiri. Kalo nggak bisa mau dikasih ke si Bryan. Enak aja." batin Aryan kesal dengan perkataan Priyanka.


"Yah, jangan gitu dong De. Tega bener sama kakaknya. Atau emang kamu lebih sayang sama Bryan ya daripada aku!" seru Aryan dengan nada sedih.


"Ish, lebaynya kakakku. Kak Ryan selalu yang terbaik. Aku nggak pilih kasih kok. Kalo pilih kasih aku nggak nyuruh kakak duluan buat pedekate sama Anyelir." ujarku dengan nada perhatian.


"Ya udah aku mau ajak Anyelir jalan-jalan dulu. Nanti ketemuan di depan Malioboro ya buat makan malam di angkringan." ujar Kak Aryan dengan semangat dan langsung mematikan telepon tanpa menunggu jawabanku.


***


"Anye, Princess sekeluarga baru bangun jadi kita disuruh jalan duluan aja. Nanti malam baru ketemu mereka. Kamu nggak apa-apa kan jalan hanya berdua sama aku?" ujar Kak Aryan dengan lemah lembut


"Oh. Iya kak, nggak apa-apa kok. Daripada dikamar aja aku bosen. Tapi kakak sendiri gimana, jalan sama aku nggak apa-apakan?" sahut Anyelir dengan senyuman termanisnya dan Kak Aryan menganggukkan kepala.

__ADS_1


Mereka berdua jalan menyusuri jalan malioboro. Lalu mereka naik trans Jogja yang akan menghantarkan mereka ke Candi Prambanan. Setiap jalan tangan Kak Aryan tak pernah lepas dari tangan Anyelir. Hanya senyum tipis sesekali terlihat diwajah Anyelir saat digandeng sama Kak Aryan.


Mereka menikmati perjalanannya, sesekali foto bersama disetiap momen yang pas. Pemandangan yang indah membuat mereka makin akrab. Sesekali Kak Aryan bersikap romantis ya walau hanya membelikan minuman botol atau mengelap keringat Anyelir.


Kak Aryan dan Anyelir tahu kesempatan mereka untuk saling mengenal satu sama lain hanya dalam waktu satu minggu. Setelah satu minggu mungkin mereka tidak bisa seintens ini.


***


Tak terasa malam telah tiba. Aku dan keluarga kecilku telah siap untuk mencari makan malam di jalan Malioboro. Sesuai kesepakatan dengan kakakku. Kami bertiga menunggu di salah satu angkringan. Zeyden sudah menghabiskan empat bungkus nasi kucing. Dia tidak tahan lapar karena sudah pukul delapan malam kedua manusia itu belum juga muncul.


Princess sayang, maaf kami tidak jadi ke angkringan. Kami sudah masih di salah satu resto disini.


Priyanka Pradipta Putri

__ADS_1


Bagus ya Kak. Baru ngasih info sekarang. Tahu gitu kan kami makan di hotel aja. Kasihan Zayyan kalo keluar malam kan.


Mr. A


Maaf sayang, sampein salam maaf buat baby Zayyan dari Daddy Ar. Salam kecup buat babyku***.


Aku hanya mendengus kesal. Mereka memang pedekate, tapi ya jangan ingkar janji juga, bikin bete aja. Aku langsung mengajak Zeyden kembali ke hotel.


"Yang, balik ke hotel aja yuk." ajakku ke Zeyden dan dia hanya diam dengan wajah penuh tanya.


"Kenapa? Terus Kak Ar sama Anyelir gimana?" tanyanya masih dengan wajah datar.


"Mereka nggak jadi kesini. Sudah makan di resto katanya." ucapku kesal sambil bangkit dari duduk.

__ADS_1


"Ya udah, besom kita jalan-jalan sendiri aja ya. Nggak usah ajak mereka. Gimana?" tanya Zeyden sambil bangkit dan menghampiri pedagang untuk membayar makanan yang tadi dimakan.


"Oke. Kita senang-senang bertiga aja ya!" seruku dengan wajah ceria.


__ADS_2