
Aku menitikkan air mata, karena tak menyangka jika Siera bersikap demikian. Aku menaruh kepalaku ke pundak Kak Zeyden yang sudah duduk disampingku. Sesekali Zeyden mengecup dan mengelus kepalaku.
Aku tersadar satu hal. Bagaimana nasib sahabatku, oh bukan mantan sahabatku. Aku kesal sama Siska, tapi bagaimanapun juga dia pernah menjadi bagian hidupku.
"Rik, bagaimana dengan sahabatku?" ujarku sedikit ragu dan Kak Zeyden kaget mendengar aku berkata demikian.
"Ka, siapa sahabatmu? Zoan dan Anyelir kan baik-baik saja?" ujar Zeyden karena tidak pernah tahu sahabatku selain dua manusia itu.
"Hmm.. maksudku Siska, Ka." jawabku ragu-ragu dan Kak Zeyden juga Arik membulatkan matanya seakan tak percaya dengan yang kuucapkan.
"Wanita yang sudah memfitnah kalian berdua, masih kamu sebut sahabat, Ka?" ujar Arik sungguh tidak percaya sama kelakuanku.
__ADS_1
"Sahabat macam apa yang sudah merebut kekasih sahabatnya, memfitnah dan iri pada setiap yang dimiliki sahabatnya? Ka, hati lo itu terbuat dari apa sih?" lanjutnya dengan nada sedikit kesal.
"Kalian tuh pasangan aneh. Hati kalian berdua tuh terbuat dari apa coba?" Arik masih tidak percaya dengan sikapku dan Zeyden yang tak bisa marah ketika disakiti.
Memaafkan kesalahan orang yang menyakiti kami. Walau untuk berjumpa lebih tidak mau, karena hanya bisa membuat sakit semakin dalam.
"Baiklah pasangan yang paling baik sedunia. Siska sudah dibawa sama wanita-wanita itu untuk mencari lelaki yang mereka kenal sebagai Zeyden. Tapi aku masih pantau dia kok." ujar Arik membuat aku sedikit lega, itu terdengar dari helaan nafasku yang cukup berat.
"Ya sudah kalau kayak gitu, udahan dulu ya. Kalian pasti lelah banget. Kalau ada apa-apa hubungin aku ya Ka. Kamu jangan sungkan seperti beberapa waktu lalu menghilang." pinta Arik sebelum menutup video callan kamu dan aku mengangguk.
Setelah video call usai, Kak Zeyden memelukku erat. Dia mengecup keningku cukup lama. Dan kami segera ke kasur. Tidak seperti pengantin pada umumnya kok. Kami masih belum siap. Oleh karena itu, Kak Zeyden hanya mengantarkanku ke kasur. Lalu Zeyden kemana? Dia tidur di sofa, karena dia juga masih risih tidur berdua.
__ADS_1
***
Aku sudah bangun dan bahkan cantik. Aku masih melihat suamiku tertidur lelap di sofa. Aku menghampirinya untuk membangunkannya. Aku berbisik ditelinganya meminta ia bangun karena sudah waktunya subuh.
Suamiku bangun dengan sedikit kaget karena wajahku terlalu dekat dengannya. Aku juga sempat kaget lalu kami tertawa. Ternyata bagi kami menikah bukan hal yang mudah. Sekamar bisa melakukan kebiasaan layaknya suami isteri.
Walau aku dan Zeyden kenal dari lama, hal itu tidak lantas membuat kami nyaman. Aku mungkin sering berduaan dengan dia, tapi kalau menginap di satu kamar jangan tanya, itu tak pernah sama sekali.
Aku dan dia berpelukan saja karena sudah sangat lama tak jumpa. Namun jika sering ketemu jangan harap bisa. Zeyden disebut anak mami dan rumahan. Dia punya teman cukup banyak tapi tak pernah ikut nongkrong-nongkrong layaknya pemuda lain.
Sekalinya keluar pasti ikut kajian, main ke panti asuhan, pesantren atau rumah sakit. Dunia Zeyden hanya seputar itu. Kantor pun jarang ia datangi, ia selalu rapat online. Bisa dihitung jari jika dia ke kantor. Tapi walau begitu tak ada satu anak buahnya berani mengkhianatinya.
__ADS_1
***