Relung Langit

Relung Langit
Part 105


__ADS_3

Matahari sudah kembali beraktifitas walau masih malu-malu berselimut kelabu. Sosok lelaki tampan sudah bersiap diri sejak ayam berkokok. Seisi rumah besar dibuat kaget oleh sikap pangeran mahkota keluarga Pradipta. Ya, Aryan sudah rapi dan sangat tampan. Hal ini diluar dari kebiasaannya sebelum ini. Sosok itu sudah berada di meja makan bersama dengan Ayah Bundanya dan pangeran kecil. Senyuman selalu merekah sepanjang pagi ini.


Selesai sarapan Aryan mencium pipi Ayah Bunda juga pangeran kecilnya, lalu bergegas pergi dengan mobil sport kesayangannya. Bahagia jelas bahagia, jalan pendekatannya dengan wanita yang ia sukai berjalan mulus. Seakan sang pencipta merestui langkahnya. Hanya tiga puluh menit Aryan sudah tiba dirumah calon makmumnya kelak. 


Satpam segera membukakan pintu saat melihat mobil Aryan dengan senyum ramahnya. Tak berapa lama Aryan keluar dari mobil dan segera melangkahkan kaki menuju pintu utama rumah itu. Aryan hendak menekan bel rumah, namun dia sudah disambut oleh nyonya rumah itu.


"Pagi Tante." sapa Aryan dengan senyum terindahnya dan segera mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.


"Pagi Nak." balas sang nyonya dengan senyuman terbaiknya.


"Masya Allah, sopannya anak ini." gumam ibunda Sharma dalam hatinya.


"Hayo masuk dulu." ajak sang empunya rumah dan diangguki oleh Aryan.


"Kamu sudah makan, Nak?" tanya sang empunya rumah.

__ADS_1


"Sudah tante. Aryan nggak bisa keluar rumah sebelum sarapan dulu, Ayah dan Bunda sudah menerapkan itu sejak kami kecil. Karena hanya waktu sarapan dan makan malam, untuk kami berjumpa. Ya, minimal sarapan harus kumpul semua." jelas Aryan mengenai aturan rumahnya sambil menghampiri Ayahnya Sharma dan Sharma di meja makan.


Dari kejauhan tampak Ayah dan anak itu tengah asyik bercengkerama. Sesekali terlihat mereka tertawa bahagia. Aryan pun sangat iri, melihat hal itu. Hal itu sama seperti keluargaku di pagi hari, jika semua kumpul. Hanya saja kini semua sudah memiliki keluarga masing-masing, jadi hal seperti itu sudah tidak ditemukannya.


"Sama seperti keluargaku dulu, bahagia di pagi hari." gerutu Aryan cukup terdengar baik di telinga ibunda Sharma.


"Maksudmu apa Nak?" tanya wanita paruh baya itu dengan wajah penasarannya.


"Oh, nggak Tante. Melihat Om dan Sharma berbincang dan tertawa saat makan, mengingatkan aku pada keluargaku dulu. Sebelum kedua adikku menikah." sahut Aryan masih dengan senyuman.


"Maaf. Om, Tante dan Sharma, Aryan ijin angkat telepon penting dulu." ujar Aryan sambil berjalan meninggalkan meja makan.


Ketihaga orang di meja makan terus menatap Aryan dengan wajah sedikit meyelidik. Mata mereka semua tak sedetik pun melepas dari Aryan.


"Ganggu aja sih. Kenapa Bi?" gerutu Aryan dengan nada dibuat-buat kesal.

__ADS_1


"Marah?" tanya Bryan yang mendengar nada suara kakaknya yang sedikit bete.


"Nggak. Udah to the point aja. Ada apa?" tanya Aryan dengan tanpa basa basi.


"Lusa Princess pulang duluan. Atur waktu buat dia ketemu sama permaisuri Kak Ar ya!" seru Bryan dengan perintah tak mau di bantah.


"Baiklah. Sekarang jangan ganggu dulu ya, kakak lagi pedekate dulu nih. Sampai kakak cerita baru telepon lagi. Oke." pinta sang putra mahkota Pradipta sudah menurunkan titahnya.


Telepon pun segera terputus dan Aryan langsung kembali ke ruangan tadi. Ketiga orang yang menunggu Aryan dengan sigap langsung beraktifitas, saat Aryan mulai menghampiri mereka. 


"Siapa yang telepon?" tanya Sharma sambil menyuap makanannya.


"Hm.. Adik pertamaku. Dia mau meminta di pertemukan sama kalian semua. Hanya saja aku bilang belum saatnya." jelas Aryan sedikit berbohong.


"Kenapa belum saatnya?" tanya Sharma sedikit menyelidik dan dia mendapat tatapan tajam dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Karena dia sedang bulan madu. Jadi tidak mungkin pulang dalam waktu dekat ini." jelas Aryan dan di sahut dengan kata oh.


__ADS_2