
Seminggu kemudian Zayyan dan Aleta sudah mulai terbiasa hidup bersama. Kami keluarga Pradipta pun sudah kembali dari liburan, serta sudah beraktifitas seperti semula. Ah Zayyan masih tinggal di rumah. Aku melarang dia pindah rumah, selama Banyu masih belum bisa operasi transplantasi jantung.
Walau bukan cucu kandungku, aku ingin anggota keluarga dalam keadaan sehat. Karena sakit itu cucu baruku aktifitasnya terbatas. Jujur tak tega aku melihatnya, berharap dia bisa kembali normal seperti Amara juga Rakha.
Belum ada jantung yang tepat untuknya, jadi dia terpaksa harus tinggal di rumah sakit terlebih kemarin kondisinya ngedrop. Zeyden bilang dia hanya kelelahan, aku orang yang paling heboh ketika tahu hal itu. Aleta saja masih tenang, beda sama diri ini yang udah nyuruh rawat. Padahal Zeyden dan Zayyan bilang masih bisa di rumah. Cuap-cuap aku yang tanpa henti akhirnya mereka sepakat buat Banyu istirahat di rumah sakit.
Aku yang menemani Banyu satu hari penuh. Orang tua anak itu terpaksa menurut, agar aku tak lagi ceramah. Dia bukan darah dagingku, tapi aku menyayanginya sama seperti Rangga. Kasih sayang penuh akan aku berikan untuk keluargaku.
***
Di dalam kamar Aleta merasa tak enak membiarkan aku menjaga Banyu. Sebab dia saja sampai rela menitip Banyu pada suster rumah sakit demi pekerjaan. Aleta gusar karena perbuatanku, Zayyan yang melihat isterinya gelisah menghampiri sambil memeluknya.
"Kenapa? Kok gelisah gitu?" tanyanya masih memeluk Aleta.
"Aku, nggak enak sama Mama. Aku ibunya Banyu malah di rumah, sedangkan Mama yang bukan siapa-siapa malah menjaganya! Kasihan Mma, Mas." tuturnya dengan isakan tangis.
__ADS_1
"Hei, kita sudah jadi keluarga. Mama itu neneknya Banyu, bukan orang lain. Coba kamu ngomong gitu depan Mama. Hm, kalo bukan ceramah panjangnya yang kamu dapet." ucap Zayyan melonggarkan pelukan dan menghapus air mata sang isteri.
"Dengarin aku. Mama yang ngotot mau jagain Banyu, Mama yang kekeuh minta Banyu di rawat. Untuk apa coba Mama lakuin itu kalo bukan dia sayang sama Banyu? Mungkin terlihat lebay dan egois. Tapi percaya sama aku, apa yang terlihat hanya ungkapan rasa cinta yang teramat besar. Biarkan Mama merawat cucunya, kamu istirahatlah." Zayyan coba menjelaskan tujuan sang mama pada menantu barunya itu.
Aleta menganggukkan kepala dan memeluk Zayyan guna mencari ketenangan. Lelaki itu hanya mengelus kepala sang isteri dan menciuminya. Ada tersenyum yang melesat secepat kilat di bibir Zayyan.
"Mas, apa mama selalu bersikap seperti itu?" tanya Aleta sedikit ingin tahu mengenai mertuanya.
"Hm, bahkan dulu pernah kesal sama Papa. Sampai-sampai minta bantuan mantan cuma buat lihat papa emosi. Mantan yang bantuin mama itu dulu bikin mama sakit hati dan hampir depresi. Demi maaf dari mama dia mau ngelakuin hal itu. Restoran Rakha awalnya kerja sama mereka berdua!" cerita singkat Zayyan mengenai mamanya.
"Masa sih, Mas. Kayaknya papa nggak gitu deh!" Aleta asal ngomong karena masih baru di rumah itu.
"Papa paling kesal kalo mama lebih peduli ke Rakha dari pada dirinya. Kamu lihat aja nanti kalo iseng kami udah keluar!" ucap Zayyan mencubit hidung isterinya.
***
__ADS_1
Kebahagiaan hanya milik mereka yang punya cara sendiri untuk bahagia. Ada yang sellu memberikan senyum untuk orang lain, atau yang lainnya. Tapi hanya orang-orang yang menghargai cara orang menyampaikannya untuk membuat dia bahagia.
Berbulan-bulan akhirnya Banyu mendapatkan donor jantung yang tepat. Zeyden dan Zayyan ikut mendampingi proses operasi, walau hanya melihat dari jauh. Itu berlaku untuk Zeyden yang sudah menggantungkan stetoskopnya.
Untuk Zayyan yang memiliki berbagai ilmu terlebih bedah ia ikut dalam operasi itu walau bukan dia yang menanganinya langsung. Karena Banyu bukanlah pasien dia sejak awal. Dia tetap menghargai tugas dokter yang sudah merawat putranya.
Ah, lupa semua data Banyu sudah masuk ke dalam bagian hidup Zayyan. Semua berkas hak asuh juga sudah komplit di tangan Aleta juga Zayyan. Bahkan dia sudah menyiapkan segala hal untuk masa depan anak itu.
Di luar ruangan operasi aku dan Aleta dengan cemas menantikan hasil terbaik untuk Banyu. Doa tak pernah putus dari mulut kami. Saat ini Aleta menggenggam erat tanganku, bahkan sesekali dia menaruh kepalanya di bahuku. Senang rasanya bisa dekat dengan menantuku.
Aku bukan mertua yang galak sama menantu ya. Atau suka ribut dengannya, walau tinggal bersama hal privasi tetap aku berikan. Agar dia nyaman di rumah, seakan tinggal di rumah sendiri.
Zayyan juga selalu memperhatikannya dengan baik. Tak pernah ia membedakan siapapun di rumah itu. Cinta dan kasih sayang kami berikan sama. Ah iya, Aleta sudah tidak bekerja. Dia kadang membantu Gia cek butik saja. Kedekatan mereka juga melebihi ipar.
***
__ADS_1
Kalian kesayangan aku jangan lupa vote, share, komen dan like ya. I love you all.