Relung Langit

Relung Langit
Part 93


__ADS_3

Kak Aryan memilih cuti selama dua minggu hanya demi bisa bermain dan menjaga keponakannya. Kedua kakakku memang lebih menyayangi Zayyan dari apapun, kasih sayang mereka sama besarnya seperti yang diberikan kepadaku. Hari ini Kak Aryan mengajak Zayyan ke salah satu mal terbesar di Jakarta. Dia mengajak Zayyan bermain di salah satu tempat bermain. Zayyan memang anak yang periang hal itu membuat orang yang melihatnya akan ikut bahagia. Saat sedang asyik bermain, Kak Aryan melihat sosok yang sangat ia kenali.


Dia segera menitipkan Zayyan ke pegawai tempat permainan itu. Kak Aryan berlari mengejar wanita tadi, saat sosok itu hendak melangkahkan kakinya ke eskalator. Kak Aryan memanggil namanya dan membuat wanita itu berhenti. Sosok itu masih mencari sumber suara, karena Kak Aryan terhalang oleh beberapa orang di depannya.


“Ra.. Zahra!!” teriak Kak Aryan kembali sambil melambaikan tangannya.


Wanita itu melangkahkan kakinya untuk mendekat kepada Kak Aryan. Saat sudah berhadapan keduanya diam dan hanya terdengar suara nafas Kak Aryan yang tersenggal-senggal. Zahra langsung membuka tasnya dan mengeluarkan botol minum beserta sapu tangan. Kak Aryan langsung menyambarnya dan segera mengelap keringat tak lupa meminum air yang diberikan Zahra.


“Kakak, sedang apa disini?” tanya Zahra sambil menerima botol minum dari Kak Aryan.


“Hmm.. Jalan-jalan sama Zayyan.” sahutnya sambil bersandar disalah satu tembok toko.


“Zayyan? Dimana dia sekarang Kak?” tanya Zahra sambil mencari-cari keponakan tersayangnya itu.


“Shit, aku lupa dia kutitipkan di tempat bermain.” ucapnya sambil menepuk jidatnya.

__ADS_1


“Hayo bergegas, kasihan dia.” ajak Zahra dengan langkah yang sangat cepat mengikuti langkah kakakku yang selalu berjalan dengan cepat.


Tak berapa lama mereka sampai di tempat bermain. Dilihatnya Zayyan akan diberikan minum oleh pegawai tadi namun Zahra langsung menahan tangan pegawai itu. Pegawai itu terkejut dengan sikap Zahra. Ya, Zahra sama protektifnya dengan Zeyden kalau urusannya adalah Zayyan.


“Jangan berikan minuman apapun kepada keponakan saya, hanya saya yang boleh memberikannya!” ucap Zahra dengan wajah juteknya.


“Terima kasih sudah menjaga keponakan saya.” ujar Kak Aryan sambil mengambil Zayyan dan segera menarik Zahra keluar dari tempat permainan itu.


Kak Aryan tahu sikap Zahra sama dengan adik iparnya, dan dia juga takut jika kejadian tadi akan diceritakan kepada Zeyden. Maka akan tamat riwayat dia. Zeyden dan Zahra selain protektif, mereka juga sangat steril untuk urusan Zayyan. Siapapun akan kena semprot jika berurusan dengan pangeran kecil kami.


“Sayangnya Onty, kamu lapar ya?” ucap Zahra pada keponakannya dan diangguki oleh Zayyan seakan ia mengerti apa yang diucapkan ontinya.


“Kamu dari mana tadi Ra?’ tanya Kak Aryan kepada Zahra.


“Toko buku Kak.” ujar Zahra seperlunya.

__ADS_1


“Kamu balik ke Indo memang sudah ijin sama pacar kamu?” selidik Kak Aryan sambil menatap wajah Zahra.


“Aku masih sendiri Kak. Aku nggak mau pacaran, bikin repot. Mending kayak Kak Zey dan Kak Iya, langsung nikah.” ucap Zahra dengan kejujuran yang sangat akut.


“Loh, Kak Ar sendiri kesini bawa Zayyan dan jalan sama Zahra, apa tidak ada yang marah?” tanya Zahra.


“Belum ada yang mau sama aku Ra. Anyelir aja lebih memilih Bi daripada aku.” aku kakakku itu dan hanya usapan di punggung Kak Aryan yang mampu Zahra berikan.


“Mana ada yang berani menolak cowok seganteng kakak. Mungkin Kak Anyelir memang pada dasarnya sudah menaruh hati sama Kak Bi. Jadi saat Kak Bi melamarnya dia yang dipilih.” ujar Zahra asal tebak.


“Kalo aku ngajak kamu nikah bakal kamu tolak nggak?” tanya Kak Aryan asal ceplos.


“Haha.. Kalo Kak Ar mau ikut aku dulu ke London, baru aku mengiyakannya. Secara aku mau selesaikan kuliahku dulu Kak.” Ceplos Zahra tanpa maksud serius.


“Aku setuju dengan hal itu, jadi mau kan kamu menikah denganku Zahra?” ucap Kak Aryan menghentikan langkahnya dan mengatakan itu di depan umum dengan berjongkok serta masih menggendong Zayyan.

__ADS_1


__ADS_2