
Kami bertiga melangkah ke dalam. Sedangkan dua orang di dalam yang tengah asyik bermain bersama Zayyan menengok dan bengong saat kami bertiga dihadapan mereka. Kami duduk di bangku secara bersamaan. Aku masih tidak lepas memeluk lelaki yang dari tadi tiba.
"Kapan balik?" tanya Kak Aryan mode jutek.
"Baru sampe beberapa jam lalu." ujar lelaki yang masih aku peluk.
"Kenapa balik? Emang udah kelar urusan disana?" tanya Kak Aryan masih dengan mode juteknya.
"Kangen sama Princess gue." sahutnya sambil membelai rambutku.
"Lo kenapa mendadak jadi jutek gitu sih. Aneh gue sama lo." ceplos lelaki dalam pelukanku.
"Kesel gue sama lo. Gara-gara lo Ade kesayangan gue pingsan. Sekalinya sadar nggak mau lepas dari lo." ujarnya bete.
"Zey, serius Princess tadi pingsan?" tanya Kak Bi dengan wajah khawatir dan di sahut dengan anggukan oleh Zeyden.
"Kenapa kok bisa sih Zey? Lo nggak jaga dia dengan baik ya." ucap Kak Bi hampir memukul suamiku.
"Eh, kalo ngomong dipikir dulu." ujar Kak Aryan dan Zeyden secara bersamaan, itu membuat kami bertiga geleng-geleng kepala.
"Apaan sih lo berdua!" seru Kak Bi bingung.
"Ade gue pingsan karena omongan kakak tersayangnya yang sangat kasar. Hal itu membuat dia kepikiran dan shock setengah mati. Ade gue itu nggak pernah dikasarin sama kakaknya." jelas Kak Aryan dengan nada kesal.
"De, semua karena kakak?" ucap Kak Bi memandangku dengan tatapan sendu dan aku mengangguk.
"Maafin kakak ya, De. Kakak nggak maksud gitu. Sorry my princess. Kamu bisa lakuin apa aja ke aku saat ini." ujar kakakku sambil mengecup keningku.
"Aku maafin kakak, tapi tolong kalian jangan bertengkar. Aku juga salah karena ikut campur dalam masalah kalian. I'm so sorry." ujarku menatap kedua kakakku dan mereka memelukku bersamaan.
"Udah stop mesra-mesraannya. Sekarang waktunya kita liburan. Nyari makan dulu yuk laper nih." ujar Zeyden memisahkan kami bertiga yang sedang berpelukan.
Anyelir hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kami sekeluarga. Kami semua yang ada di ruangan itu pun tertawa bersamaan. Zayyan yang kaget mendengar suara tawa kami langsung menangis, seketika keadaan senyap hanya terdengar suara Zayyan. Tapi senyuman dari kami semua masih merekah diwajah masing-masing.
__ADS_1
***
Hotel kami dan jalan Malioboro cukup dekat, maka kami semua memutuskan mencari makan didekat-dekat sini. Aku berjalan beriringan dengan kedua pangeran hatiku dan Anyelir dengan calon pangerannya. Aku sudah melepas semua keputusan ada di mereka bertiga, posisiku kini hanya sebagai wasit. Kenapa wasit, jika ada yang melanggar supportifitas maka akulah yang nenghukum salah satu dari mereka.
Saat kami berhenti di salah satu angkringan yang cukup sepi. Kami langsung duduk lesehan. Zeyden tetap melayaniku dengan baik. Sahabatku dibuat bingung oleh kedua kakak kembarku. Kak Aryan sibuk memesankan makanan sedangkan Kak Bryan sibuk memesan minuman. Mereka memesan langsung untuk mereka bertiga.
Aku dan Zeyden hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Bagaimana tidak, kedua Ryan itu sibuk memberikan makanan dan minuman kepada Anyelir. Tak berapa lama beberapa pengamen menghampiri kami. Zeyden langsung memanggil pengamen itu dan berbisik membuatku mengerutkan kening. Kemudian suara gitar mulai memecah keheningan malam itu.
Jikalau kau cinta
Benar-benar cinta
Jangan katakan
Kamu tidak cinta
Jikalau kau sayang
Benar-benar sayang
Tak hanya kata atau rasa
Kau harus tunjukkan
Jangan sampai hingga waktu perpisahan tiba
Dan semua yang tersisa hanyalah air mata
Mungkin saja cinta 'kan menghilang selamanya
Dan semua yang tersisa hanyalah air mata
Jikalau kau sayang
__ADS_1
Benar-benar sayang
Tak hanya kata atau rasa
Kau harus tunjukkan
O-o-o-u-wo ...
(Percayalah)
O-o-o-u-wo ...
(Percayalah)
Percayalah
Ke mana pun kau acuh
Cinta tak pernah rapuh
Berpaling pun tak mampu hilangkan cinta
Percayalah
Jangan sampai hingga waktu perpisahan tiba
Dan semua yang tersisa hanyalah air mata
Mungkin saja cinta 'kan menghilang selamanya
Dan semua yang tersisa hanyalah air mata
Cinta
__ADS_1
Suara sang pengamen sangat merdu membuatku merinding mendengarnya. Ketiga manusia di seberangku menoleh ke pengamen dan dengan cermat mendengarkannya sampai air mata Kak Bryan jatuh, namun ia tidak sadar. Entah apa yang ada dalam pikirannya, aku hanya tahu lagu ini mengena dihatinya. Walau lagu sudah habis dinyanyikan air mata kakakku belum juga usai, malah semakin deras. Ya itu pertama kalinya kulihat dengan jelas kakakku yang paling kuat menangis didepan mataku.