Relung Langit

Relung Langit
S2 Part 02


__ADS_3

Perubahan dinginnya itu bukan karena tidak menyayangi atau membenci sang mama. Hanya saja sang mama yang selalu menolak ketika Zayyan ingin bermanja, bukan tanpa alasan. Sang mama tidak ingin menantunya itu cemburu melihat sikap suaminya. Priyanka mengerti bagaimana jika dia ada di posisi sang menantu, ketika suaminya masih manja bersama ibunya.


Zayyan salah paham pada mamanya, dan wanita paruh baya itu pun enggan menjelaskan akan sikapnya. Zayyan cuma bertegur sapa layaknya tamu biasa. Sang mama juga masa bodo, bukan berarti tidak sayang. Ada titik di mana mereka berdua meluapkan kasih sayang.


"Mas, telepon Banyu dong. Aku kangen sama dia," ucap Aleta membuyarkan lamunan Zayyan.


"Aku baik-baik saja sama mama!" reflek Zayyan mencurahkan isi hatinya.


"Memang ada apa dengan mama, Mas?" tanya Aleta yang bingung akan ucapan suaminya.


"Eh, hm. Anu, sebenarnya aku sama mama lagi jauh. Kangen sama sikap mama." jujur Zayyan dengan wajah sendu membuat Aleta kaget.


"Maksudnya, Mas apa?" tanyanya yang tidak percaya dengan ucapan sang suami.


"Sebenarnya, sudah lama mama sedikit menjauhiku. Hanya saja di depanmu dia baik-baik saja. Mama tidak mau membuat kamu cemburu melihat sikapku ke mama. Jadi dia menjauhiku setiap aku ingin bermanja ria dengannya. Aku kangen mama, sayang!" jelasnya diiringi dengan isakan dan hal itu membuat Aleta ikut bersedih.


"Aku akan bicara sama mama." sahut Aleta dengan mendial nomor telepon sang mama mertuanya.


"Assalamualaikum, Ma. Mama sehat?" sapa Aleta dengan kelembutan.


"Waalaikumsalam, sayang. Kami semua sehat, kamu sendiri gimana?" sahut sang mertua dengan ramah.


"Kami baik, Ma. Ma, boleh aku bicara sama Banyu?" pinta Aleta dengan sangat hati-hati dan hanya di balas senyuman oleh sang mertua.


Aleta dan Zayyan berbincang-bincang dengan Banyu sangat seru. Mereka membahas batah tidaknya lelaki kecil itu disana. Sampai Banyu menyampaikan rasa tak ingin pergi dari sisi Omanya, sontak hal itu membuat kedua orang tuanya terbelalak. Zayyan tahu Banyu betah di sana bukan karena paksaan dari siapapun, tetapi kenyamanan yang dia rasakan.


Lagi pula di sana dia tidak sendiri ada anak kecil seusianya. Oma opanya pun melimpahkan dia kasih sayang yang sangat banyak. Sehingga siapapun yang tinggal dengan keduanya tak ingin jauh dari mereka. Usai mendengar cerita sang anak, Aleta meminta Banyu memberikan ponsel kepada Omanya.


Kini tujuan awal dia menelpon akan segera tersampaikan. Walau dia bingung harus memulainya dari mana. Dia merasa sungkan kepada sang mama mertua yang dirasakannya sangat mencintai dirinya lebih dari seorang menntu. Tak ada perbedaan antara dia dan Gia, sang mertua selalu menyama ratakan kasih sayang.


"Iya sayang, gimana sudah bicara sama Banyunya?" ucap mama mertua dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Sudah, Ma. Makasih ya Ma, sudah mau jagain dan rawat Banyu. Leta, malu sama Mama sebenarnya, berasa tidak becus jadi ibu." ucapnya dengan mata yang sendu.


"Kamu ngomong apa? Banyu itu juga cucu Mama, dan sama sekali tidak merasakan repot. Malah senang, rumah jadi rame." jelas Priyanka dengan penuh keibuan.


"Ma, Leta boleh curhat sama Mama?" tanya Leta dengan perlahan dan diangguki oleh sang mama mertua.


"Ma, Leta senang banget punya mertua seperti Mama. Tapi Leta juga sedih ketika lihat suami Leta sedih,," ucap Aleta terputus karena ucapan sang mama.


"Kenapa dengan Zayyan sayang? Kenapa dia sedih?" cerocos Priyanka penuh kekhawatiran dan membuat Zayyan yang duduk di sebelah Aleta tersenyum.


"Mas Zay baik-baik saja kok, Ma. Hanya saja, sikap Mama salah menurut Leta. Leta akui. dulu Leta sangat cemburu melihat Mas Zay bermanja ria dengan mama, tapi itu sebelum Leta tahu bahwa suami Leta juga mencinta Leta. Ma, biarkan Mas Zayyan bermanja saat bersama mama, ada waktunya seorang anak ingin dimanjakan kedua orang tuanya walau dia sudah menikah. Ma, Mas Zayyan masih ada tanggungan terhadap mama juga Gia. Berbeda dengan anak perempuan yang telah menikah. Jadi boleh Mama limpahkan kasih sayang mama kembali ke suami Leta? Dia rindu mamanya!" curhat Aleta yang tanpa sadar membuat air mata sang mertua meleleh dengan derasnya.


"Maafin Leta, Ma. Leta nggak maksud buat mama menangis." ucap Leta yang mendadak salah tingkah karena merasa bersalah ada sang mertua, namun dia mendapati gelengan kepala dari sang mertua.


"Kembalilah kalian ke rumah. Mama kangen!" ucapnya dengan sangat singkat dan itu membuat Zayyan bahagia.


"Kami akan segera ke sana, Ma." sahut Zayyan dan langsung mematikan telepon.


Kini keduanya telah siap dan keluar dari apartemennya menuju lift. Awalnya mereka memang enggan kemana pun karena hujan tak berhenti. Pernyataan sang mama membuat keduanya melupakan rasa ingin diam diri di rumah.


Sepanjang perjalanan dari apartemen ke parkiran mobil, Zayyan sangat posesif hingga tak membiarkan ada jarak walau sejengkal. Ia terus saja merangkul pinggang sang isteri. Sesampainya di mobil dia membukakan pintu di samping kemudi. Setelah sang isteri duduk dengan cepat ia masuk dan duduk di bangku kemudi.


Senyuman tak pernah luntur dari wajah Zayyan sambil mencium punggung tangan sang isteri. Aleta ikut tersenyum melihat suaminya kembali ceria.


"Aku bahagia melihatmu bahagia!" ucap Aleta sambil menatap sang suami.


"I love you, sayang," sahut Zayyan tanpa menjawab perkataan sang isteri.


"Mas, kok kamu jadi lebay deh sekarang ini. Bukan cuma lebay dalam sikapnya, tapi mesum dan manja banget. Pantes aja, mama nggak mau kamu gelendotin, capek ternyata ya!" ledek Aleta dan membuat Zayyan memanyunkan bibirnya.


Cup

__ADS_1


"Aish, curang ya. Ngambil kesempatan dalam kesempitan." gerutu Zayyan yang kaget pipinya di cium Aleta.


Keduanya tertawa akan sikap manis yang mereka lontarkan. Perbincangan ringan membuat perjalanan mereka tak terasa. Kini mereka telah memasuki perkarangan rumah orang tua Zayyan. Tampak sepi, tapi tidak sesepi kuburan.


Saat keduanya turun dan hendak masuk ke dalam rumah, terdengar suara tawa canda di halaman. Mereka langsung menuju ke sumber suara, di sana ada tiga anak kecil yang sedang bermain dengan riangnya. Aleta dan Zayyan tersenyum melihat anak-anak itu sangat bahagia.


"Assalamualaikum, kesayangan semua!" sapa Zayyan membuat ketiganya menoleh dan berlari menghampiri pasangan suami isteri itu.


"Waalaikumsalam," sahut ketiganya saat sudah di pelukan Zayyan.


"Kakak, ke sini nggak bawa makanan buat Ara?" tanya Amara dengan wajah sendu.


"Buat Rangga dan Banyu mana?" ucap Banyu dan Rangga bersamaan.


"Astagfirullah, lupa. Nanti setelah kami ketemu Mama dan Oma, kita ke minimarket aja ya! Gimana, boleh kan Bunda?" ucap Zayyan sambil menoleh ke arah Aleta dan ia mengangguk.


"Janji," teriak ketiganya.


"Oke bos-bos kecil, janji. Sekarang kita ke dalam dulu ya!" sahut Zayyan sambil mengajak ketiganya masuk.


Anak-anak itu berlari kecil masuk ke dalam rumah sambil memanggil Mama dan Oma. Zayyan masih saja menggandeng pinggang sang isteri, sambil tersenyum melihat tingkah bocah kecil itu. Tak lama Zeyden juga Priyanka keluar dengan wajah senang.


Zayyan dan Aleta langsung mencium tangan kedua orang tua itu. Tanpa persetujuan siapapun Zayyan langsung memeluk sang mama dengan erat. Priyanka hanya mengelus kepala sang anak.


"Maafin mama ya, nak! Mama juga kangen kamu." bisiknya sambil mengelus kepala Zayyan.


"Leta, masuk yuk." ajak Zeyden sambil merangkul sang menantu yang diiringi ibu dan anak yang juga saling merangkul.


Kedua pasangan itu duduk di ruang keluarga bersama para anak kecil. Mereka asyik berbincang-bincang dengan diiringi canda tawa. Kebersamaan yang beberapa lalu sempat hilang sudah kembali pulih. Keharmonisan kembali tampak dengan indahnya.


***

__ADS_1


Hayo jangan lupa votenya ya. like yang banyak juga ya.


__ADS_2