
Walau mereka berdua para lelaki kesal. Mau tidak mau mengikuti semua keinginanku. Kami berempat menuju stasiun dengan diantar supir Ayah. Anyelir masih bingung dengan tujuanku kali ini dan dia hanya diam.
Didalam kereta, tepatnya di gerbong eksekutif. Aku duduk berdua dengan suamiku sedangkan mereka berdua agak jauh dariku. Sengaja aku menjauhkan tempat duduk mereka dariku. Ibaratny aku sekarang ini menjadi cctv kedua orang itu.
Aku tahu kedua orang itu pasti sangat canggung. Sebab tadi Anyelir sempat meminta tukar tempat duduk dengan Zeyden. Hanya saja aku mampu memberikan jawaban yang masuk akal, kalau Zayyan tak bisa jauh dari Zeyden. Kini dari tempatku duduk terlihat jelas kalau mereka masih gelisah saat duduk.
Mereka duduk di bangku depan sedang aku di belakang. Anyelir masih nampak nengok ke arahku sesekali hanya dalam hitungan menit. Aku hanya tersenyum dalam hati melihat tingkah sahabatku yang risih dengan keadaan itu.
"Jahil banget sih kamu sama Anyelir dan Kak Ar." ucap Zeyden sambil mencolek hidungku dan aku tersenyum licik.
Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselku dengan segera aku buka dan baca.
***MR. A
Jahilnya Ade gue. Kasihan sohib lo nih nggak tenang duduk samping gue.
Priyanka Pradipta Putria
Ya, Kakak harus bisa buat dia tenang dan nyamanlah. Kalo nggak bisa lakuin itu. Aku telepon Kak Bi biar nyusul ke lokasi kita liburan. Gimana?
__ADS_1
MR. A
Duh, ancemannya lumayan bikin orang ketar-ketir ya. Doain aja biar berhasil bikin dia nyaman***.
Aku tak membalas pesan itu. Tapi sebuah notifikasi pesan kembali kuterima. Saat kubuka nama Anyelir yang terpampang.
***Anyelir
Jahat lo, bik8n gue nggak nyaman gini.
Priyanka Pradipta Putria
Anyelir
Loh kok Kak Bi dibawa-bawa sih. Kan mggak ada urusan sama gue nggak nyaman saat ini.
Priyanka Pradipta Putri
Ya lo kalo sama Kak Bi, nyamankan?
__ADS_1
Anyelir
Au ah, ngomong sama lo nggak nyambung mulu. Males gue***.
Aku tersenyum membaca pesan terakhir dari sahabtku itu. Tapi setengah perjalanan kulihat kini Anyelir mulai nyaman. Itu terlihat dan bahkan terdengar dari ketawa keduanya yang memecah keheningan dalam gerbong kereta. Zayyan menangis, aku langsung berdiri dan membawanya berjalan-jalan di dalam gerbong itu. Aku menghentikan langkah saat berada disamping bangku kakak dan sahabatku. Aku tersenyum melihat kedua manusia yang sedang bercengkrama. Zayyan pun berhenti menangis, seakan dia tahu bahwa Daddynya tengah berbahagia.
Aku kembali ke tempat duduk, Zeyden bingung melihatku tersenyum. Sambil memberikan Zayyan yang sudah tidur kepada suamiku tersayang. Lalu aku pejamkan mata sambil menyandarkan kepala ke pundak Zeyden. Suamikupun tertidur sambil memeluk putra tercintanya.
"Hm.. Enaknya pada pules kalian." teriak Anyelir membuat kami kaget termasuk Zayyan yang langsung menangis.
"Gila kali lo ya.. Anak gue sampe nangis gini." kesalku langsung menggendong Zayyan.
"Anye, parah lo. Anak gue bisa sawan itu." kesal Zeyden pada sahabatku.
"Sorry nggak maksud gue." sesal Anyelir dengan wajah sedih.
"Ada apa sih?" tanya Kak Aryan menghampiri kami.
"Uh, anak Daddy kenapa nangis? Sini sama Daddy." ujar kakakku sambil mengambil Zayyan dariku.
__ADS_1
Zayyan langsung diam saat digendong sama kakakku. Anyelir masih mematung dengan wajah sedih. Aku dan Zeyden hanya memerhatikan kedua manusia didepanku.