Relung Langit

Relung Langit
Part 149


__ADS_3

Waktu terus berlalu, anak bungsuku sudah duduk di bangku sekolah dasar kelas 2. Sedangkan yang lain masih sibuk dengan kuliah S2 dan S3 juga kerjanya. Seakan ketiga bujang itu tidak pernah memikirkan berumah tangga. Terlalu asyik dengan dunia mereka saat ini itu yang kadang menjadi kekhawatiran orang tua tanpa diketahui anaknya.


Zeyden sering meledek ketiga bujangnya itu dengan menanyakan pacar mereka masing-masing, tapi dijawab sama masalah politik atau kerjaan. Sebagai orang tua kami tahu bahwa mereka banyak yang mengejar-ngejar, karena tampang juga kekayaan mereka.


Entahlah, mereka bagaimana cara meminta menantu pada para bujang itu. Dua keponakanku malah sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Putriku dan keluarga kecilnya sudah pindah ke rumah milik mereka yang tak jauh dari kami.


Zayyan sudah pindah haluan dari bisnisman menjadi dokter. Gara tetap melanjutkan impian sang Opa. Rakha anak ini semua dia lahap, karena ia ingin bisa menjalankan semua dengan baik. Walau usia mereka semakin bertambah, sikap manja mereka padaku masih tetap sama. Tetapi sikap dingin, acuh dan datar mereka makin bertambah.


***


Hari ini adalah hari ulang tahun Amara, Zeyden merayakan dengan gembira di salah satu resto milik kami. Dia mengundang anak yatim juga teman sekolahnya Amara. Semua keluarga kami berkumpul lengkap termasuk Ayah juga mertuaku. Putri kecilku sangat cantik, dengan pakaian ala princess cinderella.


Semua tiba di resto tempat acara. Para undangan beserta orang tuanya sudah memenuhi ruangan. Zayyan dan Gara memilih duduk di dekat sang adik sedangkan Rakha super sibuk dengan hal kecil dalam acara itu. Bagaimana tidak sibuk, diakan nannynya Amara. Walau ada acara di resto itu tak lantas menutup akses para pengunjung umum.


Acara dimulai dengan penuh khidmat, banyak hal yang terlontar dari mulut para orang tua teman sekolah Amara yang membicarakan ketiga bujangku. Ah, rasanya tak rela mereka jadi bahan gosip. Walau yang digosipkan masalah sosok tampan dan kesuksesan mereka.


"Cowok yang pakai kaos navy, ganteng banget ya, Jeng. Dia siapanya Amara ya?" percakapan itu sempat terdengar ditelingaku saat hendak mengambil minuman untuk Zeyden.

__ADS_1


"Itu bukannya Dokter Zayyan, dan di sebelahnya itu Tuan Anggara kan? Penerus tahta keluarga Pradipta," sahut ibu yang berbadan sedikit gemuk.


Aku berlalu dengan wajah di tekuk tak suka putra-putraku menjadi bahan pembicaraan. Zayyan dan Gara semakin risih berada di sana. Sepanjang acara mereka tak ada senyuman, hanya sekeli ketika si kecil menengok ke arah kakaknya. Ah, susah jika memiliki anak yang super dingin seperti ini.


Acara pun kelar. Secepat kilat putra-putraku sudah menghilang membawa si kecil. Mereka sengaja membawa Amara, karena kalau tidak anak kecil itu akan cerewet menanyakan kehadiran kakak-kakaknya. Kini aku juga Zeyden segera menyusul mereka usai semua urusan di sini selesai.


Mereka sudah menunggu di ruang VVIP. Amara sedang disuapi oleh oleh Rakha. Ketiga pemuda itu asyik curhat sampai tak sadar kehadiran kami berdua. Ah, semua keluarga sudah kembali pulang termasuk Gia beserta suami juga anaknya.


"Kalo bukan karena Amara dan Mama. Mana mau Gara dateng," celetuk Gara sambil memasukkan makanan ke mulutnya.


"Kalian kapan ada waktu kalo nggak ada acara gini? Tubuh kalian juga butuh refreshing, kami juga kangen bisa ngobrol lama sama kalian!" seru Zeyden menepuk kedua pundak putranya dan mereka menoleh akibat kaget.


"Aku dan Rakha ya nunggu yang tua dulu atuh, pamali di langkah dua kali," sahut Gara sambil bertos ria dengan sang adik dan di tatap tajam oleh Zeyden.


"Kalo kalian sudah ada calon silakan duluan, aku tidak masalah!" Zeyden tak kalah telak membuat keduanya bungkam dan memilih diam.


"Hm, nggak usah saling lempar deh. Mama tanya kalian bertiga. Apa kalian tahu sudah banyak gosip diluaran sana tentang kalian?" tuturku semakin menampilkan wajah sedih.

__ADS_1


"Cukuplah, Ma. Ucapan mereka tak bisa didengar gitu aja!" seru Rakha mulai sebal melihat aku yang mendengarkan omongan orang tidak guna.


"Okey, terserah kalian saja. Asal jangan makin lama, karena kita tidak ada yang tahu usia kita sampai mana. Mama hanya mau mengendong cucu dari kalian. Itu saja," ucapku dengan wajah sedih tapi segera aku tersenyum.


Ketiganya bujangku langsung memelukku usai bangkit dari duduknya. Mereka menciumi wajahku tanpa terlewat sedikit pun. Aku merasa risih sendiri dan menyuruh mereka menikmati makanan kembali.


***


Pagi ini semua sudah bersiap hendak ke kantor dan sekolah. Mereka menggunakan satu mobil untuk berangkat. Zayyan bekerja di rumah sakit Zeyden sebagai dokter bedah. Dia terkenal sebagai dokter dingin tak kalah dingin dengan sang Ayah. Walau Zeyden sudah jarang bertugas, tetapi dia masih ke rumah sakit sesekali mengecek laporan-laporan.


Lebih dulu Zeyden mengantar Rakha ke resto miliknya. Lalu Gara yang diantar ke perusahaan Pradipta, bersamaan dengan Amara. Ya, sekolah si kecil memang tak jauh dari kantor Gara. Selanjutnya tinggal Ayah dan anak ke rumah sakit.


Keempat lelakiku itu selalu jadi pusat perhatian setiap kali mereka bersama si kecil. Siapapun yang menemaninya akan digangguin oleh ibunya teman sekolah Amara. Tinggal kupingku akan panas mendengar aduan mereka.


Zayyan, Gara dan Rakha paling sebal dengan cewek-cewek yang ngejar-ngejar mereka. Maka dari itu dia malas untuk berpacaran. Aku hanya pasrah menerima setiap keputusan mereka, karena ketiga lelakiku itu belum menemukan tambatan hatinya. Tak ada yang memaksa di keluarga Thamrin atau Pradipta untuk mereka segera melepas masa lajangnya.


Walau sudah ratusan kali rekan bisnis memintaku, Kak Bryan, Kak Aryan bahkan Ayah untuk menikahkan salah satu dari ketiga putraku. Kami tidak mengiyakan atau menolak, hanya selalu mengatakan semua keputusan ada di tangan anak-anak. Ketiga putraku memang tak pernah dekat dengan siapapun, ah Rakha yang pernah dikejar-kejar wanita saja memilih mundur.

__ADS_1


Wanita itu pun menyerah saat dia harus menerima keputusan orang tuanya untuk menikahi lelaki pilihan mereka. Rakha hanya diam tak menggubris wanita itu. Aku berharap suatu saat mereka akan menemukan pasangan mereka segera.


__ADS_2