
"Kak Ar kenapa? Kok tumben beda gini!" ucapku bingung dengan perubahan kakakku yang satu ini.
"Zey, biarin gue manja-manjaan dulu ya sama princess. Gue kangen adik kecil gue." ujarnya makin memperat pelukannya dan Zeyden hanya menganggukkan kepala.
"Iya, tumben banget Kak Aryan sikapnya kayak gini. Nggak biasanya!" batin Zeyden.
Kak Aryan masih memelukku dan menciumi keningku tanpa jeda. Ketiga orang yang melihatnya makin bingung. Kak Aryan tak pernah bersikap posesif padaku, tapi kali ini dia hanya mau berdekatan denganku.
"Kak, gue iri loh. Gue juga ade lo masa cuma princess aja yang diperlakukan istimewa kayak gitu. Kan yang mau nikah gue bukan princess!" protes Kak Bryan membuat yang lain tertawa.
"Gue.. Belum butuh lo saat ini Bi. Cuma princess yang bisa nenangin gue!" ucap Kak Aryan masih tenggelam dalm pelukanku.
"Kita ke gazebo aja yuk kak." bisikku ditelinga Kak Aryan dan kami bangkit berjalan menuju gazebo tanpa melepas rangkulan tangan.
Aku duduk tepat didepan Kak Aryan dengan wajah sendunya. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Aku tak tega melihat kakak sulungku seperti itu. Dia yang selalu ceria kini lesu tanpa kuketahui sebabnya. Pandangannya hanya ke depan melihat ke kolam renang.
"Kamu bahagia bersama Zeyden, sayang?" tanyanya membuatku menoleh dan menatapnya dalam-dalam.
"Apa kamu bisa pisah dengan Bi?" tanyanya lagi membuat aku makin bingung.
__ADS_1
"Kakak kenapa sih?" tanyaku masih bingung dengan keadaan kakakku.
"Jawab pertanyaanku tadi, De!" titahnya dengan wajah sangat dingin.
"Pertama aku bahagia bersama Zeyden. Kedua berpisah dengan kalian semua membuat aku sedih, kalian adalah separuh jiwaku kak." jelasku sambil menggenggam tangannya yang dingin.
"Aku akan pergi setelah Bryan ijab kabul. Aku tidak bisa menemanimu dan yang lain di hari bahagia Bryan. Maafkan aku ya." ujarnya dengan menundukkan kepalanya.
Aku menangkup wajahnya dengan tanganku, kutatap matanya dalam-dalam. Disana aku jumpai kesedihan, ketakutan dan kehancuran. Tak ada kebohongan sedikit pun darinya. Refleks aku memeluk kakakku sangat erat, aku takut hal itu terjadi. Aku tidak siap ditinggal oleh salah satu dari orang terkasihku. Tangisku pecah membuat hatiku hancur.
"Jangan nangis sayang, aku masih disini sampai beberapa hari lagi. Tapi aku tak tahu sampai kapan aku akan meninggalkanmu." ujarnya sambil menyeka air mataku.
"Jangan tinggalin aku, jika kakak masih mau lihat senyumku di wajah ini." sahutku dengan nada memohon.
"Aku tidak bisa mengabulkannya sayang. Maaf." sahutnya sambip memelukku erat.
Kulepaskan pelukannya dan berlari kedalam menuju kamarku. Semua yang diruang keluarga menatapku bingung. Zeyden mengejarku dan Kak Bryan menghampiri Kak Aryan yang masih duduk di gazebo. Kak Bryan dengan wajah murkanya menghampiri kakaknya.
"Apa yang lo lakuin ke princess sampai dia menangis seperti itu?" tanya Kak Bryan sambil menarik kerah baju kakaknya.
__ADS_1
"Gue akan pergi Bi. Setelah lo ijab kabul, gue nggak tahu kapan akan kembali." ucap Kak Aryan jujur.
Buk..
"Gila lo ya, ngapain lo pergi? Gue nggak akan biarin lo pergi. Kita dari kecil sama-sama Ar. Princess sakit saat pisah sama gue, gimana sama lo? Plis lo pikirin baik-baik, kalo lo sayang sama princess batalin rencana konyol lo itu." ucap Bryan sambil memukul kakaknya.
"Apa alasan lo pergi adalah Anyelir?" tanya Kak Bryan dan membuat Kak Aryan mengdongakkan wajahnya.
"Semua karena Anyelir, kalo dia bisa nahan lo nggak pergi. Gue siap melepaskannya kak, asal hubungan kita nggak putus terlebih nggak bikin princess nangis." ujar Kak Bryan hendak pergi.
"Bukan Bi. Gue harus pergi, tanpa atau kalian ijinkan. Masalah princess gue yakin lo bisa hadapi dia sendiri." jelas Aryan.
"Gue mohon jangan pergi Kak." ucap Kak Bryan sambil berlutut di hadapan kakaknya.
"Tapi Bi, gue harus pergi." ujar Kak Aryan memelas.
"Kakak yakin mau pergi ninggalin keponakan kakak yang ganteng ini? Gimana kalo dia nanyain Daddynya?" tanyaku sambil menggendong Zayyan dan mulai mendekat pada kedua kakakku.
Anyelir dan Zeyden mengekor dibelakangku. Kak Ryan langsung memeluk aku juga Zayyan bersamaan. Isakan kami bertiga cukup membuat orang yang mendengarnya ikut terharu. Tak berapa lama kami bertiga tertawa setelah menangis. Kak Ryan dan aku tersenyum sambil menggelengkan kepala masing-masing.
__ADS_1