Relung Langit

Relung Langit
Part 22


__ADS_3

Jam dinding menunjukkan pukul 14.00. Aku bersiap-siap karena dua jam dari sekarang adalah waktu aku meeting. Rasanya malas aku pergi keluar rumah, disamping cuaca yang sangat terik.


Aku berdandan dengan pelan sekali, karena rasa malas yang mendera. Suamiku sudah siap dari tadi, wajahnya mulai bete karena melihat diriku yang bergerak makin lambat. Dia gemas padaku, sikap leletku yang pertama kali ini benar-benar membuatnya bete.


"Jalanan itu macet luar biasa, aku tidak pernah ngaret. Tapi kali ini.." gerutunya dengan suara yang cukup kencang sehingga aku mendengarnya.


"Maaf ya, entah kenapa aku malas sekali keluar Kak." ujarku sambil sedikit mempercepat gerakanku.


Kamipun berangkat ke tujuan. Kak Zey mukanya ditekuk, aku yang melihatnya malah tertawa karena lucu. Suamiku sempat melirik kearahku dengan lirikan membuat hatiku bergetar.


"Maaf sayang. Abis kamu lucu banget sih kalo manyun-manyun gitu." ujarku sambil bergelendot manja di tangannya dan dia mengecup kepalaku.


"Kamu tuh ya, tau aja aku nggak bisa marah sama kamu." ujarnya sambil mengelus pipiku.


"Emang kamu bisa marah?" tanyaku yang membuat dia tersedak.

__ADS_1


"Sampe kaget gitu sayangnya aku." ujarku sambil memukul-mukul punggungnya.


Selama aku kenal Kak Zeyden, tak pernah sekalipun. Aku melihatnya marah. Pernah waktu Zahra kecil dan dia dipukul sama teman Zahra sampai berdarah. Zeyden hanya mengobatin luka adiknya dan ketika orang tua anak itu datang.


"Maafkan anak saya, sudah melukai Zahra. Saya akan membiayai pengobatannya" ujar ibu anak itu dengan wajah memelas.


"Sudah tidak apa-apa Bu. Bukan salah anak ibu juga, mungkin Zahra yang mainnya tidak hati-hati." ujarnya sambil tersenyum.


"Dan kamu kalau main hati-hati ya. Jangan sampai terluka seperti Zahra." ujarnya pada anak itu sambil mengelus kepalanya.


"Aku risih di liatin kayak gini, Kak." ujarku dengan wajah sedikit masam, dan suamiku hanya tersenyum.


Tanpa banyak bicara kami mencari tempat yang bisa dilihat dengan orang yang akan kami temui. Saat sudah menemukan tempat yang pas, telepon Kak Zeyden berbunyi. Dia memberi isyarat akan mengangkat telepon dulu, dan aku mengangguk.


Aku memilih menu makanan dan minuman yang akan aku makan. Aku memanggil pelayan dan memesankan makanan untuk kami berdua. Tak berapa lama suamiku selesai teleponan dan menatap aku.

__ADS_1


"Sebentar lagi dia sampai. Sudah di parkiran." ujarnya dengan memegang tanganku.


"Aku sudah memesankan makanan untuk kita berdua." ujarku sebelum ditanya.


Aku mengambil ponsel dan memainkannya. Sampai seseorang berdiri di depan kami dan aku masih belum sadar.


"Sayang, ini Mas Gibran WO kita." ujar Zeyden sambil mengusap pundakku dan aku bangkit.


Bagai tersambar di siang bolong saat ku dongkakkan kepala menatap sosok yang diperkenalkan Zeyden padaku.


"Ya Allah, ujian macam apa yang kau berikan padaku." ujarku dalam hati dan tak terasa air mataku menetes.


"Sayang, kamu kenapa? Kok nangis." ujar suamiku kaget dan segera menghapus air mataku.


Lelaki di depanku hendak melakukan hal yang sama namun urung ia lakukan. Ia tersenyum manis padaku. Semakin ia tersenyum semakin deras air mataku mengalir. Aku sudah berusaha tidak menangis tapi tidak bisa. Air mataku mengkhianatiku. Aku memeluk dan menyusupkan wajahku ke suamiku.

__ADS_1


__ADS_2