
Aku tidak menyangka pertunanganku berubah jadi pernikahan. Aku juga tidak sadar jika rumahku sudah dihiasi dengan sangat indah. Atau memang tadi tidak melihatnya karena sedang galau. Aku bahagia dengan semuanya, jelas sudah. Mungkin kisah percintaanku akan selesai dengan indah.
Selesai mandi, kukenakan kebaya yang diberikan Bunda tadi. Aku sempat mengaca, cantiknya diriku dengan kebaya ini. Aku termenung melihat kecantikanku yang tak kusadari, selama beberapa jam di kamar mandi. Sampai akhirnya terdengar suara ketukan pintu dari luar dan memanggil-manggil namaku.
"Priyanka, kamu baik-baik saja nak." suara Bunda panik, karena hampir 3 jam aku di kamar mandi.
Aku melangkah mendekati pintu dan kuraih gagangnya. Disana sudah ada Bunda, kedua kakakku, Ayah, Zeyden beserta keluarganya dengan wajah panik. Aku bingung dengan kehadiran mereka.
"Ada apa?" tanyaku tanpa dosa dan langsung dijitak Kak Aryan.
"Ada apa, ada apa. Bikin orang panik aja sih, 3 jam nggak keluar dari kamar mandi. Ngapain aja didalem?" ujar Kak Aryan tanpa henti sambil mengacak-ngacak rambutku.
"Hehehe.. Aku mandi terus melamun di depan kaca, karena terpesona melihat wajahku." ujarku dengan polos dan membuat semua orang mencubitku.
"Sekarang yang lelaki keluar ya!" seru Bunda sambil mendorong mereka.
__ADS_1
Walau mereka pada meronta-ronta enggan meninggalkan kamarku. Tetap sang ratulah yang menang. Kamarku kini telah di datangi Zahra dan keluarganya juga Bunda. Aku langsung disuruh duduk di depan meja rias. Zahralah yang mendandaniku. Semua wanita yang ada di kamarku tengah bersiap-siap tampil cantik.
***
"Zeyden.. Awas lo ya bikin, princess kami kayak kemarin-kemarin lagi. Kalo sampe dia nangis. Ini buat lo." Ancam Kak Bryan sambil mengepalkan tangan didepan mukanya.
"Iya Kak. Gue minta maaf ya." ujarnya sambil menurunkan tangan kakakku yang gantengnya kayak artis india Shaheer Sheikh.
Dibawah mereka asyik bercanda dan saling menasihati, sambil menunggu pak penghulu datang. Ayah yang cemas akan melepas putri kecilnya dan Om Zaid yang dari tadi cuma bisa menenangkan Ayah.
"Saya mau ketemu sama Zeyden." Seorang berpakaian preman lengkap dengan tato di sekujur tangannya, mencari Zeyden.
Sekuriti sempat menghalang orang itu masuk, tapi tetap kalah. Akhirnya Om Zaid menemui preman itu dan menanyakan tujuan dia datang ke rumahku. Tampak di wajah kedua orang itu mengeluarkan emosinya masing-masing.
Zeyden di umpetin dalam kamar Ayah, oleh kedua kakakku. Mereka tidak mau Zeyden kenapa-kenapa, terlebih ini hari bahagia. Preman itu berteriak bagai orang gila memanggil nama Zeyden. Aku yang dilantai atas kaget mendengarnya. Aku seperti mengenal suara itu. Riasanku sudah selesai, aku minta ijin untuk keluar, namun dihalangi oleh Bunda dan Mamanya Zeyden.
__ADS_1
"Priyanka harus keluar dulu Bun, Tan." ujarku sambil mencoba melepaskan tangan mereka.
"Nggak sayang!" seru mereka berdua kompak.
"Percaya sama Priyanka. Nggak akan terjadi apa-apa. Aku kenal suara itu." jelasku dengan pelan-pelan namun tetap tidak berhasil.
"Ra, ijinin aku keluar sebentar aja. Aku yakin bisa nyelesaiinnya kok." bujukku ke calon adik iparku.
"Nggak bisa Kak Iya. Aku nggak mau kakak kenapa-kenapa." ucapnya dengan air mata di pipinya.
"Kalo gitu kita turun semua kebawah. Bagaimana?" ucapku sambil melihat ke mereka semua.
Mereka semua kompak menggelengkan kepala. Raut wajah mereka ketakutan, aku tahu mereka takut hal buruk terjadi. Tapi firasatku mengatakan ini hanya keslah pahaman. Di sisi lain Zeyden yang ingin keluar pun di tahan oleh kedua kakak kembarku.
Teriakan preman itu kembali. Aku masih penasaran dengan suara yang tak asing bagiku. Aku hanya ingin melihat dan mengetahui tujuan orang itu dengan Zeyden. Aku hanya tidak mau orang itu menyakiti bahkan mengacaukan acaraku. Aku mencoba tenang dengan kembali duduk, yang kali ini duduk di pinggir ranjang.
__ADS_1