
Sudah terdengar suara orang-orang mengaji. Lantunan ayat suci Al-qur'an yang dibacakan sangat membuat hatiku adem. Kemarahan sama Zeyden seakan lenyap. Aku menoleh kearah Zeyden dan tersenyum, betapa beruntungnya aku menjadi isterinya. Lelaki yang kesabarannya luar biasa, tak pernah marah atau berkata kasar padaku.
Zeyden menuntunku perlahan. Aku masih menatapnya dengan penuh cinta dan dia mendadak membalas pandanganku, hal itu membuat aku grogi parah. Aku lepaskan tanganku dari gandengannya. Segera aku mempercepat langkahku menuruni anak tangga. Aku malu ditatap penuh cinta olehnya.
"Priya.." teriak Zeyden membuat latunan ayat suci terhenti.
"Priya bangun sayang."
"Jangan tinggalin aku sayang. Bangun sayang" pinta Zeyden sambil menepuk-nepuk pipiku. Air matanya menetes tanpa henti.
__ADS_1
Semua orang berhamburan kearah sumber teriakan. Dibawah tangga, aku tergeletak dengan darah dimana-mana. Jilbab dan gamisku berubah warna menjadi merah. Zeyden langsung mengendongku keluar, sedangkan Kak Aryan mengambil mobil.
Mobil sudah siap membopongku. Zeyden tanpa henti membuat napas buatan agar aku tetap bertahan. Kak Aryan membawa mobilnya sangat kencang. Zeyden hanya mampu berdoa agar aku segera sadar dan selamat.
***
Aku sudah di rumah sakit milik Zeyden. Dia langsung turun tangan menanganiku dan anaknya. Walau teman-teman seprofesinya meminta mereka saja yang menanganinya. Zeyden tetep bersikeras menginginkan dirinya yang menolong isteri dan calon anaknya.
Kurang lebih tiga jam sudah Zeyden menanganiku. Pendarahanku luar biasa, berbagai cara dia coba agar pendarahannya berhenti. Untungnya stok darah ada dan sudh di transfusi ke aku. Zeyden mengambil langkah operasi caesar untuk mencoba menolong buah hati kami.
__ADS_1
Dia berhasil mengeluarkan bayi kami. Tapi bayi itu hanya diam tak bersuara. Segala usaha sudah dilakukan oleh teman seprofesinya yang handal dalam urusan anak. Di dadanya sudah dipasang alat untuk mengetahui detak jantungnya. Tapi dilayar monitor hanya garis lurus yang nampak.
Sang dokter bingung harus mengatakan apa pada temannya itu. Bayi kami sudah tidak ada. Semua mereka lakukan, mulai CT Scan kepala dan badan, hanya kepala yang mengalami retak di tempurungnya. Aku pun sudah selesai ditangani oleh Zeyden.
"Bagaimana anak saya dok?" tanya Zeyden yang berharap ia bisa menyelamatkan buah hatinya.
Tapi dokter itu hanya diam dengan wajah pucat pasi. Seakan tahu maksud rekan kerjanya itu, Zeyden langsung mengambil alih penanganan si kecil. Semua usaha ia lakukan, si kecil masih belum mau bergerak. Zeyden sudah sangat pasrah, tapi dia berharap sang anak bisa bergerak. Jika aku tahu akan kehilangan buah hati kami, mungkin aku akan depresi atau segalanya. Zeyden tidak mau aku kenapa-napa, begitu juga dengan buah hati kami.
"Ijinkan aku mendekapnya dok." pinta Zeyden pada rekan kerjanya yang berdiri disampingnya. Rekan kerjanya hanya menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Sayang, Papa mohon sama kamu, Nak. Jangan tinggalin kami. Kami belum siap kehilangan kamu. Kami akan merawat kamu apapun kondisi kamu." bisik Zeyden saat mendekap sang anak.
"Kalo kamu pergi secepat ini tanpa Mamamu melihat terlebih dulu, dia akan sedih, Nak. Bangun dan tetaplah bersama kami." lirihnya sambil menitikkan air mata.