
Akhirnya selama di Jogja kami berpisah. Kak Aryan menikmati liburan bareng sahabatku dan aku dengan keluarga kecilku. Sebal jelas, hanya saja aku biarkan karena tujuanku untuk menyadarkan rasa yang ada diri sahabatku.
Aku sedang menikmati pemandangan laut, Zeyden ingin ke pantai indrayanti. Kami tidak ada yang bermain air, hanya mengajak Zayyan berjalan dipasir dan menikmati menu makanan laut. Saat aku sedang bercanda dengan Zayyan tiba-tiba ponselku bergetar hebat.
***Kak Bi
Oh, jadi kamu lebih pilih kasih ya De. Kamu memihak sekarang antara kami berdua.
Priyanka Pradipta Putria
Maksud Kak Bi apa?
Kak Bi
Ngapain kamu suruh Ayah bawa kakak kesini? Sedangkan kamu malah mengajak Kak Aryan dan Anyelir liburan. Segitunya kamu mau Anyelir sama Kak Ar, De?
Priyanka Pradipta Putria
Bukan gitu maksud Princess kak. Kalo kakak sama Anyelir kan sering tuh bareng-bareng, ya walau ada aku dan Zoan. Sedangkan Anyelir belum pernah komunikasi sama Kak Ar. Anyelir juga masih ragu sama siapa yang dia sukai kak. Plis deh jangan kekanakkan.
Kak Bi
Tanpa atau dengan kamu aku akan berusaha dapetin hatinya Anyelir. Walau aku dan dia jauh, aku percaya kita bisa bersatu.
Priyanka Pradipta Putria
__ADS_1
Kak, nanti ada jalan buat kalian yang aku siapkan. Plis jangan rusak rencanaku.
Kak Bi
Aku nggak peduli lagi De. Kamu udah khianati aku.
Priyanka Pradipta Putria
Plis jangan kekanakkan deh. Kalo kakak ngerasa Anyelir itu sudah cinta sama kakak. Kenapa kakak harus sepanik ini***?
Tak ada lagi jawaban dari kakakku tersayang membuatku sedikit was-was. Ya ini pertama kalinya Kak Bi marah padaku. Dan ini hanya karena cewek lain yang aku dekatkan dengan kakak kami. Aku menjadi murung hal itu membuat Zeyden sedikit khawatir. Dia letakkan tangan dikeningku, kemudian dia memelukku masih dengan Zayyan di gendongannya.
***
"Kamunya murung gitu Yang. Kalo mau tetap disini kamu jangan pikirin dulu omongannya Kak Bi. Okey?" ujar Zeyden sambil membelai kepalaku dan aku mulai tersenyum tanda aku setuju.
Untuk kali ini aku melupakan marahnya Kak Bi. Walau tidak sepenuhnya aku bisa melupakan perkataan Kak Bi gitu aja. Aku memandikan Zayyan sedangkan Zeyden masih berkutik dengan laptopnya. Ya walau liburan dia masih menerima laporan.
Setelah Zayyan wangi aku memberikan pada Zeyden. Suamiku tercinta hanya menatapku saat aku menaruh Zayyan di pangkuannya. Aku langsung berlari ke kamar mandi dan Zeyden hanya menatapku lalu menggelengkan kepala.
Satu jam berlalu aku masih belum keluar dari kamar mandi, membuat Zeyden gelisah. Dia menaruh Zayyan di kasur, lalu dikelilingi bantal untuk menjaganya. Zeyden langsung mengetuk pintu namun tak ada respon. Dia langsung melangkah masuk kedalam tanpa permisi. Aku ada di dalam bathup dengan mata terpejam.
"Yang." ujar Zeyden sambil menghampiri dan menepuk pundakku, namun tak ada respon.
Zeyden panik dia langsung meraih handuk dan memakaikannya ke aku. Dia menggendongku dengan menaruh disamping Zayyan. Zeyden keluar kamar langsung mengetuk pintu kakak dan sahabatku namun hasilnya nihil. Dia langsung menelpon service room untuk dipanggilkan dokter. Tak berapa lama dokter tiba dan langsung memeriksaku.
__ADS_1
"Istri saya gimana dok?" tanya Zeyden dengan wajah khawatir.
"Tidak apa-apa. Dia hanya sedikit stress. Apa sebelumnya dia sedang ada masalah?" ujar dokter lalu dianggukkan oleh suamiku.
"Baiklah kalo begitu. Ini resepnya ya, saya berikan vitamin juga." ujar sang dokter sebelum dia pamit.
Zeyden bingung, tak mungkin di keluar membeli obat dan vitamin yang ada didalam resep dokter. Zeyden khawatir jika dia pergi terjadi sesuatu dengan isterinya. Dia langsung menelpon seseorang yang memang pergi liburan bersama niatnya.
"Dimana?" tanya Zeyden dengan nada khawatir.
"......"
"Balik ke hotel sekarang istri gue pingsan." ujarnya kemudian mematikan teleponnya.
Selang beberapa menit pintu kamar kami di ketuk dengan beringas. Zeyden membukakan pintu sambil menggendong Zayyan. Dia mengintip siapa gerangan tamunya, dan ternyata sesuai harapan. Dia membukakan pintu tapi tidak membiarkan mereka masuk.
"Kak, tolong beliin obat ini ya." ujarnya dengan datar sambil memberikan resep dokter.
"Kenapa gue?" tanya Aryan bingung karena dia ingin melihat adiknya.
"Gue nggak bisa ninggalin isteri dan anak gue Kak. Jadi gue mohon banget sama lo kak." ujarnya dengan wajah memelas.
Kak Aryan melihat kekhawatiran di wajah adik ipar dan melihat wajah ponakannya yang lucu akhirnya menganggukkan kepalanya. Seketika Kak Aryan pergi meninggalkan kamar kami. Anyelir langsung menuju ranjang dimana aku berbaring. Wajahnya sangat khawatir, dan saat dia membelai pipiku sambil menangis. Zeyden menghampiri Anyelir dan memberikan Zayyan kepadanya lalu dia mendongkak kepala menatap Zeyden dengan aneh.
"Nitip, gue mau mandi." ujarnya sambil menuju lemari mengambil pakaian ganti lalu ke kamar mandi.
__ADS_1