Relung Langit

Relung Langit
Part 125


__ADS_3

Hai kesayangan aku. Bagaimana kabar kalian?? Semoga selalu baik-baik saja ya..


Sudah siap-siap lanjut ceritanya nggak?? Yuks.. 1.. 2.. 3.. Mulai..


***


Di kediaman Zeyden


Drrt.. Drrt..


Ponsel Zeyden bergetar hebat membuat dia melirik sesaat dan meninggalkanku yang tengah asyik menyaksikan film di televisi. Aku hanya melirik saat Zeyden bangkit dari duduknya dan meninggalkanku. Hanya berpikir positif mungkin itu dari karyawannya untuk membahas masalah rumah sakit. Film favoritku mampu mengalihkan Zeyden dari duniaku sesaat. Menikmati film favorit di temani camilan makin menambah nikmat yang tak bisa terelakkan


lagi. Jarang-jarang aku memanjakan diriku sendiri seperti sekarang ini. Biasanya di pikiranku hanya anak-anak dan suamilah prioritas utama. Namun, sejak kembali ke Jakarta, aku makin  bisa menikmati hidupku sendiri.


Kenapa demikian? Karena Ayah, Bunda, Kak Bryan dan Anyelir jauh lebih memerhatikan anak-anak dari pada diriku. Mereka bisa mengontrol anak-anak tanpa aku pinta. Apalagi Ayah, dia sampai menyiapkan penjaga bayangan buat cucu-cucunya. Jadi tugasku lebih ringan, aku suka itu. Tapi aku tetap menjalankan peranku ketika di rumah dan mereka sudah pulang di sisiku. Seratus persen tugasku dijalankan sebaik mungkin tak ingin mengecewakan anak-anak juga suamiku. Perusahaan aku memang masih suka ikut rapat, walau dulu sering ikut lewat video call. Kini tugasku bertambah dan harus bisa datang ke perusahaan sewaktu-waktu.


Tak berapa lama Zeyden datang dan kembali duduk di sampingku. Aku hanya menoleh dan membiarkannya bicara jika menurutnya aku layak tahu. Karena aku juga membebaskannya memiliki privasinya. Ketika dia membutuhkan aku untuk sharing aku akan ada, jika dia butuh sendiri kubiarkan itu. Hal itu pun aku terapkan kepada anak-anak, aku berusaha menjadi ibu sekaligus sahabat mereka. Kenyamanan setiap anggota keluargaku adalah hal yang


utama.


“Yank,” seru Zeyden sambil menaruh kepalanya di pahaku.


“Hm,” sahutku tanpa menoleh sedikitpun dari televisi.


“Arjuna, sudah kembali, nanti malam dia mau menginap di sini!” Zeyden memberikan informasi sambil mengambil camilan di tangan kananku.


“Oh, ya sudah nanti suruh tidur di kamar Zayyan saja kalua gitu. Atau kalo dia mau bareng sama Gara, ya nggak apa-apa,” sahutku masih dengan tatapan yang tak lepas dari televisi.


“Oh iya, Yank. Tadi salah satu bodyguard anak-anak bilang, kalo mereka ngeborong buat Pak Min. Menurut kamu gimana?” ucapnya membuat aku menatapnya dan tersenyum penuh arti.


“Aku nggak pernah masalah kan hal kecil seperti itu, Yank. Kalo kamu?” balasku yang memang ingin tahu dasar hati suamiku walau sudah tahu jawabannya.


“Tidak peduli. Biarkan saja mereka berbuat sesuka mereka selama dalam kebaikan. Aku jauh jadi bangga ketika mereka bisa berpikiran seperti itu.” Jelas Zeyden membuatku tersenyum dan mencium kilas


pipinya.


“Hanya pipi nih?” candanya membuat aku cengengesan.

__ADS_1


Kami berdua pun kembali menikmati kebersamaan ini. Cukup lama aku dan Zeyden tak menikmati hidup berdua seperti ini, menikmati masa pacaran yang tak pernah kami alami sebelum pernikahan. Walau semuanya kami lakukan di rumah saja, tapi tidak mengurangi rasa cinta yang kami miliki satu sama lainnya.


***


Di mall.


Setelah puas berbelanja dan bersenang-senang, keempat remaja itu memutuskan untuk kembali ke rumah. Saat sedang menunggu Pak Min mengambil mobil, seorang pemuda menabrak Gia dan Rakha tanpa sengaja, sehingga membuat keduanya jatuh. Rakha marah karena lutut sang kakak terluka dan pemuda itu tak meminta maaf kepada mereka.


“Woi, kalo jalan pake mata dong!” seru Rakha dengan kesalnya dan membuat kedua kakak laki-lakinya menahan badannya.


 Kekesalan Rakha makin menjadi-jadi saat lelaki itu pergi begitu saja tanpa mengeluarkan satu kata pun. Gia yang sudah bangun dari duduknya dibantu oleh Gara hanya mampu menggelengkan kepalanya. Tidak menyangka masih ada orang yang tidak mengerti etika dan sopan santun. Rakha terus mengumpat dengan emosi dan seketika diam saat mobil Pak Min sudah di depan mereka. Pak Min yang tidak tahu apa-apa langsung menjalankan mobilnya setelah mereka berempat memasuki mobil.


Tak satu pun dari mereka yang membahas masalah tadi di mobil, karena tak ingin sang supir khawatir dan takut. Membicarakan masalah tadi sama halnya dengan membahayakan diri Pak Min. Walau kami semua tak akan pernah menyalahkan dirinya jika tahu hal itu. Tetapi anak-anak jauh memilih bungkam dari pada membuat lelaki paruh baya itu khawatir. Gia yang menahan rasa sakitnya hanya bisa pura-pura tertidur agar lelaki paruh baya itu


tak curiga.


Sesampainya di ruma. Mereka turun dan Pak Min langsung kembali ke rumah Ayah. Anak-anak langsung masuk dengan wajah beraneka ragam. Ada yang bahagia, sedih, kesal dan kesakitan pastinya. Setelah mengucapkan salam mereka langsung mencium tanganku dan duduk di samping kami. Si bungsu langsung ke dapur mengambil air dingin dan kotak obat. Aku kaget saat dia kembali dengan benda-benda itu di tangannya.


“De, kenapa bawa itu semua?” tanyaku heran dan masih belum sadar akan putriku yang terluka lututnya. Zeyden yang langsung duduk setelah melihat si bungsu membawa barang itu pun menatap curiga.


“Kak Gia terluka, Ma!” sahutnya langsung berjongkok di depan kakak perempuannya dan si cantik hanya tersenyum.


itu kami memilih menunggunya. Setelah luka Gia di obati, barulah mereka terlihat lega dan seakan bisa bernafas.


 “Maafin kami ya, Pa, Ma. Kami tidak bisa menjaga putri kalian ini!” seru ketiga remaja lelaki ini dengan wajah memelas.


 “Bukan, salah mereka kok. Jadi, tadi waktu menunggu Pak Min datang. Ada seorang lelaki yang menabrak Gia dan Rakha. Sehingga Gia jatuh dan terluka, Rakha sempat marah sama lelaki itu tapi dia tetap diam. Malahan lelaki itu langsung pergi dan tak meminta maaf pada kami. Jadi ini semua bukan kesalahan mereka bertiga atau Pak Min ya, Pa, Ma.” jelas Gia yang tak menginginkan orang terkasihnya meminta maaf karena bukan salah mereka semua.


Kami berdua hanya tersenyum setelah mendengar penuturan putriku tersayang. Aku langsung membentangkan tangan dan tanpa aba-aba mereka berempat langsung memelukku dengan melupakan Zeyden. Alhasil lelakiku itu memajukan bibirnya dan membuat anak-anak tertawa melihat tingkah pujaan mereka. Bukan Zeyden namanya kalau tidak bisa memanfaatkan waktu, untuk membuat kebersamaan makin bermakna. Sekejap mampu merubah tawa anak-anak makin merajai seisi rumah, karena mereka habis bermain kejar-kejaran dengan sang ayah dan saling lempar gelitikan.


 Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam tanpa terasa kami lalui hari indah dengan sangat bahagianya. Sehingga detik berlalu berganti menit, aktifitas malam pun menyita waktu kami untuk mengistirahatkan badan yang sudah cukup lelah seharian.


 ***


Mentari sudah mengantikan tugas sang rembulan. Kokokan ayam sudah bernyanyi menggantikan suara nyanyian sang burung hantu. Teriakan tukang sayur keliling mulai terbiasa lagi terdengar di telingaku. Aneh, tapi disini masih ada hal itu, karena rumahku yang masih berada di belakang perumahan.


Tepat dua hari setelah hari bahagia itu, Kami semua sudah kembali semula. Anak-anak sudah bersiap untuk belajar dengan baik di sekolah barunya. Zeyden akan berangkat ke rumah sakit dan aku pun harus datang untuk rapat masalah proyek baru. Suamiku berangkat lebih dulu karena harus menggantikan rekannya untuk melakukan tindakan operasi besar. Kali ini aku yang mengantar anak-anak terlebih dahulu sebelum ke kantor.

__ADS_1


Awalnya, anak-anak akan di antar oleh Pak Min, tapi aku menolaknya karena masih sanggup menemani mereka di hari baru mereka. Aku sudah duduk di kemudi dan mereka memasuki mobil satu persatu, dan di sebelahku Gia. Perasaan bahagia campur gugup terpancar dari wajah mereka semua. Hanya sebuah senyuman yang mampu aku berikan untuk kekuatan mereka semua. Gia terus menggenggam jemariku karena rasa nervous-nya.


“Semua akan baik-baik aja kok, sayang. Jadi, nggak usah khawatir ya!” nasihatku dengan senyuman manis yang sedikit membuat mereka tenang.


“Nanti, pulang sekolah. Papa yang akan jemput kalian ya! Mama, harus ke kantor dulu. Kalo nanti Papa tidak bisa


jemput, segera hubungi Mama ya!” ucapku dengan jelas dan tak ingin mereka membantahnya. Mereka hanya mengangguki setiap perkataanku.


Perjalanan kami yang berawal gugup mulai mencair dengan canda tawa. Aku harus mengantar si kembar lebih dahulu ke sekolah barunya dan di lanjut ke tempatnya Rakha. Beruntungnya si kembar tak


mendapatkan masalah di sekolah barunya begitu juga Arjuna. Mereka bertiga masuk di kelas yang berbeda dan hanya selang satu kelas saja. Kini mobil yang kukemudikan mulai melaju menuju sekolah Rakha.


Hanya berjarak sekitar 500 meter dari sekolah para kakaknya, kini aku sudah tiba di tujuan. Langkah Rakha amat gugup, saat kami berdua melangkah menuju ruang kepala sekolah. Aku menggandeng tangan Rakha dengan erat memberikan kehangatan untuknya. Kini bungsuku memberikan senyuman manisnya. Dan saat berada di depan ruang kepala sekolah, aku menemaninya dan mengetuk pintu.


“Selamat pagi, Bu!” sapaku pada seorang wanita paruh baya dengan jilbab panjangnya.


“Selamat pagi!” balasnya dengan mengulurkan tangannya dan segera kusambut.


“Anda nyonya Priyanka Pradipta Putria dan ini pasti Rakha ya?” ujarnya sambil menyentuh putraku dengan senyuman yang menawan.


“Iya, Bu Andini. Saya titip Rakha, mohon bimbingannya ya, Bu. Bu, saya harap jangan ada yang tahu Rakha bagian dari keluarga Pradipta ya!” pintaku dan dianggukinya.


“Satu lagi, Bu. Jangan bedakan putra saya dengan anak-anak lain perlakukan dia seperti yang lainnya ya!” ucapku dan jelas hal itu membuatnya terheran-heran.


Aku memang selalu meminta kepala sekolah anak-anak, untuk berlaku adil kepada semuanya. Tidak mau anakku di perlakukan istimewa karena sebuah latar belakang keluarga. Hal itu pasti akan menimbulkan kecemburuan anak-anak lainnya. Jadi, keadilanlah yang dapat menciptakan segalanya dengan baik.


“Baik, nyonya. Jika itu yang nyonya inginkan!” sahutnya dengan nada ragu-ragu.


“Saya di sini selaku wali murid, jadi panggil saya selayaknya wali murid lainnya. Jangan panggil saya nyonya. Karena saya hanya orang tua dari murid di sini.” Ucapku tegas dan segera pamit undur diri meninggalkan Rakha bersama kepala sekolahnya.


Aku berlalu meninggalkan Rakha dengan mengiringi hari barunya lewat sebuah kecupan sayang di keningnya. Bergegas aku menuju mobil dan memacunya dengan kecepatan yang lumayan. Karena waktu rapat yang sebentar lagi di mulai, aku harus tiba disana dengan cepat. Anak-anak bukanlah alasanku untuk telat, tapi berusaha memaksimalkan waktu dengan baik itulah yang benar.


***


Gimana-gimana ceritanya kesayangan aku?? tinggalin jejak kalian ya..


Like, comment, share dan vote tentunya..

__ADS_1


Semoga Author  bisa update terus ya!!


Love you readers ..


__ADS_2