
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya dan disertai petir. Aku masih berdiri dihalaman belakang dengan mematung. Semua orang meneriakiku untuk masuk kedalam. Tapi aku tak bergeming, aku masih tidak percaya.
"Priyanka.." teriak semua orang didalam dengan keras.
"Yah, lakukan sesuatu untuk putri kita. Dia tidak bergeming." suara Bunda lirih.
Tanpa peduli lagi Zeyden lari dan menggendongku ala bridal. Namun, aku hanya diam tak berkedip. Kepalaku pun terjatuh di dada bidangnya. Aku pingsan.
Aku phobia petir, tapi kejadian tadi membuatku shock. Semua orang di kamarku khawatir. Bunda menggantikan bajuku dan Zeyden mengeringkan diri. Zeyden memakai baju Kak Aryan.
"Sayang bangun dong, Bunda sedih lihat kamu kayak gini." suara Bunda parau karena menangis tiada henti.
"Tante, saya periksa Priya dulu ya." Ujar Zeyden membawa tas kerjanya.
Zeyden selain dokter dia juga seorang pengusaha muda. Tidak hanya itu kadang di hari sabtu dia mengajar ekstrakulikuler di sekolah menengah atas. Zeyden memiliki 4 orang adik. Mereka cukup dekat denganku, yang paling dekat namanya Zahra persis dibawah Zeyden. Lalu ada Zain, Nabila dan Tiara. Zahra masih kuliah di London, namun hari ini dia datang kerumah.
"Kak Iya." seru Zahra yang baru sampai di kamarku dengan wajah panik, melihatku tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Kak Zey, gimana Kak Iya?" tanyanya heboh.
"Dia hanya shock. Sebentar lagi juga sadar. Lebih baik kalian semua tunggu diluar. Biarkan Priya istirahat. Aku yang akan menemaninya disini." Jelas Zeyden dengan lembut.
"Kamu juga Ra. Mending makan dan istirahat dulu sana. Percaya sama aku." titah Zeyden dan hanya anggukan kepala dari Zahra sebelum meninggalkan kami.
"Zey, kalo dia bangun panggilkan kami." Seru kakak kembarku dan di jawab dengan anggukan.
Selang 30 menit setelah kamar sepi. Aku tersadar, kulihat langit-langit kamar. Dan segera duduk bersandar di ranjang, aku melihat sosok tampan yang tengah duduk di sudut ruangan. Dia tengah asyik membaca buku dan tidak sadar aku telah menatapnya lama.
"Hai cantik, sudah sadar. Tunggu sebentar, aku beritahu mereka semua." ujarnya smbil melangkah mendekati pintu.
"Nanti dulu Zey, aku mau bicara berdua denganmu." ujarku lirih saat Zeyden hendak membuka pintu, dia pun berbalik dan duduk tepat disampingku.
"Apa?" tanyanya sambil memegang keningku dan kemudian mengelus kepalaku.
"Maukah kamu membantuku melupakan Abian? Maukah kamu menyembuhkan lukaku? Maukah kamu bersabar mencintai dan menyayangiku?" tanyaku tanpa dan dia masih mengelus kepalaku sampai terhenti.
__ADS_1
"Aku bersedia. Dengan satu syarat kamu mau bertunangan denganku atau menikah langsung denganku." pintanya sambil mengelus punggung tanganku.
Air mataku jatuh saat kata-katanya membuatku sedih campur bahagia. Andai aku masih mencintaimu, mungkin tak kan sulit. Hatiku masih tersimpan nama Abian, lelaki yang nengkhianatiku.
"Jangan khianati dan bohongi aku ya!" seruku padanya yang kemudian dia memelukku.
Kami kaget ketika suara deheman dan pintu dibuka. Semua keluarga sudah disana. Aku malu dan segera mendorong Zeyden turun dari kasurku.
"Jadi seperti ini menungguinya?" ujar Kak Aryan sambil menjewer Zeyden dan diiringi tawa kami semua.
"Sakit kakak ipar!" teriaknya membuatku panik.
"Kakak, jangan galak-galak sama Kak Zey!" pintaku pada kakak sulungku.
"Baik tuan putri. Dan saya minta maaf pada anda pangeran!" canda Kak Aryan.
Ini pertama kalinya aku melihat Kak Aryan yang super dingin dan datar bisa juga bercanda pada orang luar selain keluarganya. Bahagia melihat wajahnya yang hangat dan tersenyum bahagia.
__ADS_1