Relung Langit

Relung Langit
Part 84


__ADS_3

Hari pernikahan Kak Bryan dan Anyelir tinggal menghitung hari. Mereka berdua makin hari makin tak akur, aku pusing sebagai perantara oleh mereka. Beberapa jam yang lalu mereka sempat membuat aku emosi tingkat dewa. Mereka membuat keputusan dalam keadaan marah, hendak membatalkan pernikahan yang menghitung hari.


Anyelir menangis terus di kamarku membuat aku pusing. Aku keluar kamar sebentar dan menarik tangan Kak Bryan juga Kak Aryan. Aku tahu keduanya bingung dengan sikapku, makin bingung ketika melihat Anyelir menangis. Kak Aryan hendak melangkah maju tapi dia urungkan dan menengok ke kembarannya mengisyaratkannya untuk mendekat.


"Jadi Kak Bi mau batalin aja nih pernikahan yang tinggal beberapa hari ini?" tanyaku sambil melotot dan kakakku itu hanya diam menatap Anyelir.


"Ya udah kalau Kak Bi emang mau batalin pernikahannya. Gimana kalo Kak Ar aja yang lanjutin? Daripada keluarga kita dan Anyelir malu!" ucapku sambil menahan tangan Kak Bryan untuk tidak melangkah maju.


"Buat apa maju, kalo kakak cuma mau nyakitiin hati sahabat princess? Lebih baik Kak Ar yang maju, rebut hati dia!" ucapku dengan nada kesal dan semua ketiga orng diruangan itu otomatis menatapku tajam.


"Kok kamu ngomong gitu sih, De?" ujar Kak Bryan tak terima dengan ucapanku.


"Kakak bisa mikir nggak gimana hancurnya Anyelir saat kakak minta batal nikah? Pernah mikir nggak gimana malunya Ayah dan Bunda? Daripada nama baik kita semua rusak mending Kak Aryan gantiin kakak kan?" cerocosku tanpa jeda.


"Anyelir apa kamu bersedia aku menggantikan posisi Bryan?" ujar Kak Aryan melangkah maju mendekati Anyelir yang duduk di sofa.

__ADS_1


Anyelir menatap dalam mata Kak Bryan. Tapi kakakku satu itu benar-benar menjengkelkan tak merespon sedikitpun. Aku memberikan isyarat ada Anyelir untuk menerima permintaan Kak Aryan.


"Aku, mau selama kakak nggak ngecewain aku!" seru Anyelir masih tidak melepas tatapannya ke Kak Bryan.


"Maksud kamu apa An? Tidakkah kamu berjuang sedikit untukku?" teriak Kak Bryan tak terima jawaban Anyelir.


"Apa kamu memperjuangkanku dengan meminta membatalkan pernikahan kita?" tanya Anyelir bangun dari duduknya dengan amarah yang terpancar di matanya.


"Aku hanya emosi sesaat An. Aku tidak serius ingin melakukan itu. Demi Allah aku sangat menginginkan kamu menjadi makmumku. Maafkan aku yang egois ini." ujar Kak Bryan menghampiri Anyelir dan berjongkok sambil memegang tangannya.


"Jangan sakiti Anyelir lagi Bi. Gue tahu seberapa besar cinta lo ke dia, tapi ingat jangan pernah ucapkan kata pisah lagi. Semarah apapun lo ke dia tetap di kontrol emosi dan kata-katanya ya!" ujar Kak Aryan sambil menepuk bahu adiknya.


"Selesaikan dengan secara dewasa dan kepala dingin ya. Jangan bikin aku kesal dan emosi lagi." ujarku meninggalkan mereka berdua.


Aku keluar kamar dan biarkan mereka menyelesaikan masalahnya. Aku berjalan kearah kamar Zayyan. Zeyden tengah menimang putraku saat aku menghampirinya dan menggantikan tugasnya.

__ADS_1


"Sudah selesai sayang?" tanya Zeyden smbil memberikan Zayyan dan aku mengangguk.


"Sudah jangan sedih lagi ya! sudah bereskan?" hibur Zeyden sambil memeluk kami berdua dan menciumi pipiku.


"Iya sayang, kadang kesal liat sikap Kak Bi yang berpikir sesingkat itu. Untung saja Kak Ar mau bantu aku jadi dia makin terpancing. Dan acara pernikahan mereka tak jadi batal. Semoga mereka makin dewasa ya sayang." ujarku sambil menaruh kepala di dada Zeyden yang masih memelukku.


***


Di kamarku Kak Bryan dan Anyelir saling diam.


"Maaf An, aku bodoh hampir melepaskanmu!" ujar Kak Bryan menangis sambil memeluk Anyelir.


"Aku maafkan, tapi jangan diulang ya! Aku sakit saat kamu bilang kita pisah." sahut Anyelir sambil mengusap rambut Kak Bryan.


"Jangan tinggalin aku ya, An. Aku sangat mencintaimu. Sekali lagi maaf sudah membuatmu menangis." ujarnya sambil menatap Anyelir dan dia mengangguk.

__ADS_1


Mereka berdua pun keluar dari kamarku dengan bergandengan. Mereka menuju kamar Zayyan, saatku tengah berpelukan. Aku dan Zeyden menengok ke arah pintu. Zeyden membantuku menaruh Zayyan di boxnya. Lalu kami semua ke ruang keluarga untuk berbincang-bincang.


Kak Aryan tengah asyik menonton televisi saat kami semua tiba. Dia tersenyum melihat ke arah adik dan calon adik iparnya. Tak lama dia menepuk-nepuk sofa di sebelah kanannya dan mengisyaratkan kepadaku. Aku mengikuti intruksinya diiringi oleh Zeyden. Senyum bahagia sudah terpasang di wajah kami semuanya. Kak Aryan memelukku erat dan tak membiarkan Zeyden melepasnya.


__ADS_2