
Aku dan keluarga kecilku kini sudah tiba dirumah kedua orang tuaku. Kami disambut oleh Ayah dan Bunda di depan teras. Ya, mereka menunggu kami hanya mengantarkan Zayyan. Aku langsung menyerahkan Zayyan kepada Bunda. Sedih hatiku saat Zayyan langsung menerima pelukan dari Bundaku. Cemburu, mungkin aku cemburu. Zayyan seakan tahu bahwa kedua orang tuanya akan pergi meninggalkan dia sesaat. Zayyan sama sekali tidak rewel seperti kebanyakan anak yang akan ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya.
Aku memeluk Zeyden untuk menguatkanku, ibu mana coba yang rela berpisah dengan anaknya. Begitu pun dengan diriku yang harus rela meninggalkan putranya selama dua minggu. Zeyden hanya mengelus kepala dan punggungku, karena dia tahu aku sedang cemburu sekaligus gelisah akan berpisah dengan putranya.
“Zayyan kok gitu sih, Nak. Digendong Oma langsung mau. Emang kamu rela ya pisah sama Mamah?” ucapku yang masih dalam pelukan Zeyden dan tanganku mencubit pipi putraku.
“Da.. dah..” ucapnya membuatku makin miris.
“Aku diusir sama putraku sendiri masa!” seruku sambil memanyunkan bibirku dan wajahku sangat sedih.
__ADS_1
“Sayang, lihat nih gara-gara kamu, Mamah jadi ngambek dan sedih. Mamah kamu tuh lagi cemburu sama Omah, eh kamu malah mengusir dia!” ucap Zeyden sambil mengelus kepala putraku dan secara reflek aku langsung mencubit perut suamiku itu.
“Tenang aja sayang, Zayyan hanya ingin hadiah dari Papah dan Mamah kan? Jadi anak baik ya pangeran Papah, nurut apa kata Opa, Oma dan Daddy Aryan.” ucap Zeyden sambil mencium wajah Zayyan.
“Jadi anak baik ya saying, Mamah dan Papah tinggal dulu.” ujarku sambil mengecup wajah anakku lama.
“Yah, Bun, Kak Ar, kami titip Zayyan ya! Maaf merepotkan kalian.” ujar Zeyden kepada keluargaku.
“Kami pamit ya Yah, Bun, Kak!” seru kami kompak dan sambil mencium tangan mereka bertiga.
__ADS_1
Aku memeluk lama Putra dan Kak Aryan. Rasanya aku belum bisa pergi meninggalkan mereka. Tapi demi kebahagiaan suamiku akupun menurutinya, terlebih lagi setelah kami menikah memang belum pernah bulan madu. Ini adalah kesempatan baik menurutku. Zeyden merangkulku sambil melangkah menuju mobil. Sebelum masuk mobil aku menatap pangeran kecilku namun dia masih tenang.
“Ma..mah.. Da..dah.. Mmuuaah..” ucapnya sambil memberikanku kiss bye, makin miris hatiku.
Aku memberikan balasan kiss bye sebelum Zeyden menarikku kedalam mobil. Didalam mobil aku menaruh kepalaku di pundak suamiku. Sedih banget rasanya aku meninggalkan putraku. Aku langsung melingkarkan tanganku dipinggang Zeyden. Dia tahu aku sedih maka dari itu dia langsung membalas pelukanku.
“Jangan sedih dong sayang. Aku ikutan sedih nih, dan bibirnya nggak usah maju gitu deh. Bikin aku gemes!” ucapnya membuat aku malah menangis.
“Hei, sudah jangan menangis. Aku bercanda tadi, atau kita batalkan saya bulan madunya?” ucap Zeyden sambil mengecup puncak kepalaku dan aku menggeleng.
__ADS_1
“Jangan sayang, aku tidak mau mengecewakan kamu dan Ayah. Aku janji sesampainya disana aku tidak akan bersedih lagi.” balasku sambil mengelus pipi Zeyden.
Di dalam pesawatpun aku masih memikirkan pangeran kecilku. Aku takut dia akan rewel terlebih semalam sempat demam. Suamiku memang sangat mengerti aku, tak lepas dia memelukku dan menenangkanku.