
Aku dan Zeyden memenuhi keinginan Bunda. Kami datang seminggu sebelum acara tujuh bulanan diadakan. Semua sudah beres dikerjakan sama Bunda dan Mamah mertuaku juga keluarga kami yang lainnya. Hari ini Mamah menginap di rumahku, tidak hanya itu sikap Mamah membuat putra kesayangannya kesal setemgah mati. Karena untuk seminggu kedepan Mamah dan Bunda mau sekamar denganku.
"Mah, kenapa aku tidak sekamar dengan Priya? Mana bisa Zey dipisahkan dari Priya kayak gini? Tahu gini sih mending Zey sama Priya datang menjelang acara saja." Rengek Zeyden membuat kami semua tertawa.
"Zey, kamu kan sudah setiap malam sama Priya. Biarkanlah kami berdua melepas rindu sama Priya kesayangan kami." ujar Mamah mertuaku dengan wajah memelas dan aku hanya tersenyum melihat kedua orang itu saling merayu.
"Kak, kalo aku ada kesempatan buat ke kamar kamu, aku akan kesana." bisikku membuat Zeyden memeluk dan menciumku.
"Hayo kamu bisikin apa ke Zeyden, sayang!" seru Bunda membuat aku gelagapan.
__ADS_1
"Aku cuma bilang hanya seminggu kami berpisah. Iya kan Kak?" ucapku sambil mencubit perut Zeyden dan dia mengaduh kesakitan.
"Iya, Bun." sahutnya sambil meringis dan aku tersenyum.
"Bun, aku mau berduaan dulu sama Kak Zey, boleh?" pintaku dengan tersenyum disertai elusan ke perutku, dan Bundaku langsung mengangguk.
Aku langsung menarik tangan Zeyden untuk ke kamar. Aku melepas rindu sebelum dipisahkan kedua orang tua perempuan itu. Sejujurnya aku tidak bisa tidur jika tidak dipeluk oleh Zeyden. Sekarang bagaimana ceritanya coba, aku bisa tidur jika dipisahkan.
Alasanku memilih dipinggir agar aku bisa menyusup ke kamar Zeyden yang berada disebrang kamarku. Saat mereka berdua terlelap, aku mulai menyusup. Zeyden sudah menunggu di depan pintunya. Saat aku keluar kamar dengan cekatan dia langsung menarik tanganku.
__ADS_1
"Kamu nggak bisa pelan sedikit apa Kak? Kalo aku jatuh gimana?" ujarku sedikit bete.
"Kamu akan baik-baik saja selama aku ada disamping kamu." ujarnya sambil memeluk diriku.
Aku dan Zeyden sudah berada diranjang. Ups, jangan berpikir negatif dulu. Kami hanya tidur, dia memelukku dari belakang. Selama seminggu aku seperti itu dengan Zeyden tanpa diketahui Bunda dan Mamah. Aku kembali ke kamar mereka sebelum subuh. Seperti itulah aku, capek? Jelas aku sangat capek, terlebih ini adalah hari dimana acaraku diadakan.
Zeyden tidak disampingku sejak matahari mulai mengintip. Dia sibuk membantu kaum laki-laki di rumahku. Kaum wanita seperti Bunda, Mamah, adik-adik Zey dan lainnya sibuk dengan urusan catering. Anyelir datang sedikit terlambat, tugas dia menemaniku.
Aku kesal dan memilih duduk di ruang kerja Ayah. Disana ada perpustakaan kecil. Aku membaca buku-buku yang seru. Perpustakaan Ayah walau kecil tapi isinya luar biasa, mulai dari komik sampai buku ilmiah. Novel jelas ada, dari berbagai jenis genre. Aku membaca buku cerita anak yang berjudul Kancil. Buku favorit aku banget.
__ADS_1
Acara dimulai jam dua siang, sedangkan sekarang masih jam sembilan pagi. Masih lima jam lagi, bagaimana bosannya aku. Tidak boleh bekerja sama sekali sampai aku tertidur diruangan Ayah.