
Tak terasa sejak proses pengantaran Naina ke rumahnya membuat aku dan dia semakin dekat. Kami sering menghabiskan waktu berdua hanya sekedar nongkrong di cafe dengan tujuan belajar bersama. Atau sesekali aku main kerumahnya. Ya, di sama sekali tidak pernah main kerumahku.
Aku dan Naina seperti lem dan perangko. Bahkan seisi sekolah menyangka kami sepasang kekasih. Tapi kenyataannya belum. Aku masih memikirkan sekolahku dan mimpiku, Naina tahu isi hatiku begitu pun sebaliknya hanya saja kami belum mau terikat dengan sebuah komitmen.
"Bray, lo sama Naina kapan jadiannya sih?" ujar Rio yang mulai kepo saat makan siang di kantin.
"Gue sama Bryan belum pacaran Ri. Kami mau fokus sekolah dulu. Tapi kami sling menjaga satu sama lain karena kami sudah tahu perasaan masing-masing." jelas Naina ke Rio tanpa aku minta.
"Nggak seru lo pada. Gue kan jadi nggak bisa minta peje." ujar Rio kesal sambil memakan bakso pesanannya.
"Gue sayang sama Bryan, tapi gue lebih sayang sama cita-cita gue. Bryan juga begitu Ri. Mungkin setelah lulus gue sama dia langsung tunangan aja kali ya!" ujar Naina menyindir membuat aku tersedak.
__ADS_1
"Na. Kalo ngomong yang beneran dikit dong, Kan kasihan Bryan sampe tersedak gitu." ucap Anya sahabat Naina dan menyodorkan minuman ke Bryan.
"Kamu akan melamar aku kan Bi." bisik Naina di telingaku dan aku hanya menoleh lalu menatapnya dalam.
Perkataan Naina buat aku kaget setengah mati. Tunangan itu belum ada dalam rencanaku kedepannya. Aku Bryan Pradipta Putra masih memikirkan pendidikanku dan keluargaku, Naina belum masuk dalam kategori itu.
***
"Ya udah sih, nggak usah lo ambil pusing. Jalanin aja dulu. Sama kayak gue ke Kaila. Ya walau gue juga belum bisa dapetin dia sepenuhnya." ujar Aryan dengan santainya.
"Lo mah terlalu santai Yan. Bikin orang emosi aja. Gue masih mau kuliah dulu. Banggain Ayah sama Bunda." ujarnya dengan keyakinan.
__ADS_1
"Lo pikir gue nggak? Bi, keluarga dan pendidikan itu nomer satu yang diajarkan orang tua kita." jelas Aryan dengan tegas ke adiknya.
"Kalo lo mau tunangan dulu sama Naina silahkan. Asal kuliah dan cita-cita lo terwujud dulu." ujar Aryan sambil mengusap-usap kepala kembarannya itu.
"Apa Ayah dan Bunda setuju?" tanya Bryan ragu-ragu.
"Bi, pernah lo liat Ayah dan Bunda nolak keinginan anak-anaknya?" tanya Aryan dengan senyum termanis dan Bryan menggelengkan kepalanya.
"Untuk sekarang fokus belajar sampe lulus SMA dulu, masuk universitas yang lo mau. Kalo udah keterima baru lo bicarain sama Ayah dan Bunda. Gimana?" nasihat Aryan dengan penuh kedewasaan yang terpancar dari wajahnya.
"Baiklah gue turutin nasihat lo. Tapi Princess jangan sampe tahu ya, Kak. Bisa langsung dilaporin ke Ayah Bunda." ujar sekaligus permintaan Bryan pada sang kakak dengan senyum penuh pengharapan.
__ADS_1
Aryan dan Bryan memang saling mengisi. Namun, mereka tak pernah berlaku curang sedikit pun. Walau berbeda sekolah tak pernah mereka saling menggantikan satu sama lainnya. Karena dunia luar tak ada yang tahu kalau mereka kembar, termasuk pujaan hati mereka.