Relung Langit

Relung Langit
Part 58


__ADS_3

"Akting yang bagus Kak Ar. Jahat banget sama kembarannya." ucap Priya yang tengah duduk disamping Aryan, lalu kami berdua tertawa.


Aryan memang sengaja menjemput Priyanka lebih dulu karena dia bosan dirumah sendirian. Akhirnya mereka pulang kerumah berganti kostum dulu lalu lanjut ke mal. Ya, Aryan memang paling senang kalau urusan mengerjain kembarannya itu. Lebih tepatnya tidak bisa menolak apa yang adiknya mau.


Di tempat pertunangan, Bryan panik sampai titik dimana dia sudah tidak sanggup jika hanya diam diri disana. Bryan langsung mengajak orang tua dan sahabat adiknya untuk pulang. Sedangkan keluarga yang lain sudah pulang lima belas menit yang lalu. Bryan melakukan titah kakaknya tadi di pulang dengan sahabat-sahabatnya.


"Kalian tahu Priya dimana kalo pengen menyendiri?" tanya Bryan dengan tingkat kepanikan luar biasa dan sahabat-sahabat adiknya hanya tersenyum.


"Tahulah. Priya kalo menyendiri ya dikamar." sahut Zoan dengan diiringi tawa memecah ketegangan.


"Ya elah Kak, lo masih nggak sadar juga sama sikap ade dan kakak lo?" ledek Anyelir dengan menyenggol lengan Bryan yang duduk di sampingnya.


"Maksud lo?" tanyanya tanpa ada jawaban.

__ADS_1


"Kita ketempat biasa dulu ya." ujar Zoan yang menyetir dan disetujui oleh para cewek-cewek di mobil itu.


"Woi, gue minta bantu nyari ade gue. Kenapa jadi mau pada nongkrong sih." geram Bryan dan hanya di sahut dengan gelak tawa.


"Mending Kakak diem dulu deh. Ikutin aja dulu." sahut Anyelir dan Bryan hanya diam.


Mobil yang mereka tumpangi tak berapa lama memasuki salah satu kafe terkenal di Jakarta. Mereka semua langsung turun dari mobil begitu mobil terparkir. Sayangnya Siska harus pamit pulang. Bryan masih enggan turun tapi dia ditarik paksa untuk keluar dari mobil oleh Zoan. Bryan memasuki kafe itu dengan perasaan malas dan bete. Mereka duduk di ruang VIP, Bryan yang masih bete enggan melihat-lihat kesekeliling. Padahal orang yang dia cari-cari sudah duduk disebelahnya.


Ruangan itu mendadak ramai dengan suara gelak tawa. Tempat yang kurang pencahayaan alias cukup redup dan awalnya sepi mendadak ramai. Hal itu cukup membuat bulu kuduknya bangun.


"Gila nggak nyangka gue tempat sepi yang tadinya cuma berdua menjadi rame gini." gumamnya yang terdengar oleh semua orang disana.


"Gue balik. Cari aman ini mah gue." ujar Bryan mulai melangkah menuju pintu, namun tangannya ditarik seseorng dan diapun duduk kembali.

__ADS_1


"Zo, nggak lucu ya bercanda kayak gini." ucap Bryan dengan nada kesal dan keringat dingin.


"Lah nih bocah dua pada kemana sih, kagak ada jawaban sama sekali dari tadi." gerutu Bryan yang mulai kesal.


"Lo berdua kok ngeselin sih, gue mau pulang aja ah. Gue kan mau nyari ade gue. Lo semua emang nggak peduli sama sahabatnya. Awas lo berdua ya kalo maen ke rumah gue lagi. Nggak gue ijinin lo maen sama ade gue." ucap Bryan dengan kekesalannya.


Bryan kembali bangkit hanya saja dia berusaha mencari saklar listrik. Serasa dia dapat di coba memencet-mencetnya tapi hasilnya nihil. Tak berapa lama pintu terbuka, seorang karyawan dengan seragam hitamnya masuk mengantar makanan.


"Mas tolong nyalain lampunya dong biar terang. Gimana makannya kalo redup gini." ujar Bryan dengan nada kesal dn anggukkan yang diberikan oleh karyawan itu.


Bryan terpaksa duduk lagi dan tak berapa lama lampu menyala. Dan bum dia di kagetkan oleh dua orang di hadapannya. Sedangkan dua orang dikiri dan kanannya hanya tertawa geli tanpa henti. Sampai air mata di kedua mata mereka mengalir.


Bryan hanya diam mematung dan wajahnya berubah merah akibat menahan marah serta bahagia. Kesal dia sangat sangat kesal. Tapi apa daya, tak mungkin dia memaki kedua orang di hadapannya itu.

__ADS_1


__ADS_2