Relung Langit

Relung Langit
S2 Part 26


__ADS_3

Happy Reading, Guys.


.


.


Keesokan paginya Zayyan sudah lebih dulu menelpon dokter kandungan untuk datang lebih awal. Ia ingin mengajak sang isteri memeriksakan kesehatannya itu. Usai menelpon ia kembali ke kamarnya dan mendapati kedua wanita dalam hidupnya masih menikmati tidurnya yang lelap. Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, itu menandakan bahwa sang mama kesiangan bangun.  Sebelum membangunkan kedua wanitanya ia lebih dulu membersihkan dirinya.


Baru selangkah memasuki kamar mandi, ia mendapati lantai yang basah bertanda selepas subuh keduanya kembali tidur. Tak ingin berpikir lebih, ia segera melaksanakan ritual mandinya. Kali ini ia sedikit lebih cepat mandinya dari biasanya. Ke rumah sakit itu adalah tujuan utamanya saat ini guna mengajak isteri tercinta. Seusai berpakaian dia segera membangunkan mamanya dan mengatakan tujuannya tanpa sang isteri tahu. Ia mengajak


sang mama agar mau membantu dirinya membujuk Aleta.


“Mama, bujuk Aleta ya agar mau ke rumah sakit. Aku curiga dia hamil ma.” Priyanka jelas akan menyetujuinya jika


itu mengenai hal bahagia seperti ini.


Priyanka segera membangunkan sang menantu setelah kepergian si sulung dari kamar itu. Aleta menggeliat dan membuka matanya yang masih berat itu. Ia menatap sang mama mertua yang sudah tersenyum manis kepadanya.


“Selamat pagi, sayang,” ujar Priyanka kepada sang menantu.


“Pagi, ma.” Aleta sambil merenggangkan tubuhnya.


“Sayang, cepat mandi dan bersiap temani mama keluar yuk.” Tutur Priyanka sambil membantu sang menantu bangun.


Aleta hanya menuruti keinginan sang mertua tanpa bertanya apapun. Terlebih ia tak ingin merusak kebahagiaan mama mertuanya. Aleta diantar oleh Priyanka sampai ke depan kamar mandi dengan hati-hati. Seusai mengantar sang menantu ia segera kembali ke kamarnya untuk bersiap.


                                                                        ***


Seusai bersiap Priyanka segera ke meja makan di mana semua orang telah menunggu kehadirannya. Dia merasa tidak enak karena pagi ini yang memasak Gia dan menantu keduanya. Priyanka mencium kening menantu perempuannya juga Gia. Tak lupa ia mencium pipi anak-anak serta cucunya, untuk sang suami telah ia lakukan di kamar tadi setibanya dari kamar sang putra.


“Gia, Chiara. Maaf ya mama bangun telat jadi nggak bisa bantu menyiapkan sarapan!” seru Priyanka sambil menaruh kedua tangannya yang di satukan tepat di depan dadanya.


“It’s okay, Ma.” Sahut keduanya serempak.


Semuanya menikmati sarapannya dengan ketenangan. Tapi Aleta segera ke wastafel dan muntah-muntah di sana. Orang yang berada di meja makan hanya saling lempar pandang saat Zayyan bangkit dan membantu sang istri. Sedangkan Priyanka dan Zeyden hanya memberikan isyarat dengan mengedipkan mata mereka bersamaan.


“Kita ke rumah sakit ya?” ajak Zayyan kepada sang isteri dan hanya dibalas dengan anggukan.


“Bunda, Bunda sakit ya?” tanya ketiga kurcaci itu.

__ADS_1


“Tidak sayang.” Sahut Aleta menenangkan trio kurcaci itu.


“Ma, Leta tidak bisa menemani mama. Nggak apa-apa kan, ma?” Aleta sedikit ketakutan saat mengatakan hal itu, takut ia mengecewakan sang mama mertua yang sudah baik kepadanya.


“Nggak apa-apa sayang. Tapi, boleh mama menemani kalian ke rumah sakit?” Priyanka dengan senyuman manisnya dan diangguki oleh sang menantu.


“Baik, aku dan Kak Chiara akan mengantar anak-anak jalan-jalan kalo begitu. Bagaimana Kak?” tanya Gia dengan


memainkan alisnya. Chiara menganggukinya.


                                                                        ***


Zayyan, Priyanka dan Aleta kini sudah berada di lobby rumah sakit. Semua karyawan rumah sakit menyapa ketiganya dengan ramah. Mereka segera masuk ke rumah sakit dan segera langsung menuju poli kandungan. Saaat tiba di depan ruangan tersebut, mereka disambut oleh dokter wanita dengan senyuman manisnya. Aleta bingung kenapa dirinya dibawa ke ruangan tersebut.


“Kita cek di sini dulu ya, sayang!” Zayyan menjawab pertanyaan Aleta walau hanya lewat tatapan mata indah milik


isterinya itu.


Mereka masuk ke dalam ruangan dan tanpa basa basi, Aleta langsung dibawa ke bangsal. Zayyan meminta sang isteri untuk tiduran dan perawat di sana membantu mengoleskan gel ke perut Aleta. Wajah Aleta yang pucat semakin pucat karena rasa takut.


“Tenang sayang. Semua akan baik-baik saja, semoga kita segera mendapatkan kabar bahagia,” Priyanka


Tak  perlu waktu lama mereka berada di sana. Raut bahagia tampak di wajah ketiganya saat keluar dari ruangan poli kandungan. Aleta yang tak mau lepas dari sang suami, membuat Zayyan mangkir dari tugasnya. Beruntung kali


ini tidak ada pasien yang harus ia tangani.


                                                                        ***


Zayyan


Kalian akan segera menjadi tante dan om.


Pesan singkat yang diberikan Zayyan kepada adik-adiknya.


Anggia


Serius, Kak?


Anggara

__ADS_1


Ah, akhirnya pangeran mahkota kita punya penerus.


Rakha


Hore, mainan baru.


Zayyan


@Gia serius dong, nggak percaya tanya mama.


@Gara yoi.


@Rakha enak aja kalo ngomong ya.


Informasi itu dalam sekejap sudah menyebar ke seluruh keluarga Pradipta. Rumah Priyanka langsung di serbu


keluarga besarnya. Semua menyambut kabar bahagia itu, keluarga itu langsung mengelar acara syukuran secara kecil-kecilan. Ya, sudah lama keluarga Zeyden menunggu cucu dari anak laki-laki mereka dan beruntungnya kini impian itu telah diwujudkan.


Chiara yang sedang berada di dapur bersama Aleta langsung memeluk sang kakak ipar. Dia bahagia bisa berada di


keluarga yang sangat harmonis dan juga penuh cinta. Wanita berhijab itu beruntung berada di lingkungan yang baik seperti saat ini ia berada.


"Kenapa, Dek?' tanya Aleta dengan lembut sambil mengusap punggung tangan sang ipar.


"Kak Leta selama menjadi menantu di sini pernah menyesal nggak?" pertanyaan yang membuat Aleta merenggangkan pelukan Chiara dan menatap sang ipar dengan intens.


"Kenapa kamu nanya kayak gitu?" tanya Aleta balik dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Boleh kakak jawab dulu pertanyaan aku," pinta Chiara dengan mata seolah memohon.


"Sama sekali tidak pernah. Karena orang pertama yang menerima dan meminta Zayyan menikahi kakak adalah mama. Dia menerima kehadiran kakak juga Banyu, di luar sana belum tentu aku bisa menemukan mertua sebaik mama. Kita beruntung bisa berada dan menjadi bagian dari mereka. Opa, Daddy Ar, Daddy Bi juga para Mommy sangat baik padaku. Mereka tidak pernah membedakan cintanya untuk anak-anak mereka dengan menantu mereka. Tetapi jangan pernah sakiti hati mereka, atau mereka akan bertindak lebih menyakitkan dari kita. Walau salah satu dari mereka marah masih ada yang menenangkannya. Hingga tak akan pernah keluarga ini membiarkan keluarganya buruk. Jadi kamu nggak usah takut ya." jelas Aleta panjang lebar.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen, share dan juga vote ya.


I love you All.

__ADS_1


__ADS_2