Relung Langit

Relung Langit
Part 29


__ADS_3

Mungkin aku serakah dan egois. Aku tidak mau ditinggalkan oleh Zeyden tapi aku juga masih mau melihat Gibran. Hampir lima tahun dia menghilang tanpa kabar. Gibran memang bukan cinta pertamaku, tapi dia sahabat pertamaku sekaligus cinta monyetku.


Bunda dan Mamahnya Gibran adalah sepupu jauh. Kakek Gibran dan Nenekku pernah sepakat menjodohkan anak-anak mereka. Sayangnya kedua anak mereka perempuan, sehingga harus turun ke cucu mereka yaitu aku dan Gibran. Kami berdua hanya mengikuti permintaan kedua orang tua saat itu.


Sampai akhirnya Gibran harus pergi tanpa pamit dariku. Lima tahun yang lalu semua terjadi. Seusai ujian akhir nasional tingkat SMA, sebuah acara lamaran akan berlangsung. Semua orang tengah sibuk mempersiapkan segalanya, aku masih sempat jalan bersama dengan Gibran. Kami membicarakan mulai dari lanjut kuliah dimana sampai rencana pernikahan.


Keluarga besar kami memang menginginkan pernikahan secepatnya sebelum kami kuliah. Alasannya agar bisa sama-sama kuliah di luar negeri. Tak ada hal mencurigakan saat aku bersama dengannya saat itu. Hingga saat malam tiba, tiga menit menjelang acara lamaran, Gibran menghilang tanpa kabar.


Ponselnya tak bisa dihubungi, semua bajunya masih ada di dalam lemari. Kendaraan kesayangannya juga masih berada di garasi dengan baik. Dia hilang bak di telan bumi. Kedua orang tuanya pun stres karena kelakuan Gibran. Keluarga besarku malu akan sikap Gibran dan menjadi musuh besar dengan keluarganya.


Sejak kejadian itu aku memilih tinggal di rumah Ayah yang diperkampungan hanya untuk menyendiri dari sakit hati. Sampai aku bertemu dengan Abian dan kembali merasakan sakit hati lagi. Gibran memang sudah ada di hatiku, karena Gibranlah lelaki ke empat yang rela menjagaku. Sayangnya nasi sudh berubah menjadi bubur.


Kenapa Kak Bryan sampai ngamuk jika ketemy dengan Gibran. Karena keluarganya di permalukan terlebih lagi Bunda dan adiknya harus sakit hati. Saat itu Kak Bryan memang tidak ada di Indonesia. Dia sedang melanjutkan kuliahnya di London. Disana dia sempat melihat Gibran, hanya saja dia tidk berpikir negatif saat itu. Karena ia hanya bertemu satu kali, sebelum akhirnya ia tahu kalau adiknya ditinggalkan tunangannya.


***


Drrrt.. Drrrt.. Drrrt..


Ponsel Kak Zeyden bergetar hebat. Aku hanya melirik ke layar dan disana tertera nama Gibran. Aku langsung diam seribu bahasa dan pergi menghindar ke kamar mandi. Disana aku nyalakan shower, dan aku kembali menangis. Aku masih belum bisa melupakan dia serta kejadian itu.

__ADS_1


Entah apa yang sedang di bicarakan oleh kedua lelaki itu. Aku hanya merasakan sesak didalam hatiku setiap dengar nama Gibran. Hatiku seakan enggan meninggalkan namanya di relungku. Sejam sudah aku mandi dan aku segera memakai pakaianku.


Saat aku keluar kamar mandi, aku tak melihat Zeyden di kamar. Aku memilih duduk di sofa, dan saat aku menatap meja kecil disana terdapat sebuah memo.


Sayang, aku pergi dulu ya. Aku harus pergi menemui Gibran, ada hal penting. Tenang, aku tidak sendirian kedua sahabatmu bersamaku.


Setelah membaca isi memo singkat itu aku menarik nafas lega. Aku tahu kalau suamiku tak akan mlberbuat macam-macam yang dapat merugikan orang lain. Disamping itu, pikiranku kembali menerawang perjalananku dengan Gibran.


Flash Back On


Hari itu rumahku sangat ramai, semua keluarga besar datang berkunjung kerumah. Opa Alex (kakeknya Gibran) dan Eyang utiku pun tidak ketinggalan. Di hari itu aku memakai pakaian sangat santai namun tetap elegan. Baju kemeja biru laut dengan celana jeans berwarna navy dan sendal jepit dengan kupu-kupu di talinya.


"Opa sama Eyang Uti bikin aku jadi merona nih." ucapku sambil memegang pipiku yang mulai menghangat.


"Sayang, tuh di dekat kolam ada Gibran sana temui calon suamimu." ujar Opa Alex sambil menunjukkan sosok yang selalu ku nantikan.


Aku pun segera menghampirinya dan menepuk pundaknya. Dia sempat terhentak karena kaget, saat menoleh ke sumber masalahnya, dia hanya tersenyum. Segera dia meraih tanganku.


"Hai, calon isteriku." ucapnya membuat hatiku deg deg ser.

__ADS_1


"Apa sih Bran. Bikin malu aja." ucapku dengan wajah yang merona.


"Kamu tahu 3 bulan lagi kita akan nikah.." ujarnya terpotong dan membuat aku bingung.


"Jika suatu saat aku meninggalkanmu, carilah lelaki lain yang bisa menjagamu. Tapi jangan pernah hatimu meninggalkanku, karena suatu saat aku akan menjemput kembali dirimu dengan cinta di hatimu itu." ujarnya sambil menatap ke depan kolam renang.


"Jangan ngaco kalo ngomong ah. Emang kamu mau kemana? Emang berani ninggalin aku?" sahutku sambil menariknya ke arah gazebo.


"Aku masih mau kuliah, kerja dan baru bisa memilikimu seutuhnya. Tapi aku nggak masalah dengan menikahimu dulu, baru aku menggapai mimpiku." lanjutnya lagi dengan tatapan kosong.


"Hei, dengerin aku. Saat kamu meninggalkan aku dan membuat aku menangisi kepergianmu, kamu harus tahu beberapa hal. Pertama perpecahan keluarga besar kita, kedua amukan dari Kak Ryan dan Ayah, ketiga air mataku akan meleleh setiap dengar namamu atau bertatapan denganmu kelak. Ini janjiku padamu." ucapku dengan sedikit gurauan.


"Aku sanggup dengan kedua hal itu jika terjadi. Tapi aku tak sanggup jika harus melihatmu menangis." ujarnya.


"Maka jangan tinggalkan aku." ujarku dan dia hanya memelukku.


"Ka, ingat di hari pemberitahuan kelulusan nanti akan jadi hari dimana aku menemuimu sebagai orang yang halal. Jadi maukah kamu menungguku di hari yang akan bersejarah itu?" ucapnya dengan serius.


"Aku akan menunggumu di hari itu di setiap tahunnya." sahutku sambil menggenggam jemarinya.

__ADS_1


__ADS_2