
"Berbaikanlah Princess." ujar seorang wanita yang tak kukenali suaranya dan hanya menatapnya.
"Aku Sharma. Adinda Sharma calon makmum Aryan." ujarnya sambil menghampiriku.
Aku berlari menghampiri wanita dengan balutan baju muslimahnya. Aku memeluk wanita itu tanpa sadar. Air mataku menetes deras dipelukkannya membuat dia mengusap punggungku.
"Maafkanlah suamimu. Kalian sama-sama bersalah. Tapi aku mohon, jangan sampai membuat putra kalian menjadi korbannya." bisiknya ditelingaku dan aku mengangguki setiap ucapannya.
"Zey, silakan pegang erat istrimu jangan biarkan dia pergi lagi. Sayangi dia seperti dulu, jangan berbuat kesalahan lagi." ucap Sharma dengan penuh kebijakan.
Zeyden merentangkan tangannya lebar-lebar, dan aku langsung berlari kedalam pelukannya. Kehangatan yang kurindukan, selalu rindu. Semua orang akhirnya masuk ke dalam ruangan itu.
"Inget ada kita disini." celetuk Kak Bryan membuat aku menoleh.
Aku melepaskan pelukan dn berlari kearah kedua kakakku. Zahra ada disana dengan air mata yang masih mengalir. Aku menghampirinya dan mengahapus air matanya lalu memeluknya.
"Maafkan aku. Aku nggak bermaksud melukai hatimu. Sungguh aku hanya ingin kamu mendapat yang terbaik." ucapku dengan kejujuran.
"Sudahlah aku tahu maksud Kak Iya baik. Aku sudah memaafkannya. Jangan pergi lagi ya Kak." ucapnya sambil menciumi wajahku dan aku mengangguk.
Kak Aryan akhirnya mengumumkan bahwa ia dan Sharma akan segera menikah. Sebelum itu ia menjelaskan pertemuannya dengan wanita pujaannya. Sharma seorang dokter di rumah sakit milik Zeyden. Hanya saja Zeyden jarang melihatnya. Sharma dan Kak Aryan bertemu saat mengantar karyawannya ke rumah sakit ini.
Semuanya bahagia mendengarkan cerita pertemuan mereka hanya saja satu orang dengan kekepoannya. Hm, siapa lagi kalau bukan Zeyden. Dia mengajak kedua kakak iparnya makan siang bersama sedangkan aku, Zahra dan Kak Sharma diruangan Zayyan.
***
Dikantin rumah sakit.
"Lo tahu nggak Kak Ar, kalo ditraktir kayak gini, biasanya Mr. Kepo mau wawancara." ledek Kak Bryan to the point dan itu membuat Zeyden salah tingkah.
"Zey, sebelum lo mau tahu cerita detailnya. Lo harus janji sama kita berdua." ucap Kak Aryan dengan wajah serius.
"Janji apa nih?" ucap Zeyden dengan perasaan deg degan.
"Zey, Bi sudah nikah sebentar lagi gue nikah. Lo harus jaga princess kita berdua biar nggak kabur kayak gini lagi atau menangis lagi. Zey, tugas kami memang belum selesai, walau dia sudah menikah denganmu. Tanggung jawab kebahagiaannya tetap padamu, tapi kami tetap selalu dibelakangnya." ujar Kak Aryan dengan penuh kebijakannya.
"Gue janji nggak akan ngecewain kalian lagi. Dan gue minta maaf sama kalian akan sikap gue yang bikin ade tercinta kalian menghilang." ujarnya dengan keseriusan dan diangguki oleh kedua kakak iparnya sambil menepuk bahu Zeyden secara kompak.
"Ceritakanlah kakak iparku sayang." ucap Zeyden dengan wajah penasarannya.
Kak Aryan mulai memasuki dunia masa lalunya. Dia berusaha mengingat secara detail perkenalannya dengan Sharma. Wanita hebat yang sudah memikat hatinya.
__ADS_1
Flash Back On
Setelah kepergian Priyanka dan Zeyden bulan madu. Tepatnya di hari ketiga, Aryan pulang kerumah adiknya untuk mengambil beberapa keperluan Zayyan yang harus ada disampingnya saat urgent. Hari itu ia bertemu dengan seorang wanita cantik berbaju muslimah berwarna merah jambu sedang berdiri di depan rumah yang jaraknya hanya tiga rumah dari rumah adiknya. Aryan hanya mampu memerhatikan dari jauh.
Tak berapa lama datang sebuah motor matik berwarna hitam berhenti di depannya. Sekitar lima belas kemudian terlihat mereka sedang adu mulut dan lelaki pengendara motor itu bersikap kasar pada wanita itu. Aryan tak sanggup melihat wanita itu di sakiti berteriak dan menghampirinya. Lelaki itu seketika pergi, saat mulai mendekat langkah Aryan harus terhenti karena dering telepon ponselnya.
Aryan terpaksa mengangkat telepon, disana tertera nama Rajaku. Siapa lagi yang telepon kalau bukan Ayah. Sekitar tiga puluh menit Aryan menerima telepon itu, saat telepon di tutup dan dia membalikkan badannya, wanita cantik itu sudah tidak disana. Dia kembali ke rumah adiknya dan pergi meninggalkan rumah itu.
Saat di perjalanan menuju rumah Ayah pikirannya masih saja tentang wanita itu. Dia memang jarang main kerumah adiknya tapi baru kali ini ia melihat wanita itu. Tak terasa i telah tiba dirumah, dan langsung mengantarkan keperluan Zayyan lalu menuju kamarnya. Didalam kamar Aryan selalu memikirkan wanita itu dan langsung meraih ponselnya. Dia langsung membuka chat di grup bersama kedua adiknya.
***Grup Brosis PP
Mr. A
De, kamu tahu wanita yang tinggal dirumah dekat denganmu? Jaraknya sih tiga rumah dari rumahmu.
Mr. B
Gue?
Mr. A
Bukan lo tapi Princesslah
Mr. B
Princess PP
Yang mana Kak? Aku kan jarang keluar rumah. Karena Zey, nggak ijinin aku bersosialisasi, takut ghibahin orang katanya.
Mr. B
Mantap juga ya si Zeyden itu..
Mr. A
Yah, gue jadi nggak tahu siapa doi dong.
Mr. B
Kenapa emang Kak Ar?
__ADS_1
Mr. A
Cantik gue mau jadiin makmum gue.
Princess PP
Yakin Kak? Nanti ketemuin kami ya.
Mr. A
Baiklah. Asal gue udah dapet namanya ya.
Princess PP
Siap laksanakan tugas***.
Tak ada jawaban lagi membuat Aryan langsung menghubungi kantornya. Tapi sebelum dia sempat berbicara dengan seseorang. Dia lebih dulu menerima telepon dari Zoan.
"Ya Zo. Ada masalah apa di kantor?" tanya Aryan dengan santainya.
"Widiw Bos Ar, tumben bahasanya nyantai gini pasti lagi seneng nih. Eh kok malah bahas si bos sih. Gini Bos, tadi ada telepon dari kantor polisi kalau ada kecelakaan dengan tiga orang karyawan kita di jalan tol." ucap Zoan dengan nada datar.
"Sekarang mereka sudah dibawa ke rumah sakit milik adik ipar bos.." ujar Zoan yang terputus akibat sambungan telepon diputuskan secara sepihak.
Sebagai seorang pemimpin perusahaan Aryan langsung menuju rumah sakit. Tak lama sampai rumah sakit Aryan langsung memasuki ruangan UGD.
Deg..
Disana sosok yang dia pikirkan sedang menangani salah satu pasien dan itu adalah karyawannya. Aryan menghampiri bangsal yang tengah berdiri sosok wanita dengan jas putihnya. Menatap dalam wanita itu hingga akhirnya.
"Maaf anda siapa ya?" ucap wanita itu dengan sopannya.
"Saya Aryan Pradipta Putra." sahut Aryan dengan lengkapnya menyebutkan namanya.
"Bukan itu maksud saya. Anda pihak keluarga kah?" tanya wanita itu kembali.
"Bukan saya pimpinan tempat mereka bekerja. Dan anda siapa ya?" ucap Aryan masih tak berkedip menatap wanita itu.
"Saya dokter dirumah sakit ini." sahutnya hendak meninggalkan bangsal.
"Maksud saya nama anda dok." ucap Aryan membuat wanita itu berhenti melangkah dan membalikkan badan ke belakang.
__ADS_1
"Adinda Sharma." ujar wanita itu dengan senyuman manisnya sehingga terlihat lesung pipinya.