
Keesokan harinya Bryan diantar keluarganya ke bandara tanpa Naina. Naina lupa kalau hari ini kekasihnya akan berangkat ke luar negeri kembali selama beberapa tahun.
Bryan Pradipta Putra
Nai sayang, hari ini kamu tidak mengantarku. Aku pamit Nai. Padahal hari ini Princess hadir, dan ingin memperkenalkan dirinya kepadamu tapi kamu tidak datang mengantarku. Jaga diri dan kesehatan kamu ya. Maaf jika aku ada salah.
Pesan dari Bryan tak langsung dibaca oleh Naina. Dia memilih mengabaikan pesan itu. Naina lebih memilih menyibukkan diri dengan shopping di mal. Disana dia bertemu dengan Aryan dan Kaila. Dia menghampiri mereka, dan sempat marah. Tapi dia sadar kalau itu Aryan bukan kekasihnya.
"Sorry Kak. Gue pikir Bryan." ujar Naina dengan wajah memerah.
"Nggak mungkin, dia disini Nai. Dia kan.." ujar Aryan terpotong karena Kaila meminta makan.
"Maksudnya Kak?" tanya Naina namun diabaikan oleh pasangan itu.
Secepat mungkin Naina mengambil ponselnya dan segera menghubungi kekasihnya. Tapi nomor yang dia hubungi tidak aktif. Namun saat melihat pesan itu Naina menangis sejadi-jadinya. Lelaki yang dicintainya kini telah pergi tanpa ia ketahui keberadaannya.
***
Selama satu tahun Naina kehilangan kontak dengan Bryan. Dia berusaha mencari informasi tentang tunangannya itu. Keluarga Bryan pun sulit ia temui. Naina pasrah jika memang dia sudah harus kehilangan Bryan.
__ADS_1
Hari itu Priyanka dan Anyelir tengah berada di mal. Mereka berbelanja ria dan kemudian mampir ke salah satu kafe favoritnya. Mereka memilih duduk di bangku dekat jendela. Tanpa mereka sadari Naina bersama seorang lelaki duduk persis dibelakang mereka.
"Gue nyerah sama hubungan ini. Dia sudah susah dihubungi, terlebih lagi keluarganya tidak pernah ada dirumah." ujar Naina kesal.
"Lo yakin itu rumahnya? Karena nggak mungkin mereka nggak ada dirumah sama sekali kan." sahut lelaki itu.
Priyanka yang mendengar suara tidak asing hanya berani membuka telinganya lebar-lebar. Anyelir menyenggol tangan Priyanka dan dia hanya membalas dengan jari telunjuk di bibirnya. Seakan mengerti yang dimaksud sahabatnya itu, Anyelir ikut mendengarkan hanya dia sedikit lebih pintar. Anyelir meraih ponselnya dan merekam semua pembicaraan orang dibelakang sahabatnya itu.
"Di jalan xx kan rumah Bryan itu?" tanya Naina meyakinkan sang lawan bicaranya.
"Tunangan lo Bryan Pradipta Putra kan? Dari keluarga Pradipta sang konglomerat itu?" sang lawan bicara membalas dengan pertanyaan dan hanya anggukkan yang diberikan Naina.
"Bodoh, itu bukan rumah yang selama ini mereka tempati. Itu hanya rumah singgah buat mereka. Sampai detik ini hanya beberapa orang yang tahu kediaman mereka semua. Dan setahu gue, mereka itu bisa berada dimana saja dengan berbagai rupa. Si bungsu aja nggak ada yang tahu wajahnya kayak apa." jelas sang lelaki menjelaskan info yang dia tahu dari orang-orang tentang keluarga Pradipta yang tertutup.
"Lo bisa ketemu jati diri si bungsu keluarga Pradipta, baru lo bisa ketemu sama tunangan lo. Karena hanya dia kunci satu-satunya." ujar Ridwan dengan keyakinan.
"Permisi Mbak dan Mas, ini ada surat dari seseorang tadi." ujar pelayan yang memberikan secarik kertas dan kemudian pamit setelah melaksanakan tugasnya.
Jangan pernah cari tahu tentang Keluarga Pradipta. Jangan dekati si bungsu keluarga itu. Jika kalian mencari Bryan dia, sedang berada di negara Ratu Elizabeth.
__ADS_1
Surat itu membuat Naina dan Ridwan menggelengkan kepala. Mereka langsung mencari seseorang yang kira-kira bisa menjadi mata-mata. Sayangnya mereka tidak menemukannya, karena Priyanka dan Anyelir sudah pergi seusai memberikan surat itu.
***
Naina menyusul Bryan beberapa hari setelah kejadian di kafe itu. Dia beruntung dengan sangat cepat dipertemukan oleh Bryan. Saat dia sedang di mini market, seorang lelaki menghampirinya. Wajah lelaki itu sangat tampan terlebih ketika sedng senyum.
Naina langsung memeluk sang lelaki dengan penuh cinta. Begitu pun dengan sang lelaki yang tak lain adalah Bryan. Naina tinggal di apartemen milik Bryan, sedangkan dia tinggal di apartemen sebelah.
Selama Naina di London, dia selalu dicintai dengan luar biasa oleh Bryan. Naina melupakan semua kejadian yang membawa dirinya terpisah oleh sang tunangan. Kebahagiaan mereka rasakan, seakan milik mereka berdua.
Dua bulan Naina tinggal di negara Ratu Elizabeth itu. Sampai dimana dia melakukan kesalahan fatal membuatnya marah dan bertengkar hebat dengan Bryan. Hari itu Naina dan Bryan sedang jalan-jalan di pusat kota. Saat sedang jalan-jalan, Bryan melihat sang calon adik ipar yaitu Gibran. Itu adalah hari dimana adiknya akan memulai kehidupan baru. Tapi ia tak menggubrisnya, karena ia hanya berpikir mungkin orang yang mirip.
Sampai titik dimana Bryan mendengar adiknya dirawat dan hendak pulang. Dia menceritakan semuanya pada Naina, sayangnya wanita itu mulai egois kembali. Di tidak ingin sang tunangan pulang menemui adiknya. Karen ia takut rasa sayang sang tunangan akan berkurang saat bertemu dengan adik kesayangannya.
"Kamu pilih aku atau princess Bi?" teriak Naina dengan penuh emosi.
"Kalo kamu pilih aku, tetaplah disini bersamaku, jika kalo memilih princess. Pertunangan kita putus Bi. Aku nggak rela kamu terlalu menyayangi adikmu." lanjut Naina berteriak dan membuat Bryan marah dibuatnya.
Plak..
__ADS_1
"Aku memilih kita putus Nai. Daripada aku mendapatkan wanita yang egois seperti kamu. Kamu tahu seberapa berharganya princess juga keluargaku dalam diriku." ucap Bryan setelah menampar Naina dan melempar cincin pertunangan mereka lalu pergi.
Flash Back off