
"Dia tinggal disini?" batinku tak percaya.
"Kenapa sih kamu lari keluar kayak tadi? Zayyan kan nangisnya didalam." tanya Zeyden bingung dengan sikapku.
Tanpa bicara aku menarik tangan Zeyden untuk masuk ke rumah. Disana Zahra sudah menggendong Zayyan dan memberikannya susu. Kami menghampiri dia dan mengecup kening putraku. Zeyden langsung mengambil alih Zayyan.
Tin.. Tin..
Klakson mobil yang kukenali, segera aku menghampiri ke teras. Kulihat sosok lelakiku tiba, aku menghampirinya dan memeluknya. Zeyden memasang tampang kesal saat aku memeluknya.
"Inget tuh, macan kamu marah princess." ucap lelakiku dan membuatku menoleh menatap ke suamiku namun aku hanya tersenyum.
"Cemburu kok sama mertua." ucapku sambil berlalu meninggalkan Zeyden yang masih mematung.
"Pagi Yah, Bunda mana kok nggak ikut?" tanya Zeyden sambil mencium tangan mertuanya dan mengajaknya masuk.
"Bunda lagi ikut kelas yoga terus arisan sepulang dari sana!" sahut Ayah sambil menguwel-nguwel pipi putraku.
"Sini jagoan Opa, Opa kangen sama my prince." ucap Ayah sambil mengambil Zayyan.
"Kamu nggak kerja Zey?" tanya Ayah pada Zeyden karena sudah pukul delapan namun masih dirumah.
"Masih lelah Yah. Mungkin hari senin depan aja Zey masuknya." ucap Zeyden sambil duduk di sofa.
__ADS_1
Aku membuatkan minuman untuk Ayah dan suamiku. Lalu aku menghampiri mereka dengan membawa minuman serta camilan. Aku meletakkan semuanya dimeja dan segera menggambil Zayyan dari gendongan Ayah. Kubiarkan menantu dan mertua itu asyik mengobrol, sedangkan aku melangkahkan kaki ke kamar yang sedang dintempati Zahra.
"Ra, boleh aku masuk!" seruku sambil mengetuk pintu.
"Masuk aja Kak. Nggak dikunci kok." sahutnya dari dalam dan aku membuka pintu serta mulai memasuki kamar itu.
Aku melihat Zahra sedang duduk di dekat jendela dengan laptop di pangkuannya. Segera aku menghampirinya dan duduk dihadapannya. Dia nampak serius dengan laptopnya, karena merasa aku mengganggunya, aku bangkit dan hendak keluar meninggalkan dia.
"Mau kemana?" tanya Zahra sambil menutup laptopnya dan menatap ke arahku.
"Keluar, takut ganggu kamu." ucapku hendak melangkah lagi.
"Duduklah, aku sudah selesai dengan tugas-tugasku." ujar Zahra sedikit berbohong.
Aku kembali duduk di hadapannya dengan senyuman. Kami masih tak berbicara satu sama lain. Masih sunyi, hanya suara Zayyan yang terkadang memecah kesunyian itu.
"Kamu jawab jujur ya sama aku." ucapku membuat raut wajah Zahra di tekuk seakan bingung dengan sikapku dan dia mengangguk.
"Ra, apa kamu menaruh rasa sama Kak Aryan?" sontak pertanyaan itu membuat Zahra bagai disambar petir.
"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya balik Zahra dengan wajah kebingungannya.
"Jawablah Ra. Aku yang bertanya lebih dulu." sahutku mengalihkan pertanyaan Zahra.
__ADS_1
"Hm.. A..aku hanya kagum sama Kak Aryan saja tidak lebih." ucap Zahra setelah menarik nafas panjangnya.
"Serius Ra?" tanyaku sedikit tak percaya dan dia hanya mengangguk.
"Ra, aku sangat menyayangimu dan juga Kak Aryan. Kebahagiaan kalian adalah nomer satu buatku. Ra, jika kamu memiliki rasa selain rasa kagum, maaf banget aku minta kamu segera hapus rasa itu ya. Aku nggak mau kamu kecewa atau merasa tersakiti." ucapku dengan kehati-hatian dan kemudian menundukkan wajahku.
"Ada apa emangnya Kak?" Zahra bertanya sambil mengangkat wajahku dan dia menatapku dalam.
"Ra, dia sudah memiliki seseorang yang dia sukai, dan itu bukan kamu." jelasku membuat Zahra menarik tangannya dari wajahku.
Entah apa yang ada didalam hati dan pikiran Zahra. Aku hanya melihat kesedihan serta kekecewaan dalam wajahnya. Salah satu tanganku menggenggam tangannya dengan kuat.
"Are you okey?" tanyaku pelan dan membuatnya kaget.
"I'm okey." ucapnya dengan senyuman tipis diwajahnya.
"Aku balik ke kamar dulu ya Ra." ucapku sambil bangkit dari duduk dan mengelus bahunya sebelum berlalu.
"Ra, sebelum mendalam lupakan agar tidak sakit terlalu jauh. Aku sayang kamu, hingga aku tak ingin kamu sakit hati." ucapku diambang pintu dan meninggalkan kamar itu.
Aku tahu ini salah, hanya saja aku tak mau dia berharap terlalu jauh sebelum rasa itu mendalam. Aku tahu Zahra mencintai Kak Aryan dari dulu, hanya saja selalu pandai ditutupi. Aku pun percaya dia akan segera melupakan rasa itu setelah ia tahu kenyataannya.
***
__ADS_1
siapa yang gemes liat bibirnya Zayyan.. Zayyannya minta vote dan tip tuh.. maaf jika lama update ya.. kasih like, vote dan jangan lupa tipnya ya. eh komen kalian selalu aku rindukan juga kok..