
Beribu-ribu maaf jika author juarang update. Kesibukan dan kesehatan author yang membuat diri tak bisa memaksakan melanjutkan sedikit cerita ini. Dan kuisnya gombalan dari kalian belum aku temukan di komen. Jadi mau lanjutkan dapet gift away nggak nie???
***
Aku bahagia bisa terus bersama mereka, keluarga kecilku yang sangat membuat bahagia. Kami semua melanjutkan makan malam bersama sampai seseorang menghampiri kami. Aku hanya menyenggol Zeyden dan dia menatap sosok itu dengan tatapan tajam dan dingin.
"Maaf mengganggu kalian. Saya salah satu karyawan di bidang tarik suara, saya tertarik dengan suara anak ini. Apa bisa saya bicara?" ujarnya menjelaskan tujuannya.
"Dari tadi juga udah bicara banyak," celetuk Gara kesal karena orang itu tepat duduk di samping dia.
"Gini ya pak, saya tidak mengijinkan anak-anak saya untuk bekerja selama dia masih sekolah. Sepertinya anda akan buang-buang waktu bicara disini." ujar Zeyden dengan nada suara super dingin.
"Baik kalo begitu, saya tinggalkan kartu nama saya, siapa tahu nanti anda berubah pikiran." ujarnya sambil pergi meninggalkan kami.
Aku hanya menggelengkan kepala jika Zeyden sudah bersikap dingin seperti itu. Anak-anak sih sudah terbiasa dan malah sudah mengikuti sikap sang papa. Selesai makan kami semua melanjutkan perjalanan. Kali ini Zeyden yang mengambil alih perjalanan menuju Jakarta. Zayyan istirahat di bangku belakang bersama Anggara dan aku sudah pasti menemani suamiku tersayang. Sepi suasana dalam mobil tak ada suara hanya mp3 yang memecah sepi. Anak-anak sudah terlelap. Zeyden terus menggenggam jemariku dan sesekali menciumnya.
Tak terasa waktu berjalan sangat cepat, kini kami tiba dirumah lama. Mereka turun dari mobil dengan wajah bantal dan mata hanya terbuka sedikit. Aku merangkul Zayyan dan Gara sedangkan Zeyden merangkul Rakha dan Gia. Hanya takut nanti mereka jatuh saat memasuki rumah. Sesampai di dalam rumah mereka malah langsung bergeletak ria di karpet yang ada di ruang keluarga. Mereka sangat tidak sanggup lagi memasuki kamar. Aku mengambil bantal dan selimut yang dibantu oleh suami tercinta.
Aku dan Zeyden perlahan menaruh kepala anak-anak satu persatu di atas bantal tak lupa pula menyelimutinya. Kami berduapun ikut rebahan di sofa kasur diatas mereka. Kami terlelap sambil berpelukan.
***
Kami semua benar-benar lelah sampai bangun jam sepuluh pagi. Melewatkan tugas kami beribadah dan juga sarapan. Saat menatap jam di ponsel tertera 100 lebih panggilan dari Kak Bryan dan Ayah. Aku rasa mereka pasti cemas dan segera aku menghubungi kembali.
"Sayang, kemana aja sih sampai nggak bisa angkat telepon kami?" ucap Ayah tanpa jeda karena khawatir dengan kami semua.
"Kakak kamu sampai menyuruh anak buahnya mencari tahu keberadaan kamu!" seru Ayah membuatku khawatir.
"Hah! Apa, Yah? Kok bisa sih." teriakku membuat semua anggota keluargaku bangun dengan keterkejutannya.
"Maaf!!" suaraku pelan kepada semua anak dan suamiku.
Zeyden hanya menggaruk kepala yang tidak gatal sedangkan anak-anak kembali memejamkan matanya. Aku mendiamkan kegiatan mereka, agar mereka nyaman.
"Ya kamu lagian, di telepon nggak diangkat-angkat. Gimana kami tidak khawatir?" cerocos Ayah dengan nada khawatirnya.
"Maaf ya, kami baru bangun, Yah. Semalem kelelahan. Ya sudah sebentar lagi aku telepon Kak Bi. Biar dia tidak khawatir." sahutku dengan nada bersalah.
"Ya sudah, cepat mandi dan bersiap-siap. Kami tunggu dirumab." titah Ayah dan aku menganggukinya dan langsung mematikan sambungan telepon.
Aku langsung menuju dapur dan menyiapkan sarapan. Ups, makan siang lebih tepatnya. Setelah itu aku bersiap diri, baru membangunkan kembali suami dan anak-anak karena sudah di tunggu di rumah utama oleh keluarga besarku. Zeyden lelaki paling sulit dibangunkan belakangan ini.
"Sayang, bangun dong, kita harus ke rumah utama loh. Ayo bangun! Anak-anak sudah bersiap tuh." bujukku sambil mengelus pipinya dan sesekali kukecup pipinya dan dia malah menarik aku kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Yank, aku sudah rapi ini." gerutuku sampai dia membuka mata dan mengecup seluruh wajahku.
"Udah ih. Mandi, terus makan abis itu kita ke rumah utama. Hm!" ucapku mengelus pipinya dan mengecup pipinya sebelum meninggalkannya.
Zeyden bangkit dan kembali ke kamar untuk bersiap diri. Sedangkan anak-anak, kini sudah kembali lagi dan duduk di meja makan dengan tertib menunggu sang papa. Aku sudah menyiapkan susu dan jus buah untuk kami semua. Tak berapa lama suamiku bergabung dan duduk di bangku kebesarannya. Aku menyendokkan nasi serta lauk untuk anak-anak juga suamiku. Baru setelah itu aku menyendok untuk diriku sendiri. Menu siang ini hanya nasi goreng sosis baso dengan telur ceplok.
"Tadi pagi kenapa mama berteriak sih saat telepon?" tanya Gara sambil menyuap nasi goreng ke mulutnya.
"Oh, itu Opa dan Daddy Bi menelpon Mama sampai seratus kali tapi nggak diangkat-angkat. Alhasil, Daddy kalian panik dan menyuruh anak buahnya mencari keberadaan kita semua." jelasku dengan menahan tawa kalau ingat seberapa khawatirnya kakakku tersayang.
Mereka semua menatap ke arahku dan seketika ruang makan dipenuhi dengan tawa. Kami semua menertawakan tingkah konyol kedua orang kesayangan kami semua.
"Sudah tertawanya, lanjutkan makan lalu siap-siap ke rumah Opa!" pintaku pada semuanya dan diangguki oleh mereka.
"Sayang, kamu sudah hubungi Kak Bi? Kasihan dia khawatir sama kamu." ucap Zeyden mengingatkanku dan seketika aku menepuk jidatku.
"Mama! Sudah pelupanya kumat," ceteluk keempat anakku.
"Lanjutkan makan dulu, nanti aku telepon Kak Bi," sahutku dengan nyengir kuda.
Kami pun melanjutkan makan, karena aku selesai lebih dahulu, maka aku meninggalkan mereka untuk menelpon kakakku tersayang. Sedangkan Gia yang merapikan meja makan dibantu kakak, adik dan papanya. Aku menuju kamar dan segera menekan nomor telpon Kak Bryan.
"My Princess.. Kemana aja kamu? Bikin Kakak khawatir aja deh!" teriaknya membuatku menjauh ponsel dari telingaku.
"Bisa kecilkan volume suaramu, Kak? Bisa budek aku mendengarnya!" sahutku dengan nada jengkel.
"Aku, Zeyden dan anak-anak baik-baik aja. Kami sampai tengah malam hampir subuh malah. Karena lelah, kami semua tertidur dan tak mendengar apapun bahkan telepon juga adzan subuh. Kmi baru bangun jam sepuluh tadi. Cukup penjelasan dari adikmu yang cantik ini kakakku tersayang?" jelasku panjang lebar dan bergegas keluar rumah.
Aku melangkah menaiki mobil karena mereka semua sudah di sana. Zeyden terakhir yang masuk mobil karena harus mengunci pintu rumah. Setelah dia masuk, kami segera meluncur ke rumah Ayah. Aku masih terus berbicara dengan Kak bryan di telepon.
Jarak tempuh tidak lama karena jalanan cukup senggang. Sementara di rumah Ayah. Bunda dan Anyelir sudah menyiapkan makanan yang banyak, salah satunya kesukaanku.
Setiba di rumah Ayah, mereka sudah berdiri di teras. Zayyan lebih dulu turun dan berlari ke arah Opa, Oma, Daddy dan Mommy-nya. Kemudian di susul oleh Gia dan Gara. Sedangkan Rakha berjalan sambil memegang pinggangku dan aku menggandeng tangan Zeyden.
"Cucu bontot, Oma. Sini, sayang!" seru Bunda sambil membentangkan kedua tangannya untuk memeluk putra bungsuku dan dia segera menghampirinya.
"Pa, jangan bawa Mamaku pergi jauh." pesan Rakha kepada papanya membuat Zeyden membulatkan matanya.
Semua keluargaku sudah masuk kedalam rumah sedangkan aku dan Zeyden masih mematung. Aku tak percaya sikap Rakha sangat posesif seperti tadi.
"Anakmu semakin posesif padaku, Yank!" seru Zeyden sambil menggandeng tanganku untuk masuk kedalam rumah.
Aku memilih ke gazebo taman belakang bersama sahabat sekaligus kakak iparku. Sudah sangat lama tak memiliki kesempatan seperti sekarang. Kami bertukar cerita dimana hubungan persahabatan kami malah berujung persaudaraan yang kuat. Aku menjabat kakak dan adik ipar untuk kedua sahabatku. Ya, Anyelir menikah dengan kakakku Bryan, sedangkan Zoan dia akan segera menikah dengan Zahra adik dari Zeyden.
__ADS_1
Entah bagaimana ceritanya mereka berdua bisa dekat. Aku tak masalah jika sahabatku menjadi keluargaku selama mereka tidak menyakiti orang terkasihku. Aku bertukar cerita dengan Anyelir mengenai anak-anak sampai kegiatan kami.
"Lo kangen sama si Zo nggak, Ka?" tanya Anyelir kepadaku dengan wajah sendu.
"Sangat." jawabku singkat dan tak kalah sendu.
Aku langsung menekan nomer teleponnya dengan menggunakan panggilan video call. Sesaat kemudian tampak wajah dia dan Zahra di sana.
"Assalamualaikum, Kak Iya!" sapa Zahra dengan wajah berseri-seri.
"Waalaikumslam. Hei, kalian lagi apa berdua? dimana itu?" sahutku penuh selidik.
"Belom waktunya berduaan, Zo!" ingat Anyelir kepada sahabat kami.
"Yeah, kita lagi prewed keles. Gue di Bali ini. Lo di rumah Ayah, Ka?" sahut Zoan dengan penasaran dan aku menganggukinya.
"Lo kenapa nggak bilang, kan gue jadi bisa tunda foto prewed ya!" Serunya dengan perasaan geram.
"Udeh, sekarang lo foto prewed yang bener. Biar cepet selesai, terus kemari. Zayyan udah nanyain lo terus tuh." ucapku dengan senyum mengembang.
"Uh, anak gue. Jadi kangen gue sama dia." sahutnya dengan wajah berbonar-binar.
"Buruan balik kesini sebelum dia berangkat ke tempat Kak Aryan!" seruku dan jelas membuat sepasang kekasih itu kaget.
"Kak, jangan bilang kalian kesini mau anter Zayyan!" seru Zahra dengan wajah yang tak bisa digambarkan dan aku mengangguk.
"Oke, sayang. Sekarang kita fotonya cepat. Terus selesai foto langsung berangkat ke Jakarta." ucap Zoan dengan semangat dan langsung mematikan panggilan yang masih berlangsung.
"Ish, si kupret ya!" geramku bersamaan dengan Anyelir, namun mendadak kami berdua tertawa sampai sakit perut.
***
Tak berapa lama Rakha menyusul ke gazebo dan langsung terlentang. Pahaku menjadi bantalan kepalanya. Dia terpejam, aku dan Anyelir hanya lempar pandang.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Anyelir sambil membelai kepala putra bungsuku.
"Ma, Mom, kalau Rakha pergi ninggalin kalian. Seperti Kak Zayyan pergi, apa kalian akan sesedih ditinggal kakak?" ucapnya membuatku dan Anyelir menoleh satu sama lain.
"Emang Rakha mau tinggalin kami? Sama seperti Kak Zayyan?" tanya Anyelir dengan memasang wajah sedih.
"Please, Mom. Don't cry! Aku nggak suka." ucapnya sambil bangkit dari tidur dan menangkup wajah Anyelir.
Rakha putraku itu sangat sensitif, sangat tak suka bila kesayangan mereka bersedih. Dia pula yang paling dewasa dalam berpikir dan bersikap, walau usia dia masih sangat remaja. Aku tersenyum melihat sikap anakku ke Anyelir.
__ADS_1
"Janji jangan tinggalin Mommy?" pinta Anyelir yang aku tahu itu tipuannya.
"Janji, Mom. Aku nggak akan pergi jauh dari kalian." ucapnya dan kemudin memeluk kami berdua bersamaan.