
Kami semua kini sudah berada di gazebo semua. Ayah yang meminta makan malam di luar. Ini baru namanya makan di luar ruangan tepatnya. Kehangatan makin terjalin satu sama lain. Anak-anak juga makin dekat dengan Opa dan Omanya. Bukan hanya keluargaku yang ada di sini, keluarga Zeyden dan Anyelir pun datang. Bahagia sekali aku melihat mereka bisa tertawa bersama, terlebih saat melihat Zeyden bermanja ria dengan sang Mama yang memang sudah lama tidak berjumpa. Walau sudah dewasa tapi di mata orang tua, kami masihlah anak-anak.
Aku hanya mampu memotret setiap momen indah yang tertangkap mataku dengan mengabadikannya lewat kamera ponsel. Saat sedang asyik membidik, tiba-tiba aku dipeluk dari belakang. Aroma parfum yang sangat aku kenali, membuat nyaman siapapun untuk terus berada disampingnya.
“Ka—ngen banget aku tuh!” serunya tanpa melepaskan pelukannya dan aku hanya menyunggingkan senyuman.
“Andai waktu itu tidak ada pemberitaan, mungkin aku nggak akan kehilangan kamu,” ucapnya membuat aku membalikkan badan dan mengelus pipinya.
“Yang berlalu biarkanlah berlalu. Sekarangkan aku sudah dihadapanmu, bahkan sedang kamu peluk mesra begini. Jika mereka melihatnya mereka akan memarahimu nanti!” sahutku dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirku.
“Apa kamu bahagia tinggal di pedesaan?” tanyanya dengan raut wajah yang sangat khawatir.
“I’m okay. We are very happy. Jauh dari wartawan dan pemberitaan yang sangat aku benci. Hidupku jauh lebih damai disana,” ujarku sambil memeluknya erat.
“Kenapa kamu kelihatan kurusan sih? Jaga kesehatanmu, kamu sakit aku khawatir loh!” lanjutku saat merasakan perbedaan pada diri lelaki yang tengah aku peluk.
“Ish, tahu dari mana kamu aku kurusan? Dan kenapa pula bahasa kita jadi baku gini sih?” gerutunya membuat aku tertawa sambil memukul lengannya pelan.
“Iya—ya, kenapa jadi baku gini sih! Jadi risih sendiri ya?” sahutku yang akhirnya sadar dengan bahasa baku yang kami berdua lakukan.
“Gimana kabarnya kantor? Besok ke sana ah!” ucapku masih saling memeluk dan lelaki itu mengelus kepalaku.
“Baik aja, mau bareng besok?” sahutnya dengan mendorong badanku sedikit.
“Lihat anak-anak dulu besok, takut nggak mau ditinggal.” sahutku dengan wajah bingung.
“Lepasin Ma—maku ya, Dad!” teriak Rakha berusaha melepaskan pelukan kami dan hal itu malah membuat kakak tersayangku makin mempererat pelukannya.
“Nanti dia nangis, Kak. Udahlah ngalah,” ucapku berusaha meloloskan diri dari pelukan namun tidak berhasil.
Rakha dan Kak Bryan merebutkan diriku sehingga kepalaku pusing dibuatnya. Aku ditarik kesana dan kesini, seperti layangan aku tuh. Teriak mereka berdua membuat telingaku sakit dan semua orangpun menjadi melihat kami. Zeyden melangkah mendekati kami bertiga dengan langkah yang terdengar setengah berlari.
“Stop. Daddy sama anak, sama-sama bikin Mamanya pusing itu. Lepasin sekarang juga!” tegas Zeyden sambil menangkap tubuhku yang hamper jatuh karena dilepas oleh mereka berdua.
“Kamu baik-baik aja, sayang!” serunya dengan wajah khawatir dan aku menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Aku pusing,” sahutku dan langsung di gendong Zeyden ala-ala bridestyle.
“Ma, maafin Rakha!” ucap si bungsu sambil mengikuti langkah Zeyden dari belakang.
Aku di taruh duduk dekat dengan Ayah dan Bunda, sehingga mereka tak lagi bisa menggangguku. Zeyden langsung memasang wajah dingin dan tatapan yang tajam. Rakha langsung bersimpuh di hadapan kami dan meminta maaf sambil menangis. Zeyden masih tidak membiarkan si bungsu mendekatiku. Gia yang merasa kasihan pada sang adik langsung mengajaknya bangun dari simpuhannya dan memeluknya.
Aku tidak tega sebenarnya, tapi tatapan Zeyden yang tak membiarkan aku membantu putraku. Sedih rasanya melihat si bungsu seperti itu. Kak Bryan pun meminta maaf kepadaku dan juga Zeyden. Tapi bukan Zeyden namanya jika langsung memaafkan kakak iparnya yang sudah membuat aku pusing. Semua jadi mengumpul di gazebo yang diduduki oleh kami berempat, beruntungnya keluarga Zeyden langsung mengajak kami makan.
“Makan yuk! Biar Priyankanya juga nggak pusing lagi!” ajak mama mertuaku dengan lembut.
“Zey, sudah jangan garang gitu. Kasihan cucuku!” seru papa mertuaku sambil memukul lengan putra sulungnya.
Kami pun makan dengan tentram dan sesekali terdengar canda tawa dari semuanya. Tapi tidak dengan Rakha. Wajahnya masih murung dan makanannya hanya diaduk-aduk. Aku menyenggol lengan Zeyden dan mengisyaratkan bahwa si bungsu sedang murung. Zeyden membuang nafasnya kasar dan mengeluarkan perkataan yang membuat aku kaget.
“De, kalo nggak mau di makan, taro. Kalo sakit jangan bilang Mama dan Papa ya!” celetuknya membuat semua orang shock. Seketika aku memukul lengan Zeyden dan dia mengaduh.
“Aduh!! Sakit, Ma!” protesnya dengan wajah tak sukanya.
“Tega bener kamu sama anak sih, Pa!” gerutuku dengan nada kesal.
“De, sini sama, Mama!” ucapku sambil melambaikan tangan kearahnya dan dia segera mendekat dengan membawa makanannya.
“Iya, lain kali jangan gitu ya!” sahutku dengan lembut dan mengelus kepalanya.
“Sekarang Ade makan ya! Jangan sakit, nanti siapa yang jagain Mama. Besok kan, Kak Zayyan udah mau pergi.” ucapku dan seketika dia melahap makanannya dengan cepat.
Keadaan sudah kembali damai, walau Kak Bryan dan Zeyden masih tak tegur sapa. Aku tahu mereka berdua gengsi untuk meminta maaf dan memaafkan. Biasa hanya satu orang kelemahan mereka untuk berbaikan. Yups, siapa lagi kalau bukan si kesayangan keluarga kami yaitu Zayyan. Si anak emas itu menghampiri keduanya dan duduk di tengah keduanya.
“Dad! Pa! Kalian mau sampai kapan diam seperti ini? Kalau kalian masih diam seperti ini rasanya Kak Zayyan mau berangkat sekarang juga deh, Daddy Ar, nggak akan mungkin diamin kakak,” ucapnya sambil memandang kedua orang yang dia sayangi secara bergantian.
“Kak, kita udah baikan kok!” seru keduanya bersamaan sambil berpelukan.
“Jangan bohongi kakak. Kakak tahu kalian hanya sesaat saja memaafkannya!” serunya dengan wajah sedih.
“Hayo loh, Daddy Bi, Papa! Kak Zayyan ngambek,” sambung Gara membuat suasana makin kelihatan runyam.
__ADS_1
“Diem sih, Kak Gara!” teriak Gia sambil mencubit lengan sang kakak.
Aku hanya tersenyum melihat akting anak-anakku, untuk membuat orang tua mereka akur lagi. Oh iya, kalau ditanya kemana anak Kak Bryan dan Anyelir. Dia berada di salah satu pesantren di Jawa Barat yang terkenal. Balik ke Zeyden dan kakakku, mereka akhirnya menghembuskan nafas kasar. Akhirnya mereka meminta maaf satu sama lain dan memeluk. Zayyan yang melihat itu pun tersenyum dan semua tertawa melihat kedua lelaki dewasa yang kena tipu anak kecil.
“Kenapa harus di nasihati anak-anak dulu sih! Baru baikan!” seru Ayah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Karena malam semakin larut kami pun masuk ke dalam rumah dan ke kamar masing-masing. Esok adalah hari dimana kami semua akan kembali beraktifitas seperti biasanya.
***
Pagi-pagi buta kaum adam di rumah Ayah, sudah menghilang. Seisi rumah kaget dan hanya aku yang santai malah melakukan aktifitas di dapur dengan memasak sarapan. Hanya aku yang santai memang, karena para lelaki itu pasti sedang jogging. Jadi buat apa hebohkan, aku selesai masak langsung kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap. Tak lupa aku menaruh baju ganti untuk suamiku tersayang di atas tempat tidur.
Setelah selesai bersiap, aku menuju kamar para bujangku dan merapikan kamar serta menyiapkan baju yang akan mereka pakai nanti. Kegiatan rutinku selesai maka aku langsung ke teras untuk menunggu mereka datang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.30 WIB, dimana sebentar lagi mereka akan sampai di rumah. Aku langsung masuk kembali mengambil minuman untuk semua kaum adam dan membawanya ke teras. Selang waktu lima menit, mereka telah muncul di depan pagar dan bergegas masuk saat melihatku di teras.
“Ma, you’re the best,” ucap Gara sambil meraih minuman yang ada di meja.
“Kok, Mama selalu tahu kapan kami balik dari jogging sih? Mama, selalu memperhatikan kami, aku akan rindu hal ini nanti disana,” ucap Zayyan membuat hatiku terenyuh.
Waktuku dengannya hanya hitungan jam kini. Tepat nanti tengah malam dia akan terbang ke London, menyusul sang Daddy. Aku sedih tapi tak mungkin juga aku menghalangi mimpi anakku. Hanya berusaha tegar di depan mereka walau sakit harus melepas kepergian salah satu anak kesayangan serta kebanggaanku.
“Kak, jangan ngomong gitu. Nanti Mama sedih!” timpal Rakha meraih minumnya.
Tiin.. Tiin..
Suara klakson membuat kami semua menoleh dan Anyelir bersama Gia berlari dari dalam rumah. Kedua wanita itu tersenyum saat berdiri di sampingku. Aku masih menelaah siapa gerangan tamu yang datang pagi-pagi. Hanya orang yang memiliki urusan penting untuk bisa datang ke rumah Ayah.
Sosok perempuan berhijab turun dari bangku depan dan disusul oleh sosok lelaki tengil dengan senyuman yang merekah. Aku langsung menepuk jidatku seketika, terlebih mereka berteriak memanggil si sulungku. Kami semua hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat hal itu.
“Daddy Zo!!” teriak semua anak lelakiku dan berhamburan kearahnya.
“Noh, sahabat tercinta lo datang, Ka!” ledek Anyelir sambil menyenggol lenganku.
“Sahabat lo juga ya!” sahutku dengan nada mengejek juga.
Gia pun berlari menghampiri Zoan dan Zahra. Dia langsung memeluk keduanya, aku hanya bisa memandang tingkah mereka semua. Ayah dan Papa mertuaku sudah masuk lebih dulu saat tahu siapa tamu yang datang. Aku langsung duduk di samping Zeyden begitupun dengan Anyelir di samping sang suami. Zahra menghampiri untuk mencium tangan kami satu persatu dan memberikan pelukan.
__ADS_1
Tak lama Zoan dan anak-anak yang kembali dari belakang mobil. Datang dengan membawa paper bag. Itulah kebiasaan kedua Z itu, mereka selalu memanjakan anak-anakku. Mereka membeli semua barang untuk kebahagiaan mereka. Rakha seketika membuka isi paper bag yang ada di tangannya tepat dihadapan aku dan Zeyden. Dua buah kemeja branded dengan warna biru langit, warna favorit si bungsu serta parfum dan tak lupa dua pasang sepatu.
“Makasih, Dad. I love You!” serunya tepat di hadapan Zeyden dan hal itu membuat suamiku tersayang memanyunkan bibirnya. Dia cemburu anaknya menyayangi sahabatku lebih dari pada dia.