
Tak terasa waktu semakin larut. Acara tersebut pun usai. Aku langsung menuju mobil dan baru membuka pintu suara dering teleponku berbunyi. Saat aku lihat tertera foto Zeyden yang ganteng disana.
"Ya sayang, kenapa?" tanyaku tanpa dosa.
"Kamu dimana? Kenapa sudah jam segini masih belum dirumah?" cerocosnya tanpa henti.
Astagfirullah, sudah jam sebelas lewat tiga puluh. Jelas saja Zeyden khawatir, aku dan calon anaknya tidak dirumah dari menjelang magrib. Saat acara tabligh akbar tadi aku memang meninggalkan ponselku dimobil tanpa sengaja.
"Didepan komplek sayang." ujarku pelan.
"Tunggu aku disana. Aku jemput kamu." ujarnya dan segera mematikan sambungan telepon itu.
Sepuluh menit aku menunggu kedatangan Zeyden di dalam mobil, sebenarnya aku ingin langsung pulang dengan menyetir sendiri. Tapi Zeyden meminta aku tetap menunggunya. Dalam kegelapan ada sosok yang menghampiriku dan mengetuk jendela mobil. Aku seger mengangkat kepala yang tadi aku taruh diatas setir mobil.
"Sudah datang toh orangnya." ucapku sambil menurunkan kaca mobil.
"Kenapa lama banget sih, Kak?" tanyaku bete.
__ADS_1
"Maaf ya sayang. Aku kan jalan kaki. Ya udah turun dan pindah ke sebelah sana." pintanya sambil memapah aku yang turun dari mobil.
Saat sudah di mobil aku menceritakan semua aktifitasku tanpa terlewatkan. Zeyden sesekali tersenyum manis yang buat aku diabetes.
***
"Yang kata Bunda, bulan depan di rumah kamu mau diadakan tujuh bulanan. Acaranya hari sabtu, jadi sepulang aku kerja kita langsung kesana ya." ujar Zeyden padaku dan aku mengangguk.
Aku berlalu memasuki kamar mandi. Sedangkan Zeyden langsung menuju lemari dan mengambil pakaian ganti. Zeyden langsung duduk diranjang sambil menyalakan laptop menunggu aku datang. Aku sudah selesai mandi, aku mengenakan baju tidur tangan pendek dengan celana panjang berwarna merah muda. Aku langsung menghampiri Zeyden dan menyandarkan kepalaku ke bahunya.
"Yang angkat tuh, hape kamu bunyi terus." ujar Zeyden tanpa menoleh, aku segera mengangkatnya
"Halo." sapaku ramah.
"Princess sayang kamu kapan ke Jakartanya? Jangan dekat-dekat acara ya. Bunda mau menghabiskan waktu sama kamu juga." cerocos Bunda tanpa menjawab sapaanku.
"Iya belum tahu, Bun. Iya kan harus nunggu jam kerjanya Kak Zey." sahutku bingung harus bagaimana.
__ADS_1
"Mana menantu Bunda. Biar Bunda yang bicara." pinta Bunda dan aku langsung memberikan ponselku pada Zeyden.
"Halo Bun. Apa kabar?" ucap Zeyden sangat ramah.
"Baik sayang. Kamu kapan ke Jakarta. Bunda mau kalian seminggu sebelum acara sudah disini ya." titah Bunda dan Zeyden menoleh ke arahku. Aku hanya mengangkat bahu.
"Zey, usahakan ya Bun. Kan Zey juga kerja. Semoga cuti Zey di acc." sahut Zeyden dengan wajah bingung.
"Kan kamu pemilik rumah sakitnya?" ujar Bunda yang membuat Zeyden mati kutu.
"Tapi kan Bun, aku disini tetap pegawai. Nggak ada seorang pun yang tahu kalo aku pemilik rumah sakit ini." jelas Zeyden.
"Baiklah terserah kalian. Bunda memang sudah tidak dibutuhkan lagi." rajuk Bunda pada menantu kesayangannya itu.
"Bun, bukan begitu maksud Zey. Tapi Zey usahakan seminggu sebelumnya sudah disana ya." rayu Zeyden pada mertua perempuannya dengan sangat manis. Bunda sudah tidak merajuk lagi.
"Zey, maafkan Bunda. Bunda kangen sama kalian. Maka dari itu Bunda mau kalian datang lebih awal. Hanya ini pinta Bunda sayang!" ujar Bunda dengan lemah lembut sebelum menutup teleponnya.
__ADS_1