Relung Langit

Relung Langit
Part 133


__ADS_3

Maafin Author ya kalo banyak typo dan kesalahan dalam penulisannya..


Betewe end de baswey..


Kesayangan aku semuanya. Bagaimana kabar kalian?? Semoga selalu baik-baik saja ya..


Sudah siap-siap lanjut ceritanya nggak??


Yuks..


1..


2..


3..


Mulai..


***


Sambungan telepon itu pun terputus karena apa yang dibahas sudah selesai. Perjalanan kami pun tak terasa sudah mendekati tujuan. Kami masih terus bercanda dan tertawa sampai tujuan. Setelah memarkir mobil kami menyusuri anak tangga. Setelah menelusuri anak tangga tersebut, Gia meminta memasuki kota mini yang ada di dekat floating market. Aku dan Zeyden membiarkannya memasuki tempat itu bersama adik-adiknya sedangkan kami berdua langsung menuju floating market untuk menikmati kuliner disana.


Gia, Gara dan Rakha membeli tiket sebelum memasuki kota mini tersebut. Di dalam kota mini tersebut tak ada tempat yang tidak mereka masuki. Berfoto dan banyak kegiatan lainnya yang mereka habiskan. Keseruan mereka menarik perhatian banyak orang dan sesekali ada anak kecil yang ingin berfoto dengan ketiganya.


“Kakak, mau foto bareng boleh nggak?” tanya sekelompok anak kecil dengan raut wajah yang menggemaskan dan membuat ketiganya bertanya-tanya.


“Tapi kami bukan artis, sayang!” sahut Gia dengan ramahnya dan itu membuat anak itu sedikit kecewa.


“Kakak bohong. Kemarin kakak-kakak ada di televisi kan.” Celetuk salah seorang anak laki-laki yang menggunakan topi berwarna hitam.


Ketiga anak keluarga Pradipta saling lempar pandangan. Mereka enggan berfoto tapi tidak mau melukai hati anak-anak itu. Maka disimpulkan mereka menerima tawaran itu.


“Baiklah, sini kita foto bersama. Tapi jangan bilang kami artis ya! Nanti banyak yang minta foto bareng, cukup kalian aja, gimana?” tawar Rakha dengan penuh semangat, karena ia tidak ingin merusak momen indah bersama kakaknya.


Anak-anak itu menganggukinya dan mereka semua langsung berfoto. Awalnya satu persatu berfoto dengan Gia, Gara dan Rakha, kemudian sampai pada titik berwefie ria. Tak lupa mereka membuat boomerang dengan gaya lucunya. Orang tua anak-anak itu hanya tersenyum ketika si kecilnya mulai tersenyum bahagia.


“Terima kasih ya, Nak. Sudah membuat anak-anak kami tersebut bahagia.” Ujar salah seorang ibu kepada mereka bertiga sambil mengulurkan tangannya.


“Sama-sama, Bu. Kami senang bisa melihat tersenyum dan tertawa seperti itu. Itu juga membuat kami bahagia.” Sahut Gara dengan ramah dan membalas jabatan tangan ibu tersebut yang diikuti oleh kedua adiknya.


Kemudian mereka bertiga keluar dari kota mini dan segera bergabung dengan kami berdua. Tak lupa mereka bertiga berfoto di setiap tempat di floating market, tak ada yang terlewatkan sejengkal pun. Sesekali mereka saling bersikap jahil kepada satu sama lain menuju tempat kami berada. Tawa canda selama perjalanan mereka menjadi sorotan publik karena terlalu bahagia.


Mereka juga sempat menemani Gia menyewa pakaian korea. Makin cantik karena semua anak-anak hari ini tampil apa adanya tanpa menggunakan alat penyamaran mereka. Kecantikan dan ketampanan dari ketiganya itu pula yang membuat mereka menjadi perbincangan orang-orang. Untungnya sikap cuek membuat kenyamanan tersendiri dalam kondisi seperti ini. Saat Gara sedang membidik gaya Gia dengan ponsel sang adik, tiba-tiba sebuah pesan terpampang di layar utama.


Rohan


Lo dimana Gi? Gue baru sampai di parkiran floating market.


Anggia


Langsung ke tempat makanan aja. Kita lagi otw kesana.


Rohan


Baiklah.


Anggia


Ok


Gara tersenyum sendiri membalas pesan yang dikirim oleh Rohan. Iya, tahu teman sekelas adiknya itu menyukai kembarannya, hanya saja urusan hati dia tidak ingin ikut campur. Lagi pula pesan sang papa yang meminta anak-anaknya fokus belajar terlebih dahululah membuat mereka semua berpikir untuk tidak mengecewakannya. Gia yang belum tahu jika Rohan tiba masih asyik bercanda dengan adiknya.


Setengah jam mereka bertiga menikmati foto-foto di dekat tempat penyewaan baju hanbok. Setelah melepas baju tersebut mereka segera bergabung denganku dan Zeyden. Aku yang melihat mereka mulai mendekat segera melambaikan tangan untuk bergabung denganku.


“Laper!” manja Gia sambil bergelayut pada sang papa.


“Kak, ajak adik-adiknya beli makanan. Ini tukar uangnya dulu dengan koin di sana!” ujar Zeyden sambil menyerahkan beberapa uang serratus rupiah.


“Yuk, De!” ajak Gara pada kedua adiknya dan menuju loket penukaran uang dengan koin.


“Yank, makasih ya, udah buat mereka senang hari ini!” seruku sambil pindah duduk di sebelah suamiku tersayang.


“Iya, sayang. Semua aku lakukan demi kalian kok. Dan aku mohon jangan memendam apapun sendirian lagi ya!” ucap Zeyden yang hanya mampu aku angguki.


Aku menikmati masa-masa pacaran kami yang singkat selama anak-anak sedang membeli makanan kesukaan mereka masing-masing. Zeyden yang bersikap sangat romantis, walau hanya dengan menyuapiku makanan dan memberikan minuman. Hal itu mampu membuat aku makin cinta padanya. Kebersamaan dan keromantisan kami ternyata terlihat di mata anak-anak. Saat mereka menghampiri kami, senyum mereka sangat merekah membuat kami ikut tersenyum.


“Ma, Pa. Teruslah berbahagia ya!” ucap ketiganya bersamaan dan kami berdua hanya tersenyum tak mengerti.


“Kami bahagia, bila kalian bahagia. Jaga Mama baik-baik ya, Pa. Karena kami tidak selamanya berada di sampingnya!” seru Gara dengan mata berkaca-kaca.


“Ish, anak Mama ini kenapa ngomong gitu sih!” seruku dengan nada sangat tak suka akan perkataan Gara.


“Bukan gitu, Ma. Kami bertiga kan suatu saat akan pergi. Contohnya saja Kak Zayyan yang lebih dulu meninggalkan kalian. Nanti aku dan Gia akan pergi juga menggapai cita-cita kami di belahan dunia lain. Berlanjut dengan Rakha, mungkin kepergian kami silih berganti. Akan tetapi kami tetap harus pergi.” jelas Gara membuat aku sedih dan Zeyden hanya mengusap tanganku.


“Iya, tapi jangan ngomong gitu dong, kan Mama jadi sedih!” ucapku yang tak terasa air mataku keluar.


Seketika ketiga anakku juga Zeyden memelukku erat. Dan hal itu membuat orang-orang disekitar merasa iri. Saat kami masih berpelukan ada sosok yang memotret kebahagiaan itu. Segera dia bergabung dengan kami.

__ADS_1


“Permisi, boleh saya bergabung disini!” seru remaja dengan wajah yang cukup tampan dengan pakaian sangat santai. Berbalut baju kaos dengan jaket jeans dan juga celana jeans selutut.


Kami semua menatap ke arah sumber suara dan hal itu justru membuat Anggia lemas. Dia tidak bergerak sedikit pun saat melihat orang yang ada di hadapannya kini. Tidak percaya lelaki yang dihadapannya benar-benar akan menyusul dirinya sampai ke Lembang. Gara yang segera menghampiri lelaki tersebut mengajak duduk didekat dia dan Rakha. Sedangkan Gia memilih duduk di tengah-tengah aku dan Zeyden.


Masih dengan ketidak percayaannya akan sosok dihadapannya membuat Gia berkali-kali mengucek matanya. Kami yang melihat tingkah anehnya hanya tersenyum dan lelaki itupun tersenyum. Lelaki itu asyik berbincang dengan Rakha dan Gara sampai ia lupa mengenalkan dirinya, sebelum Zeyden menanyakan namanya.


“Maaf, namamu siapa, Nak!” ucap Zeyden ramah walau mungkin dalam hatinya hancur.


“Ah, maafkan saya, Om, Tante. Saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Rohan, teman sebangku Anggia dan teman Anggara juga.” Ucapnya dengan penuh kesopanan dan mengulurkan tangannya.


“Oh, yang tadi telepon Gia dalam perjalanan?” tanya Zeyden dengan nada proteknya keluar, namun tetap membalas jabatan tangan Rohan.


“Iya, Om.” Sahutnya tanpa gugup sedikit pun walau wajah Zeyden sudah berubah dingin dan datar.


“Pa, jangan gitu ah. Kita lagi seneng-seneng, biarkan dia bergabung. Toh, makin serukan banyak orang!” ucapku membuat Zeyden kembali menormalkan ekspresi wajahnya.


“Pa, Ma. Gia ijin bicara berdua sama Rohan ya!” ucap Gia yang sudah menarik-narik tangan Rohan untuk ikut dengannya.


Kami berdua hanya mengangguki permintaan putri kesayanganku. Gia dan Rohan pindah ke meja yang ada di depan kami, jaraknya hanya tiga meja dari tempat kami. Terlihat dari wajah Gia yang menahan kesalnya dia sedang mengintrograsi Rohan.


***


“Kamu ngapain sih pakai kesini segala!” ucap Gia dengan nada kesalnya.


“Ya, mau ketemu lo lah.” Sahutnya dengan wajah rupawannya dan itu membuat jantung Anggia berdetak kencang.


“Mau kamu apa?” tanya Gia to the point dan membuat Rohan membelalakkan matanya tak percaya akan pertanyaan yang dilontarkan wanita didepannya.


“Gue mau lo jadi pacar gue.” Tegasnya tanpa basa basi lagi dan membuat Gia kaget.


“Nggak bisa. Aku harus fokus belajar dulu, karena kedua orang tuaku tidak menyukainya.” Jelas Gia tanpa basa basi.


“Gue tunggu lo sampai kita lulus, akan tetapi selama itu biarkan gue kasih perhatian gue ke lo. Tapi lo siap jangan pergi setelah kita lulus sekolah ya!” ucap Rohan meminta pada Gia.


“Maksud kamu?” ucap Gia dengan raut wajah kebingungan.


“Jangan menjauh dari gue selama gue ngejar lo. Gimana?” ucap Rohan dengan senyuman manisnya.


“Terserah kamu aja!” ucap Gia sambil berlalu meninggalkan Rohan dan akan kembali bergabung.


Wajah Gia tersenyum saat dia berbalik badan dari Rohan. Gia berjalan menghampiri kami dengan tangan yang di gandeng oleh Rohan dan membuat anak perempuanku terus menatap lelaki di sebelahnya tanpa berkedip. Kami berempat hanya terpesona melihat pemandangan luar biasa itu.


“Om, Tante. Setelah lulus sekolah bolehkah saya melamar Gia lebih dahulu?” tanya Rohan kepadaku dan Zeyden.


Hal itu membuat kami kaget. Bagaimana mungkin seorang remaja SMA berani berkata lantang mengenai lamaran. Aku hanya menggenggam tangan Zeyden erat dan dia menatapku dalam-dalam. Dia tahu aku belum siap sama seperti dirinya, namun suatu saat hal itu akan terjadi juga. Saat kami berdua masih bengong, Gia sudah melepas gandengannya dan memukul lengan Rohan sampai dia mengaduh. Gaduhannya itu membuat kami tersenyum secara reflek.


“Duduk Kak Rohan.” Tawar Rakha pada Rohan yang masih berdiri di samping kakak perempuan satu-satunya itu.


Rohan duduk persis disamping Gia, dan putriku itu menampilkan wajah dinginnya saat lelaki yang menyayanginya duduk. Aku yang hanya menarik nafas dalam-dalam karena masih tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Zeyden hanya merangkulku dan mengusap punggungku dengan lembut.


“Semua keputusan ada pada Gia. Akan tetapi selama itu pula kamu harus mejaga kepercayaan kami berdua.” Ucap Zeyden berusaha bijaksana.


“Terima kasih, Om, Tante. Saya senang mendengarnya dan insya Allah, saya berusaha tidak mengecewakan kalian.” Ucap Rohan dengan tegas tanpa gugup sedikit pun.


“Eits, tunggu bro. Jangan senang dulu, kamu harus mengahadapi ketua kami bertiga dulu.” Ucap Gara membuat raut wajah Rohan sedikit pucat.


“Tenang, Kak. Dia baik kok.” Ucap Rakha menenangkan Rohan dan hal itu membuat aku juga Zeyden tersenyum melihat tingkah anak-anak.


Kami menikamati liburan ini sambil makan makanan favorit dan anak-anak beramin permainan air. Gara yang masih sibuk dengan ponselnya membuat kami berdua curiga. Tapi aku tahu pasti dia sedang main games online jadi tidak masalah untuk kami. Ternyata Gara bukan main games melainkan mengirim pesan kepada sang kakak.


Anggara


Kak, Gia ada melamar tadi. Tapi lamarannya baru terjadi selesai kami berdua selesai SMA.


Zayyan


Apa? Gila sekolah yang benar dulu.


Anggara


Dia baik, Kak. Aku dan Juna sudah berteman dengannya.


Zayyan


Serius?


Anggara


Yes. Apa kamu mendukungnya kak?


Zayyan


Aku mau jahilin mereka dulu. Gimana menurutmu?


Anggara


Aku setuju. Tapi jangan terlalu kejam ya Kak.

__ADS_1


Gara masih asyik membalas chat dengan sang kakak. Sedang kedua adiknya juga Rohan malah sibuk bermain dan berfoto ria. Aku juga Zeyden asyik menikmati masa pacaran kami lagi. Kami yang kadang tertawa melihat tingkah Gara yang senyam senyum sendiri membuat pemandangan yang lucu. Saat sedang asyik menyantap makanan kami di kagetkan oleh sosok yang pernah hadir dalam kehidupanku dahulu.


“Ya. Kalian disini juga!” serunya menepuk bahuku dan aku menoleh dengan melongo.


“Hai, Bran. Iya nih kami disini ajak anak-anak. Lo sendirian?” sahut Zeyden yang berusaha membuat situasi canggung jadi santai.


"Sama tim, cuma mereka udah balik duluan ke Jakarta. Betewe, boleh gabung nggak nih?" ucapnya membuat aku makin diam tak berkutik.


"Silakan." mendadak suaraku keluar tanpa aku suruh dan sontak membuat lelaki-lelaki itu menatapku.


"Eh, ada Om Gibran. Apa kabar Om?" ujar Gara yang sudah menaruh ponselnya dan segera mencium tangan Gibran.


"Baik, sayang. Mana adik-adik dan kakakmu?" balas Gibran sambil mengelus kepala Gara dengan penuh cinta.


"Masih mencintainya?" bisik Zeyden menggoda dan aku langsung mencubit perutnya sampai dia mengaduh.


"Auw.. Sakit, sayang!" teriaknya membuat Gara dan Gibran menoleh ke arah aku juga Zeyden.


"Papa kenapa?" tanya Gara dengan wajah cemas.


"Iya, lo kenapa Zey?" Gibran pun tak kalah panik setelah mendengar teriakan Zeyden.


"Ini, perutnya mendadak agak sakit." kilahnya membuat aku melotot ke arah suamiku.


"Om, om itu kenal sama orang tua Gara sejak kapan sih?" tanya Gara sontak membuat aku yang sedang minum tersedak.


"Uhuk.. Uhuk.." batukku tanpa henti dan membuat Zeyden menepuk-nepuk punggungku pelan.


"Nggak usah grogi." bisik Zeyden sedikit menenangkanku.


"Om, kenal sama mama kamu udah lama banget. Kalo sama papa kamu mah sejak ngurusin acara resepsi pernikahannya." jujur Gibran membuat Gara makin penasaran.


"Dulu mama gimana, om?" rasa penasaran Gara membuat aku membulatkan mata.


"Mama kamu itu nggak jauh beda sama kembaran kamu. Dia idola semua lelaki. Dan beruntung banget papa kamu bisa dapetin wanita seperti mama kamu ini." ujar Gibran membuat aku menatapnya dalam.


"Ish, lebay." gerutuku dengan nada sedikit sinis.


"Aish, Yank apa yang dibilang Gibran benar loh. Untungnya aku berhasil dapetin kamu sehingga memiliki anak-anak yang ganteng dan lucu-lucu. Andai waktu itu kamu memilih lelaki yang ninggalin kamu di hari pernikahan tanpa kabar. Mungkin kisah kita akan berbeda." ucap Zeyden sedikit menyindir lelaki di depannya.


"Kok gue ngerasa tersindir ya!" seru Gibran dengan wajah sedih yang dibuat-buat.


"Loh, kok om yang ngerasa tersindir? Emang om lelaki yang dimaksud papa ninggalin mama di hari pernikahannya? Bukan kan?" polosnya Gara menanyakan semua hal yang membuat kami bertiga diam.


"Eh, Bran. Lo ada acara apa sih di Bandung sini!" seruku mengalihkan pembicaraan dan berusaha menetralkan emosiku.


Gibran menceritakan tujuan dia ke Bandung. Kami bertiga asyik membicarakan hal seru lainnya. Bahkan Gibran mengajak Zeyden kerja sama membuat usaha bareng. Gara yang hanya mendengarkan percakapan kami, cuma bisa menunjukkannya lewat ekspresi wajah yang kebingungan.


Tak berapa lama Gia, Rakha dan Rohan bergabung bersama kami berempat. Ketiga anak-anak itu mencium tangan Gibran setelah menyapanya. Anak-anak malah asyik berbincang-bincang dengan lelaki yang baru bergabung itu.


Kami hanya diam saat kelima orang itu tiba-tiba bernyanyi dengan indahnya. Aku sudah memaafkan Gibran, tapi setiap kali melihatnya masih suka takut. Aku takut dalam hatiku masih ada sedikit rasa pasanya. Karena dia merupakan kekasih pertamaku dalam kehidupan yang nyata ini.


Aku mendengarkan mereka bernyanyi dan terkadang berbincang, hanya mampu menyandarkan kepalaku di bahu Zeyden. Suamiku terkadang suka takut dengan kedekatanku dan Gibran tapi aku selalu meyakinkannya bahwa hanya dia yang ada dalam relung kalbuku kini.


Percakapan demi percakapan antara anak-anak dan Gibran membuat kami berdua tersenyum. Bahagia pastinya, karena melihat senyum anak adalah kebahagiaan terbesar dalam hati orang tuanya. Zeyden sesekali mengelus kepalaku dan mencium puncak kepalaku. Aku sempat melihat raut wajah sedih juga cemburu yang tersirat dari mata Gibran saat Zeyden bersikap manis kepadaku. Namun, hal itu hanya sekejapan saja, karena dia buru-buru menetralkan emosinya.


Gia terlihat sesekali bergelayutan manja pada Gibran membuat aku ketakutan. Kadang aku mencuri pandang melirik ke arah Zeyden saat putriku bersikap manja bukan pada papanya.


"Cemburu?" lirihku namun mampu di dengar oleh suamiku tercinta.


"Sedikit. Tapi dia terlihat bahagia." sahutnya dengan nada sedih.


"Lalu?" ucapku dengan menggantungkan kalimat.


"Biarkan selama anak-anak bahagia." ucapnya dengan kembali membelai rambutku.


"Yakin?" ucapku dan dia malah merengkuhku masuk kedalam pelukannya.


"Dia menatap ke arah kita dengan tatapan cemburu!" bisik Zeyden yamg menaruh wajahnya kedalam pundakku.


"Biarkan. Asal jangan kamu. Kalo kamu cemburu, bisa bahaya akunya!" sahutku dan kemudian dia menciumi wajahku tanpa henti.


"Ish, kalian ini tidak ingat waktu ya. Masa bermesraan di depan umum. Terlebih depan kami para jomblo sih." ucap Gibran yang sontak membuat kami berdua melepas pelukan.


Zeyden yang kesal karena di ledekin oleh Gibran malah melempar tisu yang dia bulat-bulatkan ke wajah lelaki didepan kami. Semuanya tertawa melihat tingkah dua orang dewasa di sisi kami.


***


jangan lupa like, comment, share dan votenya ya sayang-sayangnya aq..


Lanjut nggak nih gaes.. kalo lanjut, votenya yang kenceng yes.. Biar akunya semangat nih..


okey..


okey guys..


lope.. lope.. lope.. untuk kesayangan aku semuanya..

__ADS_1


mmuuuaaaccchhh....


__ADS_2