
"Sayang, udah atuh intrograsi Gibrannya. Aku dan dia sudah move on. Emang mau kamu kami kembali mengenang masa-masa itu?" ujarku menghampiri suami dan mantanku.
"Maaf ya Bran. Gue nggak maksud!" serunya dan memdapat anggukan dari Gibran.
Aku dan Gibran memang tidak ingin siapapun tahu masalah yang pernah kami berdua hadapi dulu. Hal terpenting untuk kami berdua adalah saling memaafkan dan move on segera dari semuanya. Zeyden yang mulai mengerti pun mengalihkan ke pembicaraan lain, walau dihatinya mungkin masih banyak pertanyaan tentang hidup kami berdua dulu.
"Bran, gue mau ngasih surprise buat Kak Bi di hari spesialnya itu. Nanti gue ceritain lebih lanjut. Mending sekarang kita istirahat dulu ya. Lo tiduran di kamar tamu aja. Zayyan juga pasti udah tidur siang." ujar Zeyden menatapku dan aku membalas dengan anggukan.
"Oke. Gue juga lelah banget nih main sama anak kalian. Sumpah tuh anak aktif banget." serunya sambil kami bertiga beranjak ke dalam rumah.
Saat sampai didalam rumah kami bertiga berpisah, aku dan Zeyden masuk ke kamar utama disamping ruang tamu. Gibran langsung masuk ke ruang tamu yang bersebelahan dengan dapur.
***
__ADS_1
Aku duduk di kasur sedangkan Zeyden langsung duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya. Lelah, aku langsung merebahkan badan dan meninggalkan suamiku yang masih berkutik dengan pekerjaannya. Sedikit terbangun saat sebuah tangan menelusup dalam pinggangku. Aku segera membalikkan badan dan membalas pelukan Zeyden yang sudah berada di hadapanku.
Aku sandarkan kepalaku di dada bidang Zeyden. Sesekali dia mencium keningku, aku menatap wajah suamiku yang begitu menenangkan.
"Selamat istirahat sayang." ucapku sambil mengecup pipinya lalu terlelap bersama.
***
Tok.. Tok.. Tok..
"Zey.." kembali suara itu memanggil namaku dan Zeyden.
Aku dan Zeyden menggeliat lalu membuka mata. Aku menatap Zeyden dengan bingung. Kembali suara itu meneriakkan suara kami berdua hanya saja sedikit berbeda, karena terdengar suara tangisan Zayyan.
__ADS_1
"Zayyan!!" seru kami berdua sambil bergegas bangun dari tempat tidur.
Kami langsung meraih gagang pintu dan membukanya. Disana terlihat Gibran yang menggendong Zayyan, ya dia berusaha menenangkan Zayyan. Kami berdua hanya tersenyum melihat keadaan itu. Gibran tak sadar kami sedang memerhatikannya. Sama dia hendak mengetok pintu dan dia terkejut melihat kami berdua yang tengah menatapnya.
"Anak nangis, bonyoknya malah asyik ena-ena!" gerutu Gibran dengan muka betenya.
"Kalo ngomong ya dipikir." sahutku sambil menggetok keningnya sebelum mengambil alih menggendong Zayyan.
"Sakit Priyanka Pradipta Putria!" serunya sambil mengusap kening kepalanya dan aku langsung bersembunyi di balik badan Zeyden, saat Gibran hendak membalasku.
Zeyden hanya tertawa melihat aku dan Gibran bercanda layaknya kakak adik. Aku melihat tak ada lagi kecemburuan diwajah Zeyden seperti yang terlihat tadi di gazebo. Suamiku itu memang cepat banget mengatur emosinya. Itu salah satu kelebihannya yang sangat aku syukuri.
Akhirnya kami bertiga duduk di ruang keluarga, sambil memerhatikan Zayyan yang bermain. Zayyan sesekali berceloteh dan hanya di jawab oleh Gibran. Gibran bermain dengan Zayyan wajahnya sangat ceria tanpa beban. Aku beranjak sebentar untuk membuat camilan dan minuman untuk kami. Zayyan berjalan menghampiriku saat aku membawa nampan berisi makanan dan minuman.
__ADS_1
"Ma.. u.." ucapnya sambil memegang kakiku.
Aku hanya terpaku saat kakiku dipegangi oleh anakku tersayang. Zeyden menghampiriku dan langsung mengambil alih nampan yang aku bawa. Sedangkan aku langsung meraih tubuh pangeran kecilku dan menciumi pipinya yang gembul.