Relung Langit

Relung Langit
Part 57


__ADS_3

Hari pertunangan...


Semua orang sudah mulai menyiapkan diri. Sahabat-sahabatku ada disana semua, Anyelir, Zoan dan Siska. Ya waktu itu Priyanka masih baik-baik saja sama Siska. Mereka berempat mengenakan baju yang sama. Aku sudah empat kali bulak balik kamar mandi, kebiasaanku kalau tegang luar biasa seperti itu.


Semua seserahan sudah siap. Hanya tinggal hitung jam kami siap meluncur. Jarak antara rumah kami dan Naina cukup jauh. Naik mobil di tambah macet bisa mencapai dua sampai tiga jam. Aku tidak semobil dengan adikku, seperti permintaannya kemarin. Aku bisa saja meminta dia tapi dia tidak akan mau, terlebih hari ini dia tampil dengan sangat berbeda. Dia berdandan buruk rupa, sebel sih di acaraku dia bukan tampil cantik malah kebalikannya. Tapi apa dayaku, hanya mampu mengikuti keinginan princess kami semua.


Di tempat lain Naina sudah sangat cantik. Dia dan keluarganya sudah menunggu kehadiranku. Aku deg-degan, terlebih Aryan tidak hadir, biasanya dia yang selalu nenangin aku dikala aku nervous. Kali ini aku harus berusaha menenangkan diriku sendiri. Tak berapa lama kami pun sampai. Keluarga Naina sangat hangat saat menyambut kami semua. Disaat itu rasanya ingin aku menggandeng tangan Priyanka untuk menenangkanku, sayangnya dia terlalu jauh dariku.


"Ya Allah, kenapa deg-degan begini nggak ada kakak atau ade aku sih yang bisa ngebantu." batinku sedih.


Aku lihat sekilas kearah Priyanka, dia berusaha menenangku dari jauh. Dia menaik turunkan tangannya seakan menyuruhku mengatur nafas. Aku coba melakukan apa yang disuruhnya, ya sedikit lebih tenang. Terlebih senyuman adikku itu memberi semangat buatku. Kami melangkah masuk, dan tak lama kami dipersilahkan duduk.

__ADS_1


Om Zaid sebagai perwakilan keluargaku mengutarakan tujuan kehadiran kami semua ke kediaman mereka. Perwakilan keluarga Naina pun membalasnya. Jantungku berdegup sangat cepat saat Naina keluar dari persembunyiannya tadi. Aku makin nervous, dan keringat dingin mulai bercucuran.


"Nggak usah tegang, Kak. Aku ada di belakang kakak." bisik Priyanka sambil mengelus punggungku.


Aku sedikit lega saat adikku tersayang berada dekat denganku. Aku memang tidak bisa hidup jauh atau sekedar berbohong pada adik dan kakakku. Kami bertiga saling ketergantungan satu sama lain. Saat aku di persilahkan mengutarakan tujuanku, dengan gugup aku bangkit. Dan sebelum bangkit tanganku, aku kebelakangkan. Priyanka memegang tanganku seakan memberi kekuatan kepadaku.


"Tujuan saya datang kesini bersama keluarga, adalah untuk meminta ijin kepada om dan tante, untuk merestui saya sebagai calon suami putri kalian. Saya tahu, saya belum memiliki apapun, maka dari itu saya baru sanggup meminta Naina Al katiri menjadi tunangan saya, nanti jika saya sudah mampu berdiri dengan kaki saya sendiri. Saya akan langsung menikahinya." ujarku tanpa ragu sedetikpun.


Tak lama kemudian mereka saling tukar cincin. Semua orang mengucapkan selamat tapi tidak dengan adikku. Sedih rasanya, dia bersikap begitu padaku. Dia hanya memberikan dua jempol padaku dari jauh, aku membalasnya dengan senyuman. Setelah acara makan-makan selesai aku tak menemukan adikku itu. Diseluruh penjuru tak kutemukan, orang tuaku masih berbicara dengan orang tua Naina. Zoan, Anyelir dan Siska masih asik menikmati makanan.


Aku mendadak khawatir keberadaannya. Aku berusaha menelponnya tapi tidak aktif. Aku coba cari kedalam rumah Naina, mungkin dia ke toilet. Hasilnya masih sama nihil. Aku sudah putus asa, akhirnya kuberanikan diri bertanya pada sahabat adikku dan orang tua. Mereka semua bilang tak ada yang melihat Priyanka. Aku panik langsung menelpon kakakku.

__ADS_1


"Kak Ar, Iya sama lo nggak?" tanyaku dengan nada kepanikan.


"Lah kan gue lagi di rumah. Priya sama lo, gimana sih! Jangan bilang dia pergi tanpa pamit sama kalian." ucap Aryan dengan nada mulai khawatir.


"Iya, princess nggak ada disini. Sehabis ngasih jempol ke gue dia langsung hilang." ujarku dengan nada bersalah.


"Shit, udah lo telepon belom?" ujar Aryan marah.


"Udah tapi nggak aktif." sahutku dengan nada sedih.


"Ya udah gue cari dia ketempat biasanya. Lo pulang dari sana bareng sama temen-temen dia. Jangan sampe bareng Ayah Bunda." titah sanv Aryan dengan tegas tanpa ingin di bantah lalu ia mematikan teleponnya.

__ADS_1


__ADS_2