
Bukan Zeyden namanya jika tidak berpikir cepat. Dia langsung mengambil sapu tangan dan di basahkan dengan air, lalu dia taruh di kening putranya yang sedang aku gendong. Kami disuruh kembali ke kamar atau ke rumah sakit, tapi kami tidak mau meninggalkan acara besar kakakku.
"Cucu Opah kenapa ini?" tanya Ayah sambil memegang pipi Zayyan.
"Kembalilah ke kamar sayang, kasihan putramu." pinta Ayah dengan wajah sendunya namun aku menggelengkan kepala.
"Ya sudah, Ayah mau bicara sama kalian berdua, duduklah." ucap Ayah sambil menarik kursi untukku.
"Zeyden, Princessnya Ayah. Ini ada hadiah buat kalian berdua. Terimalah." ucap Ayah sambil mengeluarkan amplop putih dari kantong jasnya dan memberikan kepada Zeyden.
"Apa ini Yah!" seru kami berdua bersamaan.
"Bukalah sayang." pintanya.
__ADS_1
Zeyden membuka amplop itu secara perlahan dan aku hanya melihatnya. Dia pun mengeluarkan isi amplop itu, sungguh diluar dugaan. Didalamnya adalah tiket honeymoon selama dua minggu ke paris. Kami sangat senang tentunya, hanya saja putra kami sedang sakit.
"Pergilah sayang, biar Zayyan kami yang rawat." ujar Ayah dengan tepat seakan bisa menebak isi pikiran kami.
"Kau tenanglah Zey, aku akan meminta seorang perawat bekerja dirumah sampai Zayyan sembuh." lanjutnya saat Zeyden hendak membuka suaranya.
"Kenapa tidak Ayah berikan hadiah pada pengantin baru?" tanyaku sedikit penasaran.
"Hm.. Mereka juga sudah dapat sayang, mereka memilih keliling eropa dengan kapal pesiar." ucap Ayah sambil mengelus kepalaku.
"Pergilah Kak. Ada aku yang akan merawat putra kalian." seru Zahra dengan senyuman manisnya.
"Ada aku juga, dan yang lainnya." sahut Zoan dari belakang Zeyden.
__ADS_1
"Terima kasih semua." ujar aku dan Zeyden.
Tak terasa akhirnya acara pun telah usai, aku dan keluarga kecilku langsung pamit. Karena sudah tak tahan melihat Zayyan demam. Setelah dikamar, aku langsung ke kamar mandi dan melakukan ritual mandi. Sedangkan Zeyden di tempat tidur menemani putranya yang terlelap. Setengah jam kemudian, aku keluar dan bergantian dengan suamiku. Zeyden sempat-sempatnya mencium keningku sebelum dia masuk ke kamar mandi.
"Kebiasannya suami." gumamku sambil mengeringkan rambut dengan headryer.
Setelah rambutku kering aku langsung merebahkan badanku disamping Zayyan. Tak terasa aku ikut terlelap. Zeyden yang melihatku hanya mengecup kening aku dan putranya. Tak lama dia langsung merapikan bajuku dan dia ke dalam koper. Ya karena besok pagi kami harus segera berangkat.
Setelah semua beres ia kemas, dia langsung menyusulku juga Zayyan. Dia memelukku, itu dapat kurasakan saat tangan kekar berada di pinggangku.
Alarm ponselku berdering hebat, aku segera meraih dan melihatnya luar biasa sudah pukul tujuh. Ya, aku kesiangan karena terlalu lelah kemarin. Aku masuk kamar mandi dan melakukan ritual mandi lebih dulu. Setelah selesai ritualku, kukecup pipi dan kening Zeyden untuk membangunkannya. Dia mengeliat dan menarikku dalam pelukannya.
"Selamat pagi sayang!" serunya sambil mengecup kedua pipiku secara bergantian.
__ADS_1
"Pagi, bangunin Zayyan sayang! Lalu kalian berdua segera mandi." ucapku sambil melepaskan pelukan Zeyden dan mengecup putraku.
Zayyan pun bangun dan segera digendong oleh Zeyden ke kamar mandi. Ya, Zeydenlah yang bertugas memandikan Zayyan, aku memakaikan baju dan menyuapinya. Zeyden berusaha sedini mungkin hanya dia yang menemani putranya ke kamar mandi.