Relung Langit

Relung Langit
Part 160


__ADS_3

Kebahagiaan seakan memasuki babak baru untuk keluargaku. Semua sudah berada pada kesenangan masing-masing. Walau masih ada dua orang yang hidup sendirian, tapi aku tak memaksakan mereka.


Setiap orang tua akan selalu menginginkan kebahagiaan untuk anaknya. Tak ingin orang terkasihnya kurang mendapatkan cinta dan kasih sayang. Tak banyak pula orang tua yang membedakan anak yang satu dengan lainnya.


Anak juga memiliki perasaan yang harus di hargai, perbedaan hanya membuat mereka semakin menjauh. Tapi dekatkan mereka dengan cinta, perhatian dan kasih sayang yang sama besarnya tanpa kenal perbedaan atau perbandingan. Besar kecil tua muda berhak mendapatkan cinta dari kita.


Keutuhan akan sebuah keharmonisan dalam keluarga mungkin seribu satu yang akan terjalin di dunia. Tapi itu merupakan keinginan setiap insan di muka bumi ini dalam relung langitnya. Ikhlas dalam menghadapi setiap cobaan adalah salah satu kerikil untuk mencapai kebahagiaan.


***


Hari ini Zayyan memutuskan untuk honeymoon bersama sang isteri ke Paris. Banyu terpaksa di tinggal bersamaku, bahagia rasanya mendengar anak dan menantu sudah bisa mencintai. Perlahan kian pasti, ia mau membuka hatinya untuk Aleta. Sejak pernyataan cintanya itu ia tak pernah sedetik pun ingin jauh dari sang isteri.


Zayyan lebih posesif dari sang papa mengenai cinta. Pasangan itu enggan diantar oleh kami, ingin naik taksi online katanya. Hanya mampu menuruti semua keinginan mereka berdua. Saat kaki terhenti di pintu utama, aku merasakan bila seorang ibu harus rela berbagi cinta sang putra untuk wanita lain yaitu isterinya.


Iri, tidak aku bahagia melihat kebahagiaan yang menyelimuti diri putraku. Tugas seorang ibu ketika anak lelakinya menikah bukan berarti sudah selesai, melainkan bertambah. Untuk menegur dan menasihatinya ketika salah arah dalam membimbing keluarga kecilnya.


Menatap kepergian keduanya aku hanya bergelayut manja kepada Zeyden. Sebuah senyuman terukir indah di wajahku mengantarkan keberangkatan anak-anakku. Usai mobil yang di tumpangi mereka tak terlihat, kami semua masuk ke dalam.

__ADS_1


"Sayang, kita kapan honeymoon lagi?" goda Zeyden membuatku merah dan reflek mencubit pinggangnya.


"Auw, sakit sayang!" dia mengaduh dan aku hnya tersenyum.


"Masih aja genit, inget udah punya cucu." aku berlalu meninggalkannya di belakangku.


"Eh, emang kenapa kalo udah punya cucu? Masa honeymoon aja nggak bisa. Kakak ipar aja masih bisa masa kita nggak bisa?" ucapnya dengan wajar ditekuk yang sengaja dibuat-buat dan hal itu justru terlihat lucu.


"Sekarang mendingan kamu bantu anak-anak belajar sana. Aku mau beres-beres dapur dulu." pintaku tanpa menggubris perkataannya.


Wajah tampan suamiku ditekuk lagi dan sebelum beranjak ke dapur kulayangkan sebuah kecupan di rahang kokohnya. Dia yang kaget langsung memegang pipinya sedang aku langsung kabur meninggalkannya. Jika masih di sana bisa-bisa berakhir di kamar.


Kalau Zeyden yang menemani anak-anak, ketiganya akan bahagia. Dia selalu telaten mengajari mereka dengan kasih sayang, sedangkan aku geregetan sama mereka. Bagaimana tidak geregetan, jika setiap kali diajarin celoteh dan sikap mereka yang manis membuat aku ingin memakan pipi gembul ketiganya.


***


Rumah sepi karena sebagian penghuninya sedang berkelana. Gara pergi mengecek perusahaan di London selama seminggu ke depan. Rakha keliling Indonesia untuk survei lokasi yang akan dibuat restoran terbarunya. Sedangkan Gia harus menemani Rohan ke Bandung sidak ke rumah sakit di sana.

__ADS_1


Hanya aku, Zeyden dan si kecil yang menghiasi rumah. Berasa muda kembali menjaga, mengasuh dan membimbing anak-anak itu. Seakan kembali ke masa-masa di mana keempat anakku masih kecil. Di masa itu pula aku belum bisa membuat anak-anak bebas menjadi dirinya. Mereka masih harus menutupi jati diri karena tak ingin di manfaatkan oleh orang lain.


Masa-masa indah di mana butuh perjuangan akan cinta. Kini kami tinggal menikmatinya saja. Masa tua cukup membahagiakan dengan anak-anak yang sudah bisa dikatakan sukses. Berharap kebahagiaan ini tak kan luntur begitu juga dengan kebersamaan yang tumbuh dengan cinta kasih kepada sesama.


***


"Oma, sayang Banyu sama kayak Anra dan Rangga?" tanya anak lelaki dengan wajah pucatnya.


"Kenapa Banyu tanya gitu? Oma, Opa, Yanda, Bunda dan semua orang sayang banget sama Banyu." ucapku sambil menciumi wajah anak yang terlihat lemah itu.


"Oma, Banyu takut. Kalo Banyu ditinggalkan semua orang karena sakit ini!" lirihnya dengan air mata yang mengalir.


"Banyu, nggak boleh bicara seperti itu. Banyu kuat Banyu hebat. Anra sayang Banyu. Bukan begitu Rangga?" celetuk Amara memberi semangat untuk keponakannya.


"Rangga juga sayang Banyu. Jadi Banyu nggk boleh sedih lagi ya!" ucap Rangga sambil menghapus air mata Banyu.


Mereka berpelukan membuat aku terenyuh. Mencintai menyayangi adalah salah satu tujuan hidup kita. Kisah kasih yang selalu tercipta dari relung langit tak kan pernah bisa pupus. Biarkan cinta yang lalu masih ada cinta lain yang tulus di masa depan.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca novel ini yang masih tahap pembelajaran. Silahkan baca novel karya author yang lainnya. Ada Kisah 9 Bintang, Kepakan Separuh Sayap, Lengkungan Nada Samudera dan Tak Lekang Waktu.


__ADS_2