Relung Langit

Relung Langit
Part 25


__ADS_3

"Lepasin bro." Zoan mencoba melepaskan pelukan Gibran kepadaku.


"Biarin gue meluk dia sedikit lebih lama, An. Gue kangen sama dia, kemarin gue nggak bisa peluk dia." ujarnya dengan suara parau.


"Nggak bisa gitu, Bran. Dia bukan Priya yang lo tinggalin, dia seorang istri dari lelaki bernama Zeyden Thamrin. Dia klien lo, lo nggak bisa asal peluk gitu." ujar Zoan menyadarkan Gibran.


"Maaf.. Maafkan aku, Ka. Maafkan aku, my princess.. Sorry, sudah membuat kamu terluka." ujarnya sambil berlutut di hadapanku dan kemudian mencium kakiku.


"Bangun.." pintaku dengan lembut, tapi dia masih bersujud di kakiku.


"Bro, dia udah minta lo bangun, jangan sampe gue turun tangan." ancam Zoan dan kemudian dia bersimpuh di kakiku.


"Duduk dibangku Bran. Jangan bikin kita malu sama kelakuan lo." pinta Anyelir sambil membangunkannya.


Gibran pun bangun dari sujudnya dan duduk tepat dihadapanku. Air mataku rasanya ingin mengkhianatiku lagi, perlahan menetes. Segera kuseka saat Anyelir menatapku dengan tajam. Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini. Ingin rasanya aku mengakhiri diriku sendiri.


Gibran masih terdiam dan menunduk. Kami bertiga jadi bingung harus bersikap apa. Kesunyian terasa semakin mencekam, aku takut sesuatu akan terjadi. Aku takut jika suamiku atau keluargaku melihat keadaanku saat ini.

__ADS_1


Terlalu lama diam membuat aku bosan dan langsung mengajak kedua sahabatku untuk pulang. Baru berdiri dari bangku, tanganku sudah dipegangnya dengan erat. Aku mencoba menepisnya tapi terlalu kuat. Zoan yang melihat aku meringis kesakitan segara bertindak. Setelah cengkeraman itu terlepas, Zoan langsung merangkulku dan meninggalkannya sendirian.


***


Aku melewatkan makan malam bersama, di ruang keluarga. Aku tak melihat suamiku, segera aku masuk menuju kamarku. Disana aku melihat wajah suamiku agak merah, saat kudekati badannya cukup panas. Aku kaget mendapati suamiku sakit. Saat hendak keluar untuk mengambil air dan obat, aku ditarik kedalam pelukannya.


Sikap suamiku sangat aneh malam ini. Dia menerjangku sampai aku tak bisa berkutik. Seperti orang kesetanan, dia mencumbuku dengan sangat kasar. Aku meronta tapi apa dayaku, karena lelah aku hanya pasrah pada nasibku. Aku menangis dan ia tidak peduli dengan suara tangisku.


Malam itu aku resmi menjadi milik Zeyden seutuhnya, walau bukan berdasarkan kemauan hati kamj berdua. Aku menangis sepanjang malam dan suamiku terlelap disampingku. Aku hanya bingung ada apa dengan suamiku semalam. Kenapa dia bisa sampai seperti itu.


Kini aku terlelap setelah sholat subuh tadi. Suamiku mengecup keningku, sebelum dia pergi kerja. Aku bingung kenapa semua terjadi padaku. Kenapa Zeyden tega merampas keperawananku disaat aku belum siap.


***


"Pagi sayang." balas Bundaku sambil mencium pipi sahabatku.


"Princess kita mana Bun? Kok nggak keliatan." tanya sahabatku bingung karena aku tidak ada diantara mereka.

__ADS_1


"Masih tidur." sahut suamiku yang baru tiba disana.


"What? Si nyonya itu masih tidur? Sedangkan suaminya sudah siap mau berangkat." gerutunya dengan muka masam.


"Eh, nggak apa-apa deh dia masih tidur. Gue ada perlu sama lo, Kak Zey. Bisa ngobrol di depan sebentar?" ucapnya dengan santai.


"Baiklah, sekarang aja ya." ujarnya meninggalkan ruangan itu.


***


Zeyden dan Anyelir sudah berada di dekat kolam renang. Mereka duduk di bangku dan sempat diam.


"Gue mau bantuin kalian urus resepsi. Gimana kalo gue aja yang berhubungan dengan WOnya. Biar kalian nggak usah repot?" ujar Anyelir dengan senyum tipis.


"Hm.. Kenapa?" tanya Zeyden sedikit penasaran.


"Kalo lo berdua yang urus, kapan gue dapet ponakan. Jadi lo duduk santai, gue handle semuanya. Lo berdua tinggal dateng pas fitting baju atau liat dekor. Makanan gue yang cobain juga. Oke." Ujarnya dengan semangat dan Zeyden hanya menganggukkan kepala.

__ADS_1


Anyelirpun bahagia mendapat persetujuan dari Zeyden. Usaha dia buat menjauhkan Gibran dan Priyanka bisa berhasil. Dia tidak mau kalau aku kembali dekat dengan Gibran.


Anyelir sudah muak dengan kelakuan Gibran terdahulu.


__ADS_2