Relung Langit

Relung Langit
Part 67


__ADS_3

Semua sudah pulang. Sepi rasanya rumahku. Hanya bintang dan bulan yang hadir menemaniku. Zeyden sedang menidurkan Zayyan dikamar. Aku duduk di teras menatap bintang dalam kegelapan malam. Tak terasa air mataku mengalir, aku rindu Ayah dan Bunda. Sejak kemarin mereka berada di negeri orang sampai setengah tahun ke depan.


Aku tak biasa ditinggal lama dan bahkan menyebrang lautan seperti saat ini. Tak sadar jika dibelakangku sudah berdiri Zeyden dan perlahan dia memelukku serta menciumi puncak kepalaku.


"Kenapa sayang?" ujarnya masih memelukku dari belakang.


"Kangen Ayah dan Bunda." ujarku dengan suara parau dan Zeyden sudah didepanku kini.


Ia menghapus air mata yang mengalir membasahi pipiku, tak lupa dia mencium bekas jalan air mata itu. Aku tersenyum dan segera memeluk suamiku yang sangat tampan. Zeyden mengelus punggungku dengan lembut dan sesekali mengecup pipiku.


"Besok kita nginep di rumah Ayah ya. Aku anter kamu sebelum aku ke rumah sakit." ujar Zeyden dengan penuh perhatian dan aku hanya menganggukkan kepala.


"Sudah malam, kita tidur yuk. Kamu harus istirahat." ajak Zeyden sambil membawa tubuhku dalam pelukannya menuju kamar.

__ADS_1


***


Seperti yang Zeyden katakan dia mengantarku ke rumah Ayah, sebelum ia berangkat kerja. Rumah Ayah sangat sepi walau kedua kakakku tinggal disana. Jam 7 seperti ini mereka berdua masih asyik dikamar masing-masing. Setelah mengantarkan aku ke kamar, Zeyden langsung pamit untuk ke rumah sakit.


Aku bosan dirumah sebesar itu tanpa Bunda. Langkahku membawa Zayyan ke kamar bayi yang memang disiapkan Ayah untuk cucu tersayangnya. Kamar itu persis di sebelah ruang kerja Ayah. Zayyan kembali tidur dan kutaruh dia di kamar itu. Sedangkan aku ke ruang kerja Ayah untuk membaca buku-buku Ayah. Seperti biasa aku membacanya diruangan tersembunyi.


Ketika Aku sedang membaca kudengar suara pintu di buka. Kupikir itu Ayah, saat hendak keluar, terdengar langkah kaki yang makin mendekat. Suaranya tak asing bagiku.


"Jadi benaran suka Anye?" pertanyaan itu membuat aku shock saat mendengarnya.


"Kalo iya kenapa?" sahut seseorang dengan suara yang hampir sama.


"Berarti kita harus bersaing secara sehat untuk bisa mendapatkannya. Siapapun yang bisa mendapatkan hatinya, kelak harus mundur. Bagaimana?" perkataan itu membuat aku kecewa.

__ADS_1


"Kalian pikir sahabatku barang? Direbutkan seperti itu. Aku Priyanka Pradipta Putria melarang kalian berdua mendekati sahabat terbaikku." ucapku sambip melangkah dari ruangan tersembunyi.


"De, sejak kapan kamu disana? Kapan datang? Zayyan mana?" Tanya kedua kakakku bersamaan sambil celingak celinguk.


"Nggak usah mengalihkan pembicaraan deh Kak. Jangan dekati Anyelir satu langkah pun, atau aku yang akan maju membuat kalian tak bisa melakukan apapun." ujarku dengan wajah kesal serta mengancam kedua kakakku.


"De, jangan begitu. Aku beneran sayang sama Anyelir!" seru Kak Aryan sambil menggenggam tanganku.


"Sejak kapan Kak?" tanya aku dan Kak Bryan bersamaan.


"Entahlah. Aku hanya bahagia dan jantungku berdetak kencang saat dia ada dihadapanku. Rasa yang ada ini, berbeda saat aku sama Kaila dulu." jelas Kak Aryan dengan wajah memerah.


"Kak Bi sayang juga sama Anyelir?" tanyaku dan dia menggangguk pelan.

__ADS_1


"Kak, Anyelir sangat baik. Dia sahabat terbaikku, dia selalu ada dalam suka dukaku. Aku tak mau dia tersakiti, seperti aku yang tersakiti dulu. Anyelir, aku menyayanginya seperti saudaraku sendiri. Dan kalian adalah keluarga dan orang terpenting dalam hidupku. Aku sangat memohon pada kalian, jangan sakiti dia." ujarku memohon sambil duduk di bangku kerja Ayah.


__ADS_2