Relung Langit

Relung Langit
Part 130


__ADS_3

Di London


Zayyan yang tengah asyik menonton streaming film Indonesia. Dibuat kaget oleh pemberitaan mengenai keluarganya. Tanpa sadar dia langsung menuju kamar Aryan dan mengetuknya dengan keras. Pintu terbuka dengan tatapan Aryan yang kaget melihat kesayangannya dengan wajah yang pucat. Seketika dia memeluk putraku dan membawanya duduk di sofa ruang tengah. Zayyan hanya diam belum melahirkan dan dia hanya menunjuk ke arah laptop yang tengah menampilkan wajah keluarga besarnya.


Hal yang selama ini di tutupi oleh Aryan mau tidak mau terpaksa terungkap. Lelaki yang wajahnya tampan mirip Siddrath Gupta itu hanya tersenyum dan membuat anak lelakinya semakin bingung. Senyuman itu perlahan menular di wajah Zayyan, membuat Aryan bahagia karena mampu menenangkan anak lelaki di depannya.


“Tenang, sayang. Semua akan baik-baik saja. Tetap berdoa yang terbaik dan fokuslah pada kuliahmu!” seru Aryan dengan lembut kepada kesayangannya.


“Minum dulu, sayang!” ucap Sharma sambil menyerahkan air minum kepada Zayyan dan diambil serta diminumnya.


“Dad, Mom. Plis, ceritakan semuanya sama Zayyan. Jangan ada yang ditutupi.” Pinta Zayyan pada Sharma dan Aryan dengan tatapan sendu.


“Kami, belum bisa menceritakannya, karena belum dapat info apapun dari sana. Tapi Daddy janji begitu dapat kabar langsung berbagi denganmu.” Jujur Aryan sambil memeluk putra kesayangannya itu.


“Sekarang tidurlah, sayang. Kamu perlu istirahat.” Pinta Sharma pada Zayyan dan dianggukinya.


Zayyan langsung melangkahkan kakinya menuju kamar. Dia langsung membuka berita terkini dari internet mengenai info keluarganya. Saat membuka dari pencarian headline news tertera nama keluarganya. Dia membuka dan membacanya seketika air matanya mengalir dengan derasnya. Tak lagi ia mampu mengatasi rasa bersalahnya didalam hati. Rasa penyesalan begitu kuat menguasai dirinya saat ini.


Di ruang tengah Aryan dan Sharma hanya menatap laptop yang menayangkan informasi tentang keluarganya. Mereka tidak menyangka bila anak-anak keluarga Pradipta harus tampil di khalayak banyak karena sebuah fitnah dan hinaan. Aryan pun merasa tidak becus menjadi anak tertua untuk menghandle masalah ini. Dia sangat sedih yang terlihat dari wajahnya.


“Teleponlah mereka agar kamu tenang!” ujar Sharma pada suaminya dan berlalu meninggalkannya.


Aryan melangkahkan kakinya ke dalam kamar dan langsung meraih ponselnya. Segera dia menekan tomor telepon sang kembaran. Ia tidak mungkin meneleponku karena pasti aku akan menutupi segalanya. Lama panggilan itu tidak di angkatnya, mungkin sudah lima belas kali panggilan. Ini panggilan yang keenam belas, Aryan hanya berharap diangkatnya.


“Hm, ada apa, Kak!” nada bicara Bryan menunjukkan dia masih dalam tidur.


“Masih tidurkah?” suara Aryan terdengar sangat sendu.


“Aish, kenapa denganmu, Kak?” suara Bryan mendadak normal setelah mendengar nada kakaknya yang sedih.


“Nggak apa-apa!” serunya dengan sedikit berbohong.


“Hei, Kak. Jangan berbohong, kau tak bisa membohongi kembaranmu ini!” ucapnya dengan tegas dan ingin kakaknya jujur.


“Apa yang terjadi disana? Jelaskan tanpa terlewat sedikitpun sampai titik mereka diperkenalkan.” Ucap Aryan tak ingin adiknya membantah sedikitpun.


“Hufh. Pulanglah kalau mau dengar semuanya!” ledek Bryan pada kembarannya yang sejujurnya dia sudah kangen itu.


“Bi, nggak lucu ya!” serunya dengan nada sedikit tak suka akan ledekan sang adik.


“Okey, jadi gini, Kak..” ujar Bryan sambil kembali mengingat kejadian itu.


Flash Back On


Bryan yang sedang asyik mengobrol dirumah Priyanka mengenai masalah Gia. Sosok ibu yang menceritakan kisah anaknya dengan air mata terus mengalir. Bryan hanya mampu memeluk adik kesayangannya itu dengan penuh kasih mendengar cerita yang di tuturkannya. Saat sedang berbincang itu Zeyden hadir dengan membawa beberapa bukti lagi. Membuat kakak beradik itu kaget dan bengong seketika. Zeyden yang duduk di samping Priyanka langsung menaruh berkas ditangannya ke meja.


“Ini kita tahan dulu ya!” ucap Zeyden dengan menggapai cangkir berisi minuman milik sang isteri.


Suara dering telepon dari ponsel Bryan membuat kami membulatkan mata saat tertera nama sang putranya. Mereka bertiga saling lempar pandangan sebelum akhirnya Bryan mengangkat teleponnya.


“Dad, segera ke rumah sakit cabang milik Papa Zey, sekarang!” suara Arjuna dengan tergesa-gesa nan panik.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Bryan tak kalah paniknya.


“Jalan sekarang, Dad. Plis!” seru Arjuna dengan suara terengah-engah dan sambungan teleponnya mati.

__ADS_1


Wajah Bryan seketika panik dan jelas membuat sepasang suami isteri itu panik juga. Mereka langsung mengambil kunci mobil. Tanpa pikir panjang mereka menaiki mobil yang sama. Tak lama Gia pun menelpon dan menceritakan semuanya pada sang ibu. Makin membuat orang-orang dewasa itu khawatir tingkat dewa. Zeyden memacu kecepatannya dengan lumayan cepat karena takut hal buruk menimpa kesayangannya.


Masih lima belas menit lagi sampai di tujuan, lagi-lagi telepon Bryan berdering dan tertera nama sang raja kami disana. Seketika makin membuat ketegangan dalam mobil itu, Bryan langsung mengangkat teleponnya tak lupa menyalakan speakernya sesuai isyarat dari kedua orang di depannya.


“Datang ke rumah sakit adik iparmu dengan bawa para media ya! Aku sudah geram dengan semuanya.” Ucap lelaki tua yang masih terlihat gagah dan tampan itu dengan amarah tingkat dewa.


“Yah, are you okay!” seru Bryan dengan penuh kebingungan.


Tak ada jawaban lain dan segera mati teleponnya. Zeyden makin melaju kecepatan mobilnya diatas normal. Di mobil kami hanya diam memikirkan kejadian-kejadian buruknya. Tak lama dari telepon itu Gara menelpon Priyanka. Menceritakan semua yang terjadi dan seketika telepon pun terputus.


“Kenapa sih mereka semua hari ini seneng bener matiin telepon secara sepihak!” geramku dengan emosi yang meledak-ledak.


***


Ayah Mertua


Zey, nanti Ayah pinjam aula untuk konferensi pers. Sediakan meja dan bangku-bangku disana.


Zeyden


Baik, Yah.


Ayah Mertua


Jangan lupa telepon pengacaramu dan bawa bukti-bukti serta hasil pemeriksaan punya Gia.


Zeyden


Buat apa itu semua, Yah?


Ayah Mertua


Itu bukan Zeyden yang membalas pesannya tetapi Priyanka. Ketiga orang itu ada di dalam mobil kembali saling pandang dan tak mengerti kejadian apa sebenarnya. Priyanka langsung menelpon pengacara keluarga dan memberikan penjelasan singkat mengenai apa saja yang harus ia bawa ke rumah sakit.


Sesampai di rumah sakit Bryan langsung menghampiri ayahnya dan meminta penjelasannya. Ayahnya menjelaskan bahwa selepas dia keluar dari ruang rawat karyawannya dan menuju pintu keluar. Tepat di lorong depan ruang UGD dia melihat tiga sosok yang sangat familiar denganya. Lalu berniat menghampirinya, namun langkahnya terhenti saat sepasang suami isteri memukuli cucu perempuannya dengan kasar hingga bibirnya mengeluarkan darah. Sang cucu malah meminta di potret dengan luka di wajahnya.


Laki-laki paruh baya itu kembali melangkah mendekat dan mendengar cucunya meminta sang wanita untuk tidak kembali menyentuhnya atau dia akan menyesal. Tapi peringatan dari gadis cantik itu tak digubris oleh pasangan itu disertai beberapa gadis di belakang pasangan itu yang terus memantikkan api pertikaian. Langkahnya makin dipercepat hendak menolong sang cucu, namun terhenti sesampainya di depan pasangan itu.


“Selamat sore Pak Shailendra. Kebetulan anda disini bisakah kami berbincang dengan anda!” seru sang suami kepada Ayah.


“Sore Pak..” sapa Ayah namun terhenti karena ia lupa nama orang dihadapannya.


“Saya Pak Damar, manager di salah satu perusahaan anda.” Jelas lelaki bernama Damar itu dengan ramahnya.


“Okey Pak Damar dan Ibu Damar. Apa yang mau anda bicarakan.” Ucap Ayah dengan menahan amarahnya dan ingin mengetahui maksud dengan tujuan sepasang suami isteri itu sampai memukul cucunya.


“Begini, Pak. Gadis ini telah mendorong puteri kami hingga terluka dan sekarang masih belum sadarkan diri. Gadis ini cemburu karena kedua pria yang ada disana lebih memilih dekat dengan puteri saya. Jadi gadis itu tidak terima karena cemburu hingga mendorong anak saya dari tangga. Dia juga beberapa kali pernah mengguyur anak saya di kamar mandi sekolah sampai basah kuyub.” Jelasnya dengan nada penuh emosi yang menggebu-gebu.


“Anda serius tidak sedang mengada-ngada kan?” tanya Ayah dengan tegasnya.


“Saya serius, Pak. Mana mungkin saya berani bohong sama anda. Anak saya sudah masuk UGD masa saya berani bohongin anda, Pak!” tutur wanita itu dengan nada bicara yang menggebu-gebu.


“Hufh, baik kalo menurut anda benar. Maka saya akan atasi ini, dan pelaku harus dihukum seberat-beratnya tanpa ada penyelesaian secara kekeluargaan. Bagaimana menurut anda?” setelah membuang nafas kasar untuk menetralisir dan kemudian mengatakan keputusannya yang sangat mutlak tidak bisa diganggu gugat.


“Kami setuju, Pak. Beri hukuman yang berat pada pelaku jangan beri ampunan.” Celetuk sang pria sambil memeluk sang isterinya dan Ayah hanya tersenyum mendengar penuturan mereka.

__ADS_1


“Saya akan rekam pernyataan anda untuk menguatkan, apa anda bersedia mengulang perkataan kalian tadi bagaimana?” tawar Ayah dengan wajah sumringah karena akan mendapatkan ijin mutlak dari keluarga pelaku dan diangguki oleh keduanya. Ayah mengeluarkan ponselnya dan siap merekam semua percakapan orang itu.


“Beri hukuman yang berat pada pelaku jangan beri ampunan. Karena Gadis ini telah mendorong puteri kami hingga terluka dan sekarang masih belum sadarkan diri. Gadis ini cemburu karena kedua pria yang ada disana lebih memilih dekat dengan puteri saya. Jadi gadis itu tidak terima karena cemburu hingga mendorong anak saya dari tangga. Dia juga beberapa kali pernah mengguyur anak saya di kamar mandi sekolah sampai basah kuyub.” Ucapan kedua orang tua itu tanpa ada curiga sedikit pun.


“Apa kalian juga ingin mengatakan sesuatu tentang masalah ini?” tanya Ayah kepada kedua gadis remaja yang sedari tadi berdiri di belakang kedua orang tua.


“Hm, ada Pak. Gadis itu selalu menyakiti dan mengatakan hal-hal buruk kepada Shanti. Dan dia selalu mengancam jangan sentuh dia atau kami akan menanggung semua akibatnya. Gadis itu selalu mengatakan hal itu setiap kali kami hendak menyentuhnya.” Jujur kedua gadis itu dengan senyum jahatnya.


“Baik, nanti setelah dokter Zeyden hadir dan memeriksa Shanti, kita semua ke aula ya. kita selesaikan masalah ini.” Ujar Ayah dengan tegasnya dan disetujui oleh mereka semua.


Ayah undur diri untuk mendekati cucu-cucunya dan mereka semua hanya menyaksikannya tanpa curiga. Kesemua cucu-cucunya mencium tangan sang kakek dengan tulus dan di balas dengan usapan kepala yang lembut. Melihat sang cucu dengan luka di bibirnya yang terus mengeluarkan darah. Ayah meninggalkannya menuju lobby karena tak tega melihat kesayangannya terluka.


“Kalian cari perkara menyakiti cucuku.” Gerutu Ayah sambil melangkah menuju lobby.


Di lobby Ayah bertemu dengan Zeyden, Priyanka dan Bryan. Ia melihat menantunya itu sedang bicara pada satpam dan Priyanka setelah menyapa sang ayah langsung menghampiri anak-anaknya. Bryan langsung menanyakan semua yang terjadi dan seketika wajah ayah menceritakan kejadiannya dengan wajah sangar menahan emosi.


Sang putera kaget melihat perubahan wajah ayahnya yang tak pernah seperti saat ini. Ini pertama kalinya dia menampilkan raut muka yang mengerikan seakan siap melahap korbannya. Bryan yang sudah dewasa aja merasakan ketakutan luar biasa. Dia sempat meminta sang ayah untuk sabar dan mengontrol emosinya, akan tetapi tak mampu meredakan amarah yang sudah menggebu-gebu.


Kami semua melihat Zeyden memasuki ruang UGD untuk menangani langsung teman sekelas anaknya. Ayah semakin kesal melihat menantunya melakukan hal itu. Siapa yang tidak kesal bila anggotanya disakiti tapi masih memedulikan orang yang menyakiti.


“Zey, tuh kenapa harus bersikap baik gitu sih!” gerutu Ayah dengan nada kesalnya.


“Yah, kok ngomong gitu sih! Sejak kapan Ayah jadi kayak gini!” sahut Bryan dengan nada yang tak percaya


“Yah, mereka itu terlalu lembut hatinya. Ayah tahu hal itu bukan! Coba lihat cucu Ayah, Gia. Dia kuat walau dia sakit merasakan semuanya.”ujar Bryan tapi tak menyurutkan emosi lelaki paruh baya dihadapannya. Amarah benar-benar sudah menguasainya.


Satu jam Zeyden keluar dari ruangan UGD dan raut wajahnya biasa saja taka da sesuatu yang harus dikhawatirkan. Dia melangkah mendekat dan memeluk Priyanka. Kami semua hanya memerhatikan setiap gerakan sepasang suami isteri itu.


“Dia selamat, hanya masih belum sadarkan diri!” seru Zeyden kepada kami semua.


Gia terlihat lega tapi ada sesuatu yang tidak bisa diartikan dari raut wajahnya. Semua paham ada banyak hal yang sedang dia pikirkan, jika beberapa saat lagi ayahku akan membahas semua masalah yang ada. Anak perempuanku sangat sensitive perasaannya walau dia terlihat cuek dan angkuh. Pada dasarnya anak-anak itu semuanya memiliki hati yang sangat lembut.


“Ke aula sekarang!” titah Ayah dan kami semua melangkah mengikutinya. Terlihat sosok pengacara kami pun sudah disana.


Saat kami memasuki aula para wartawan sudah disana. Kami duduk menghimpit Ayah dan pengacara. Tak lama pengacara kami menjelaskan semuanya tapi terlihat raut wajah cemas saat melihat keluarga Shanti juga temannya. Anggia juga belum menampakkan diri di dekat kami. Dia pasti masih menenangkan diri di suatu tempat.


“Ya, mana Gia?” tanya Bryan dengan berbisik di telinga adiknya.


“Masih diluar!” sahut Priyanka dengan wajah sedih.


“Apa yang kamu pikirin, Ya?” tanya Bryan lembut kepada sang adik sambil menggenggam jemarinya.


“Gia meminta diselesaikan secara kekeluargaan, Kak. Tapi lihatlah wajah Ayah, itu tidak mungkin. Aku nggak berani memintanya pada Ayah.” Sahut Priyanka dengan kekhawatiran.


“Anak itu memang selalu memikirkan orang lain. Kamu juga benar, De. Ayah sudah tidak bisa diajak kompromi mengenai hal ini. Dia sudah marah besar, sepertinya pihak Shanti ngomong hal yang sangat-sangat Ayah benci. Kamu tahu Ayah akan marah ketika kesayangannya dihina dan difitnah. Kakak curiga hal itu yang disampaikan oleh pihak Shanti.” Tutur Bryan yang sudah berusaha menenangkan sang ayah tapi hasilnya nihil.


***


***Tinggalkan jejak kalian ya kesayangan aku..


Aku geregetan deh sama keluarga ini, apalagi sama Anggia.. lemah..


Aish.. jangan sesih masih ada yang nanti² loh..


btw.. jangan lupa likenya, vote, share dan commentnya..

__ADS_1


Semoga bisa up terus akunya***..


__ADS_2