Relung Langit

Relung Langit
Part 26


__ADS_3

Sejak Zeyden memberikan kuasa untuk menghandle persiapan acara resepsinya, Anyelir jadi sering berhubungan dengannya. Zeyden bukanlah tipe Anyelir, jadi untuk merebut suami sahabatnya tidak mungkin. Dan Zeyden sudah cinta mati dengan Priyanka.


Zeyden Thamrin


An, hari ini janji sama Gibran jam 12 di restoran deket rumah sakit gue. Jangan telat ya dan jangan kecewain kita.


Anyelir Paraditya


Siap bos. Widiw jangan ragu hambamu ini paduka.


Zeyden yang menerima balasan chat sahabat isterinya itu hanya tersenyum. Diapun berpikir betapa beruntung isterinya bisa mendapatkan sahabat seperti Anyelir. Walau dia belum kenal dekat dengan kedua sahabat isterinya, tapi dia yakin mereka berdua akan selalu ada dibarisan pertama untuk isterinya.


Pagi ini Zeyden masih harus kecewa kembali, setelah dia siap hendak berangkat kerja, aku masih terlelap dalam tidurnya. Sudah beberapa hari ia juga tidak pernah berbincang-bincang langsung denganku. Ia menghampiriku dan mengecup keningku.

__ADS_1


"Aku rindu ngobrol sama kamu sayang. Kamu kenapa sepertinya sedang menghindar dariku? Aku salah apa sama kamu?" ujarnya sambil membelai rambutku.


Aku yang mendengarnya sedikit tersentuh. Tapi aku masih kesal sama Zeyden, yang merampas mahkotaku tanpa ijin dariku. Aku juga tidak mau seperti ini, tapi apa dayaku.


"Sayang, aku berangkat ya. Oia, resepsi kita yang handle Anyelir dan Gibran. Anyelir nggak mau kita kecapekan." pamitnya dan membuat aku kaget mendengar kalimat terakhirnya.


Suamiku pergi dan aku segera meraih ponselku. Aku menekan nomer telepon sahabatku. Anyelir berhutang banyak cerita padaku.


"Hai beb. Kenapa?" ujarnya dengan lembut.


"Semua gue lakuin demi hubungan lo sama Zeyden lah. Masa demi gue, ngaco lo." sahutnya ceplas ceplos.


"Kenapa tiba-tiba?" tanyaku lagi dengan nada meninggi.

__ADS_1


"Apa karena Gibran WO-nya jadi lo takut gue dan dia.." tanyaku kembali dan terpotong.


"Iya, semua karena Gibran. Gue nggak mau dia kembali ngerusak lo lagi. Cukup dengan semua masalah yang udah lo hadapin sendirian. Lo nggak pernah ya, ngomong tinggi ke gue. Cuma karena lelaki brengsek itu, lo menaikkan nada tinggi saat ngomong sama gue. Jujur gue kecewa sama lo." ujarnya dengan nada yang cukup meninggi tak kalah tinggi denganku.


"Maaf, gue nggak mau lo ikut campur dengan masalah gue dan dia." ucapku lirih.


"Gue dan Zoan udah masuk ke masalah lo, sejak kejadian dia pergi. Sejak kejadian dimana lo depresi." ujarnya masih dengan nada meninggi.


"Gue, Zoan sayang sama lo. Tapi kayaknya cuma kita berdua yang peduli sama lo. Dan lo mana pernah peduli sama ketulusan kita." ujarnya membuat aku terdiam dan sedikit menitikkan air mata.


Aku sadar, aku salah. Mereka berdua adalah penyemangatku dikala keterpurukanku. Mereka yang membantu aku bangkit, selain keluargaku. Mereka tanpa pamrih mencintai dan menyayangiku layaknya saudara kandung. Kini aku membuat dia bersedih dengan kata-kataku.


Aku jahat banget sama Anyelir yang mampu membuat aku tertawa. Dia yang selalu ada disampingku kala aku berada di titik terbawahku. Ketika semua orang menjauh, dia justru berlati lebih dulu padaku.

__ADS_1


"Maafin gue beb. Maaf, gue salah. Gue ikhlas kamu menghandle acara gue. Gue ikhlas melepas dia untuk jauh dari hari-hari gue." ujarku dengan suara parau, karena air mataku sudah meleleh.


"Jangan nangis, gue nggak sanggup denger lo nangis." ujarnya mulai melembut.


__ADS_2