
Tak terasa waktu terus berjalan sangat cepat. Kedua saudara kembar itu kini sudah menyelesaikan ujian nasional tingkat SMA. Mereka memilih jurusan dan kampus yang berbeda. Aryan memilih kuliah di Indonesia mengambil jurusan manajemen sedangkan Bryan memilih kuliah di negara tetangga dengan jurusan pendidikan sangat berbeda jauh.
Setelah keterima dimasing-masing universitas tujuan mereka. Saat makan malam semua keluarga lengkap di meja makan termasuk si bontot. Perasaan takut menghantui Bryan, ia takut apa yang akan ia katakan tak akan disetujui oleh orang tuanya.
"My Bi. Kenapa kamu? Kok cemas gitu?" tanya Bunda yang dari tadi memperhatikan gelagat aneh anaknya.
"Hm.. Nggak apa-apa kok Bun." sahutnya dengan ragu-ragu.
"Kak Bi, tumben banget ragu-ragu gitu jawabnya. Ada sesuatu ya?" sindir Priyanka yang mengerti akan sikap kakak-kakaknya.
"Bun, Yah. Bi, mau ngomong serius boleh?" tanyanya sambil tangannya mengacak-acak makanan dengan sendoknya.
"Katakanlah Nak." seru Ayah dan bunda bersamaan.
Bryan menatap kembarannya dan ia hanya mendapatkan anggukkan kepala. Aryan seakan berkata katakan apa yang mau kamu katakan. Bryan sempat diam cukup lama sampai senggolan yang di buat oleh adiknya menghantarkan dia dengan kalimat yang sangat lancar.
"Bi, mau melamar Naina. Bi, sudah lulus SMA dan keterima di universitas yang Bi mau." ujarnya sangat lancar dan membuat kami semua bengong. Tak lama kemudian kami tertawa.
__ADS_1
"Kok tertawa sih!" serunya dengan wajah bete karena kata-katanya dianggap lucu.
"Lagian Kak Bi. Ngomong gitu aja susah banget. Giliran Iya senggol dikit lancar kaya kereta lewat." ledek Priya dengan tawa tak terhenti.
"Bi, kamu sudah dewasa. Lakukan apa yang kamu mau. Tapi tetap ingat pesan Ayah dan Bunda ya sayang." ujar Ayah dengan bijaksana.
"Kenalin ke kita dulu kali Kak." ujar Priyanka sambil menyuap nasi ke mulutnya.
"Secara langsung tidak bisa. Sesuai kesepakatan kita de. Kalo foto it's oke." sahut Kak Bryan dengan senyum nakalnya.
Bryan pun menunjukkan foto Naina ke keluarganya. Semua yang ada disana tersenyum bahagia. Pujian pun tak luput dari mereka semua. Priyanka bahagia karena semua kakaknya punya pasangan termasuk dirinya.
"Kalo Aryan sama Kaila mungkin datang. Tapi nggak tahu kalo Bi!" ujar Aryan sambil melirik adiknya.
"Bi, usahain bisa hadir. Tapi itu masih lama de. Yang penting itu kapan Bi dan Naina bisa tunangan?" ujarnya sedikit kesal dan semua tertawa.
"Tanya Kak Naina dululah Kak. Dia dan keluarga kapan bisa kita kunjungi." ujar Priyanka dengan memainkan alisnya.
__ADS_1
Setelah selesai makan semua berkumpul di ruang keluarga. Bryan langsung menelepon Naina memberitahukan niat baiknya. Telepon itu di loudspeaker oleh Bryan agar semua keluarganya bisa dengar. Namun ada permintaan Naina yang membuat semua orang kaget. Ia ingin ketemu dengan kakak dan adiknya Bryan terlebih dahulu.
Semua saling tatap, lalu kedua saudaranya itu sedang tidak dirumah itulah yang Bryan katakan. Telepon berubah menjadi video call, membuat Bryan gelagapan. Tapi Naina hanya bisa berjumpa dengan kedua orang tua Bryan saja. Priyanka dan Aryan bersembunyi agar tak ketahuan.
"Bi, mana kakak dan adikmu?" tanya Naina penasaran.
"Tidak dirumah." jawab Bryan sambil tersenyum untuk menutupi kegugupannya.
"Aku tahu Bi. Tapi boleh dong aku liat foto mereka?" pinta Naina sambil memohon.
"Belum saatnya Nai." sahut Bryan dengan lembut.
"Nai, sudah malam lebih baik kamu tidur ya! Besok kamu harus yang cantik loh." bujuk Bryan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah. Night Bi." ujarnya sambil mematikan teleponnya.
"Ya Allah, serasa mau mati gue. Harus nyembunyiin kalian. Mana nih anak nekat banget lagi. Terus besok gimana? Aryan udah dipastikan nggak ikut. Kalo lo gimana de?" ujar Bryan dengan muka masih pucat pasi.
__ADS_1
"Gue ikut. Tapi gue jauh-jauh dari lo ya Kak." ujar Priyanka dengan serius dan Bryan menganggukkan kepalanya.