Relung Langit

Relung Langit
Part 108


__ADS_3

Hari terus berganti, tahun pun berganti. Tak terasa kini sudah lima tahun berlalu. Zayyan sudah duduk di bangku taman kanak-kanak. Dia juga memiliki sepasang adik kembar. Anggara dan Anggia Thamrin Pradipta, usia mereka tiga tahun. Kakak kembarku juga sudah memiliki anak. Kak Aryan memiliki seorang putri cantik usianya sama dengan si kembarku, namanya Devika Sharma Pradipta. Sedangkan Kak Bryan memiliki anak laki-laki berusia empat tahun namanya Arjuna Rizkia Pradipta.


Mereka sangat rukun sama seperti kami dulu. Anak-anak kami pun tak pernah terpublis sampai detik ini. Ayah dan Bunda selalu pusing jika cucu-cucunya sudah berkumpul. Apalagi jika cucu perempuan mereka sudah berkomentar semuanya dibuat pusing. Walau masih berusia tiga tahun, anak-anak itu sudah dikatakan hampir lancar berbicara. Seperti hari ini kedua cucu perempuan Bunda memintanya mengajak jalan-jalan ke mall.


"Oma, ke mong yuk!" ucap Devika dengan lucunya.


"Iya itut ya Oma!" seru putri kecilku membuat gemas semua orang.


Anggia memiliki wajah yang sangat cantik, sedikit kebule-bulean. Hidungnya mirip sekali dengan Zeyden mancung, bukan hanya hidung tapi matanya juga. Bisa dikatakan Anggia adalah Zeyden serta Zayyan versi wanita. Sedangkan Anggara versi aku lelakinya. Bedanya Anggia memiliki pipi yang embul, itu yang membuat semuanya gemas pada dia.


"Iya angan ajak Oma. Ika, Oma sama akak Ayyan aja." celetuk Devika membuat Bunda mengerutkan keningnya.


"Apa Iya ndak oyeh itut Tak Ika?" tanya Anggia dengan wajah polosnya.


"Iya eyek, engeng ama popol." sahut Devika membuat wajah Anggia memerah seperti tomat.


"Semuanya Opa ajak jalan-jalan okey? Tapi seperti biasa, pakai perlengkapannya sekarang." seru Ayah menengahi perdebatan cucu perempuannya.


Semua cucunya mulai bersiap-siap dibantu oleh baby sitter masing-masing. Sedangkan aku memilih menggantikan baju semua anak-anakku sendirian. Ya, karena hanya aku yang tidak memiliki baby sitter. Karena aku hanya ingin menikmati hidup sebagai seorang ibu.


"Mah, apa aku juga harus kembali nyamar?" tanya Zayyan dengan wajah sedikit tak sukanya.

__ADS_1


"Apa Zayyan mau dandan biasa saja?" tanyaku dengan senyuman.


"Boleh?" tanyanya sedikit ragu-ragu dan aku menganggukkan kepalanya.


"Makasih Mah." serunya sambil mencium pipiku.


Zayyan langsung memilih baju kesukaannya dan membuat aku tersenyum. Si kembar pun sudah siap dengan pakaian sederhana namun tetap keren. Tak lama Zeyden masuk ke kamar dan langsung memelukku dari belakang. Anak-anak langsung memasang wajah tak suka.


"Pah, please don't touch my mom." celetuk Zayyan kesal sambil melepaskan pelukan Zeyden.


"Why baby?" tanya Zeyden sedikit bingung dengan sikap anak-anaknya yang mulai tak mengijinkannya dekat-dekat denganku.


"Siap yang bilang Papa mau ambil Mama dari kalian?" tanya Zeyden yang bingung mendengar jawaban dari putra sulungnya sedangkan aku hanya nyengir kuda.


"Daddy Ar dan Bi, juga Dad Zoan." sahut Zayyan begitu polosnya dan hal itu membuat Zeyden memerah.


"Apa? Kenapa mereka malah jadi kompor sih." gerutu Zeyden di telingaku.


"Sudah lepaskan dulu pelukan kamu, perlahan kamu jelasin sama mereka ya. Kalo yang dikatakan para daddynya itu benar." ujarku tertawa lalu mencium pipi suamiku.


"Mama.." teriak anak-anak serempak dan membuat aku membulatkan mata.

__ADS_1


"Mama, cayang Papa ndak cayang Iya, Tak Gala ama Tak Ayyan. Mama aat." celetuk Anggia sambil menangis.


"Siapa bilang Mama nggak sayang kalian? Mama sayang Papa, sayang Gia, sayang Kak Gara juga sayang Kak Zayyan. Kalian itu hidup Mama. Apa yang daddy bilang Papa mau ambil Mama dari kalian itu bohong. Papa juga sayang sama kalian sama kayak Mama sayang kalian." jelasku secara perlahan sambil mengusap air mata Anggia di pipinya.


"Betul itu Pa?" tanya Zayyan ke Zeyden dan di jawab dengan anggukan kepala.


"Daddy, siap-siap kami usilin." celetuk Zayyan kesal dan diangguki oleh kedua adiknya.


Aku dan Zeyden hanya tersenyum mendengar anak-anak kami mau ngerjain para daddynya. Siap-siap jebol rekening mereka semua. Siapa suruh selalu menjahili kepolosan anak-anakku. Kami semua sudah jalan ke mall, anak-anak semua satu mobil dengan Zoan yang dipanggil secara khusus oleh Kak Aryan.


Sesampainya di mall. Anak-anak semua mulai beraksi. Ketiga daddynya diajak jalan sana sini. meminta dibelikan ini itu, membuat ketiganya pusing. Ketiga orang itu pusing karena anak-anak itu kompak tak mau di jajanin sama Opanya juga Zeyden. Zoan tersenyum meringis melihat tingkah anak-anak. Dan kami para wanita dewasa langsung memilih ke restoran menunggu mereka semua berbelanja.


"Abis tuh ketiga lelaki itu dikerjain anak-anak, siapa suruh mereka usil." celetukku dan ketiga wanita di sekelilingku tertawa.


"Emang mereka isengin anak-anak kamu lagi ya?" tanya Bunda dengan wajah memerah karena tertawa terus dan aku menganggukkan kepala.


"Waduh, jebol deh tabungan mereka!" celetuk Anyelir dan juga Sharma.


"Seperti biasa." sahutku dengan santainya.


Tak berapa lama mereka semua kembali. Anak-anak dengan wajah sumringah, sedangkan daddynya wajah mereka sangat suram. Mereka semua membawa lebih dari sepuluh paperbag di tangan masing-masing lelaki dewasa itu. Kami para wanita hanya tertawa melihat pemandangan itu. Ternyata ngambeknya anak-anak kami jauh lebih seram dari ngambeknya para ibu.

__ADS_1


__ADS_2